Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (21)

Tukang Las Proyek Tol Bali Mandara Takut Masuk Penjara

08 Januari 2020, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tukang Las Proyek Tol Bali Mandara Takut Masuk Penjara

PENGELASAN: Dua tukang las di paket 3 proyek Tol Bali Mandara sedang menyelesaikan tugasnya. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Salah satu pekerjaan yang krusial dalam pembangunan Tol Bali Mandara (2011-2013) silam adalah pengelasan. Karena risiko akibat kesalahannya sangat besar dan tukang las bisa masuk penjara. Berikut ceritanya.

Crane pemukul yang berisi palu besar dengan kekuatan lebih dari 5 ton) tiba-tiba berhenti menumbuk tiang pancang di Paket 3 (simpang bandara Ngurah Rai - Interchange) tol Bali. Padahal, baru satu tiang sepanjang 12 meter yang dipasang. Crane kemudian mengambil satu tiang pancang sambungan. Lalu ditempelkan denga posisi berdiri di atas tiang pancang yang belum menyentuh titik keras tersebut. Ini terlihat sangat mudah dilakukan oleh operator crane pemukul tiang pancang.

Tukang Las Proyek Tol Bali Mandara Takut Masuk Penjara

TIANG TERAKHIR: Proses penyambungan tiang terakhir proyek Tol Bali Mandara. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Untuk memastikan tiang tegak lurus, digunakan waterpass yang ditempelkan tegak lurus di sisi tiang. Kedua ujung tiang pancang berbentuk silinder tersebut kemudian ditempelkan. Kedua ujung tiang pancang yang akan disambung tersebut memang sudah dibungkus baja. Di bagian sisi luar baja yang melingkari kedua ujung tiang pancang, dibuatkan miring. Ketika kedua ujung tiang pancang ditempelkan, maka akan berbentuk huruf “V” yang sambung-menyambung mengelilingi tiang pancang. Di sanalah tempat kawat las direkatkan yang menjadi “lem” kedua tiang.  

Anwar, 33, tukang las bersertifikat 3G asal Bekasi sudah siap dengan peralatan lengkapnya berdiri beberapa meter dari posisi titik tiang pancang. Dengan langkah pasti, dia mendekati tiang pancang berdiameter 60 cm dengan menenteng alat pengelasan berupa travo 400A. Sementara genset 60 KVA sudah menyala untuk menyalurkan energi listrik ke dalam travo. Juga ada CH2O biasanya dipakai untuk cutting saja.

Begitu tiba di dekat tiang pancang yang yang akan disambung, Anwar meletakkan semua peralatannya. Lalu dia jongkok dan memasang topeng khas tukang las. Tangan kanannya mengambil alat las lalu menyalakannya. Tangan kirinya dengan cekatan menyambar kawat las ukuran 3,2 milimeter. Sejurus kemudian, atraksi kembang api berkejaran keluar dari pertemuan alat dan kawat las yang ditempelkan pada sambungan tiang pancang.

Begitu kawat habis, Anwar kembali mengambil benda sejenis dari dalam kotak. Tangannya kembali memainkan kembang api dengan arah memutar mengeliling tiang pancang. Selesai satu putaran, Anwar sudah menghabiskan sekitar 20 batang kawat las diameter 3,2 milimeter. Waktu yang dihabiskan sekitar 15 menit. Tapi ini baru sepertiga pekerjaan penyambungan yang selesai. Setelah itu, Anwar kembali mengulangi pekerjaan serupa hingga satu putaran lagi dengan menghabiskan jumlah dan ukuran kawat las yang sama dengan putaran kedua. Ini pun belum selesai. Anwar harus melakukan satu putaran pengelasan lagi. Tapi, kali ini dia menggunakan kawat las berdiameter  4,0 milimeter. Pengelasan dilakukan dengan proses yang sama yakni memutar mengelilingi tiang pancang. Cuma, kali ini hanya melakukan satu kali putaran dengan menghabiskan 20 batang kawat las.  

“Total sekali nyambung kita butuh kawat las 3,8 kg,” kata Anwar begitu pekerjaannya selesai pada menit ke-45.

Untuk memastikan hasil pengelasan baik, kemudian dilakukan pengetesan oleh tenaga khusus yang berbeda. Alat yang digunakan adalah penetrant test. Bentuknya berupa tiga tabung kecil ukuran diameter sekitar 10 sentimeter, seperti cat semprot merek Pylox. Setiap tabung memiliki nomor 1; 2 dan 4; serta 3.
”Kalau ada bintik, itu berarti hasil pengelasan jelek. Keropos,” kata Afrizal, kepala peralatan paket 3 proyek JDP yang dikerjakan PT Hutama Karya.

Menurut Afrizal, dalam pengelasan tiang pancang, mereka tidak boleh salah. Sebab, kalau salah maka sudah pasti reject. Itu berarti, juru las harus out dari pekerjaan ini. ”Alhamdulillah kami tidak pernah salah. Kerja pengelasan ini harus hati-hati, penuh kecermatan,” jelas Agus, juru las lain yang berasal dari Jakarta. Agus sendiri sudah terbiasa menjadi juru las pada perusahaan asing.  

Setelah beres, crane kembali melakukan pemukulan terhadap tiang pancang yang sudah disambung. Jika sambungan pertama dan tiang pancang belum juga menemukan titik keras, Anwar kembali melakukan aksi dengan bunga api dari ujung alat lasnya. Ini juga berlaku untuk Agus dan Ahmda Musa, rekan Anwar di Paket 3.

Itu dilakukan terus menerus sepanjang hari. Maklum, setiap tukang las juga diberi target dalam mengerjakan tugasnya. Dalam sehari mereka harus bisa menyelesaikan pekerjaan di delapan titik. Di paket 3, ada 3.791 titik tiang pancang. Walau begitu, dalam kondisi tertentu seperti hujan dan air pasang yang terlalu lama, maka target yang tidak tercapai itu bisa ditoleransi. Seperti Anwar, dalam sehari minimal (artinya kondisi alam sedang jelek) dia bisa melahap 7 titik. Sedangkan kalau bagus, maka bisa sampai 14 titik.

”Kalau lewat dari 8 titik maka dapat bonus,” terang Afrizal.

Anwar mengaku baru kali ini menjadi juru las di jalan tol. Sebelumnya dia pernah mengelas dalam pembangunan PLTN di Abudabi pada tahun 2004-2005. Karena pembangunan tol sebagian besar berada di laut, maka ini juga menjadi tantangan tersendiri. Utamanya adalah tantangan alam. Seperti air pasang dan hujan. Kalau air pasang maksimal 30 sentimeter mereka masih bisa mentolerir. Tapi kalau lebih dari itu mereka lebih memilih beristirahat dulu. Pun demikian kalau hujan, dipastikan mereka berhenti bekerja. Sebab, kalau nekat maka mereka bisa tersetrum. Karena menggunakan las alias electrode. Di samping itu, ketika air laut pasang maka menentukan koordinatnya juga lebih susah.

”Mending kalau hujan dan air pasang berhenti kerja. Daripada hasilnya jelek. Kalau dipukul malah pecah, dan roboh, menimpa orang, dan mati. Kami malah masuk penjara. Kami tidak mau ini terjadi,” papar Anwar.

Untuk menjadi juru las ini sendiri tidak sembarangan. Anwar dkk harus memiliki bersertifikat khusus. Yakni sertifikat welder 3G yaitu pengelasan dalam posisi vertikal. Artinya, kalau memiliki sertifikat 3G, juru las ini juga bisa mengelas dalam posisi horisontal (welder 2G).

”Harus memiliki sertifikat. Kalau tidak punya, kami tolak,” tandas Afrizal.

Sebelum masuk, PT Hutama Karya menerapkan ketentuan yang cukup ketat. Juru las harus dites terlebih dulu. Kalau lulus, maka juru las ditanya berapa meminta gaji. Kalau cocok, maka langsung mengikat kontrak disertai beberapa ketentuan.

”Mereka profesional. Ketika lulus tes, kami tanya berapa minta gaji. Kalau cocok, langsung ikat kontrak,” tambahnya.

Di paket 3, ada tiga tukang las bersertifikat. Mereka adalah Anwar, 33, asal Bekasi. Ahmad Musa, dan Agus Saputra, keduanya asal Jakarta. Ketiganya sudah memiliki sertifikat welder 3G. Seperti Anwar yang mendapatkan sertifikat welder 3G dari Depnaker.

”Untuk mendapatkan sertifikat welder 3G, dites beberapa hal. Seperti pemotongan, pengelasan, grounding, dan cutting,” tukas Anwar.

Selama pengerjaan, mereka juga tidak bisa asal-asalan. Sebab HK juga menerapkan aturan ketat untuk para juru las ini. Kalau hasil jelek, otomatis kontrak diputus di tengah jalan. (*)

(bx/yes/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia