Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (23)

Dua Bulan Menghayal, Pemasangan Tiang Pancang Paket 3 Paling Cepat

10 Januari 2020, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dua Bulan Menghayal, Pemasangan Tiang Pancang Paket 3 Paling Cepat

FOTO UDARA: Foto udara paket 3 proyek Tol Bali Mandara di Teluk Benoa yang baru mencapai 50 persen pengerjaan. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Saat mendapatkan tantangan untuk menggarap jalan tol Bali yang kini diberi nama Tol Bali Mandara (2011-2013), beberapa kontraktor harus memutar otak untuk menyelesaikan pekerjaannya. Maklum, medan kerjanya adalah laut yang sangat dangkal. Kedalaman tiang pancang yang harus ditanam juga sulit diprediksi dengan kondisi lokasi berlumpur.

Senior Manager PT Hutama Karya Hutama, I Nyoman Sujaya, yang dipercaya memimpin pengerjaan Paket 3 atau dari simpang Bandara Ngurah Rai menuju Simpang Benoa di tengah lautan, mengaku semua yang dia kerjakan di luar prediksi. 

“Yang ada di pikiran saya ketika menyelesaikan proyek ini lautnya dalam sekali,” ujar I Nyoman Sujaya ditemui di posko Paket 3, Senin (3/12/2012).

Dia menyebutkan jika proyek jalan di tengah laut pada umumnya dengan kondisi laut yang dalam. Sehingga Ponton atau mesin pengerek dan penancap tiang pancang yang bentuknya seperti kapal tanker itu bisa bekerja dengan leluasa.

“Ternyata coba lihat ini, lautnya sangat dangkal sekali,” ujar Sujaya sambil menunjuk laut yang diuruk dengan material batu kapur.

Dengan kondisi laut yang cepat sekali dangkal, maka Sujaya yang bekerja di PT Hutama Karya (HK) dibuat pusing tujuh keliling.

“Yang ada di pikiran saya, lalu bagaimana caranya memindahkan tiang pancang dalam kondisi air surut, di satu sisi menancapkan tiang membutuhkan air yang tinggi untuk kinerja ponton,” kata Sujaya.

Kondisi air laut baik di paket 1 hingga paket 4 rata-rata sama saja kondisinya, yakni minim air.

Dia pun kemudian memilih menghayal dulu dipinggir laut dan di tengah laut dengan perahu sewaan nelayan.

“Ya, saya menghayal dulu selama dua bulanan. Jadi dua bulan kami belum bekerja. Tidak ada yang bekerja, baik paket satu hingga paket 3. Kami bengong dengan tipikal laut dangkal seperti ini,” ujar Sujaya.

Dari hasil menghayal dan memantau kondisi laut, dia mendapatkan input bahwa hanya ada waktu dua jam antara air pasang dan surut. Jadi dua jam pasang, lalu dua jam surut, begitu seterusnya. Dan kondisinya tidak beraturan,” ungkap pria kelahiran Singaraja, 3 Desember 1967, itu.

Kemudian muncullan ide, dimana pihaknya lantas memberlakukan sistem uruk dengan material batu kapur terhadap wilayah laut yang akan dijadikan jalan tol.

“Jadi di pinggir pemasangan tiang pancang itu, kami uruk dengan material (limestone), jadi bisa masuk untuk mengangkut material dengan mudah dan cepat,” ungkapnya.

Disebutkan jika cara seperti itu berbeda dengan pengerjaan paket lainnya. “Cara ini kami pikirkan sendiri. Untuk paket lainnya yang dikerjakan kontraktor lain beda lagi caranya,” jelas Sujaya.

Akhirnya setelah melakukan sistem pengurukan di tengah laut di sepanjang jalan tol, maka pihaknya pun memasang satu demi satu tiang pancang sejak 28 April hingga 6 Desember 2012 dini hari sekitar pukul 00.15 Wita. Atau sekitar tujuh bulan. “Akhirnya pengerjaan kami untuk pemasangan tiang pancang lebih cepat satu bulan dari jadwal yang ditentukan,” ujarnya menepuk dada.

Dan pemasangan tiang pancang di paket tiga sendiri lebih cepat juga dibandingkan dengan pemasangan tiang pancang di paket lainnya.

Adapun tiang pancang yang dipasang dengan prosentase laut 20 persen dan darat 80 persen. Dimana volume pengerjaannya dengan pemasangan 3.804 titik. Yang mana untuk keseluruhan titik itu memerlukan 8.800 tiang pancang dengan segala ukuran.

“Untuk satu titik itu bisa sampai dua atau tiga sambungan,” katanya.

Dengan kondisi air pasang dan surut tersebut, maka pihaknya pun berupaya menggarap pengerjaan proyek semaksimal mungkin dengan mengerahkan tenaga yang banyak. “Sebenarnya butuh seribu, tapi cuma dapat 800 orang,” katanya.

“Setelah dipasang tiang pancang, tinggal pengerjaan struktur. Pengerjaan pemasangan jalan raya ini lebih cepat dibandingkan memasang tiang pancang,” ungkap Sujaya yang juga Senior Manager Hutama Karya Persero itu. (*)

 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia