Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features

Landri, Satu-satunya Perajin Tenun Bebali, Kini Berusia 91 Tahun

08 Januari 2020, 11: 51: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Landri, Satu-satunya Perajin Tenun Bebali, Kini Berusia 91 Tahun

NULAK: Ni Ketut Landri saat merapikan benang bahan dasar yang dipakai membuat kain tenun Bebali khas Desa Sembiran (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Usia senja seolah tak mampu memupuskan semangat Ni Ketut Landri, 91 tetap membuat kain yang menjadi pakaian khas Desa Sembiran, Tenun Bebali. Meski bisa dikatakan sudah lanjut usia kondisi fisik yang sudah renta, pendengaran serta pengelihatannya masih tajam. Kedua tangannya juga masih cekatan dalam menenun.

Landri mengaku menjadi perajin tenun sejak usia 17 tahun. Atau pada saat zaman penjajahan Jepang ke Indonesia. Semua berawal dari senang melihat perajin lain mengerjakan pembuatan kain.

Dirinya yang sama sekali tidak pernah mengenyam bangku sekolah mencoba mempraktikkan sendiri pembuatan kain tenun dirumah tanpa dibimbing serta hanya memakai peralatan seadanya.

Kedua orang tua yang pada waktu itu hanya bekerja sebagai seorang petani dan pembuat gula membuat hatinya ingin mengurangi beban ekonomi. Maka munculah ide untuk membuat serta menjual kain tenun bebalian yang nantinya bisa menghasilkan uang tambahan.

Kegiatan tersebut seakan sudah menjadi hobi yang sampai saat ini menjadi pekerjaan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Dulu saya tak pernah sekolah karena akses jalan masih jelek dan jarak yang jauh. Kemudian kondisi orang tua hanya sebagai petani juga pembuat gula, maka saya inisiatif untuk belajar di rumah membuat kain tenun bebali dan menjualnya sebagai tambahan,” ungkapnya.

Dia menceritakan kisahnya yang sejak masih muda sudah belajar mencari uang untuk membantu kedua orang tua. Sejak menginjak usia muda Landri senang membuat kain tenun bebali. Tak hanya itu. Dia juga satu-satunya perajin yang masih ada untuk melestarikan kain tenun bebalian tersebut.

Penghargaan juga sudah pernah diberikan dari Pangdam IX Udayana kepada dirinya atas peran sertanya dalam kegiatan lomba tenun dan pameran kerajinan pada tahun 2009.

“Satu hal yang saya dapat dalam hal ini hobi menenun saya berjalan uang saya dapat dan bisa menambah uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group)

Meski bisa dikatakan usia yang sudah cukup senja dia masih berkeinginan agar bisa menyalurkan bakatnya tersebut ke anak dan juga warga lain di sekitar. Dengan harapan agar nanti kerajinan kain tenun bebali tak punah dimakan zaman. Perempuan yang memiliki anak 12 tersebut juga berharap nantinya salah satu anaknya yang saat ini sudah mulai mengikuti jejaknya bisa meneruskan pembuatan kain bebali tersebut.

Selain itu untuk mewujudkan harapan Landri yang merupakan satu-satunya perajin yang masih ada di sana. Pemerintah Desa Sembiran kemudian merespons baik dengan mengadakan pelatihan pembuatan kain tenun tersebut dengan instrukturnya langsung yaitu Landri dan sang anak yang disambut antusias oleh warga lain dalam melakukan pelatihan.

“Di usia saya yang sudah mulai bertambah nanti harapannya bisa berbagi cara pembuatan kain tenun ini, dan anak saya bisa tetap melanjutkan kegiatan saya demi tetap adanya kain tenun bebali khas Sembiran,” tutupnya.

(bx/dar/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia