Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Anak-anak Tukang Suun di Peken Badung

Tak Sekolah Sejak Usia 10 Tahun, Kini Jadi Tukang Suun di Peken Badung

08 Januari 2020, 11: 40: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Sekolah Sejak Usia 10 Tahun, Kini Jadi Tukang Suun di Peken Badung

MENGAIS REJEKI: KA (kanan), salah satu tukang suun yang masih anak-anak saat ditemui di Pasar Badung, Denpasar. (NI MADE WIGRAYENI TRESNAYATI/BALI EXPRESS)

Share this      

Pasar Badung merupakan pasar terbesar di Bali. Pasar tradisional dengan konsep modern. Karena itu, banyak masyarakat yang menjadikan Pasar Badung sebagai tempat mengais rezeki. Salah satunya para tukang suun, yang dominan dijalani para kaum hawa.

 

NI MADE WIGRAYENI TRESNAYATI, Denpasar

 

PASAR tradisional seperti Pasar Badung adalah simbol ekonomi kerakyatan. Karena itu memperhatikan pasar tradisional, berarti melestarikan dan mengembangkan ekonomi rakyat. Pasar Badung yang merupakan pasar terbesar di Bali tidak pernah berhenti dari aktivitas perdagangan alias “tidak pernah tidur”. Tak heran, denyut nadi pasar ini juga sangat membutuhkan peran buruh pasar. Buruh pasar ini banyak dilakukan kaum perempuan yang sering disebut dengan tukang suun. Tidak hanya dilakukan kaum ibu-ibu, anak-anak perempuan pun ikut berperan sebagai tukang suun.

KA, 12, adalah salah satu di antara anak-anak yang melewati masa kecilnya dengan kerja keras sebagai tukang suun. Dirinya pun harus merelakan waktu bermainnya berkurang. Tentu menjadi tukang suun merupakan pilihan yang sulit bagi KA. Seandainya ada pilihan lain yang lebih mudah, barangkali dia akan meninggalkan pekerjaan berat tersebut.

Diceritakan KA, dia menjadi tukang suun karena ikut ibunya merantau ke Denpasar. Inilah yang membuat dia harus putus sekolah sejak umur 10 tahun. Terlebih sang ayah tercinta, telah meninggal dunia. Sehingga kini ibunya bekerja sebagai pembuat canang.

“Sudah lumayan lama, dari saya umur 10 tahun sudah ikut ibu ke Denpasar. Saya mulai kerja jam 4 sore sampai jam 10 malam paling larut. Biasanya saya junjung (suun) bisa empat sampai lima kali. Dikasih upah bisa Rp 5 ribu, atau kalau pelanggan baik dikasih Rp 10 ribu,” ujar gadis kecil berperawakan sedang ini.

KA yang bersama ibunya kos di daerah Jalan Gunung Agung ini mengaku, pekerjaan sebagai tukang suun dilakukannya karena keinginan sendiri, tidak dipaksa ibunya.

Keterlibatan perempuan sebagai tukang suun Pasar Badung untuk memberi perubahan pada kehidupan keluarga juga dilakukan Nengah, 47. Tukang suun lainnya yang berasal dari Tianyar, Karangasem. Perempuan paruh baya ini mengaku sudah cukup lama menjadi tukang suun, bahkan sebelum kebakaran Pasar Badung pada tahun 2016.

Diceritakan Nengah, dia dan suaminya memilih merantau ke Denpasar karena di desanya sangat sulit mencari pekerjaan. Pekerjaan di kampung halamannya hanya ke tegalan, yang penghasilannya tidak cukup untuk keperluan hidup sehari-hari. Karena itu, sampai di Denpasar, suaminya memilih bekerja sebagai buruh bangunan.

“Saya sama suami merantau ke Denpasar. Di kampung gak ada kerjaan, bingung juga kerja apa. Makanya beraniin diri ke Denpasar. Suami saya kan buruh umah (bangunan) upahnya juga gak seberapa. Saya bantu nambah-nambahin buat uang dapur, bayar kos, buat anak,” tuturnya Senin (6/1) kemarin.

Nengah sendiri mengaku memiliki dua anak. Anaknya yang pertama berumur 12 tahun yang saat ini putus sekolah, karena ikut dirinya dan suaminya merantau ke Denpasar. Sedangkan anak keduanya masih balita. Karena itu, ketika dirinya bekerja menjadi tukang suun, anaknya yang pertama bertugas menjaga adiknya.

“Biasanya saya mejunjungan bisa sampai delapan kali. Sekarang tukang suun banyak, jadi saingannya banyak. Biasanya kalau yang pakai jasa baik orangnya dikasih lebih. Tapi paling sering ya Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu sekali suun,” terangnya.

“Kalau saya kerja sore sampai malam, paginya ngurus kerjaan rumah. Kalau sore malam kan suami yang jaga anak-anak pulang meburuh,” imbuhnya. 

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia