Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Politik

Ini Pidato Lengkap Perpisahan Dewa Palguna di MK yang Penuh Makna

10 Januari 2020, 10: 36: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Pidato Lengkap Perpisahan Dewa Palguna di MK yang Penuh Makna

I Dewa Gede Palguna (ISTIMEWA)

Share this      

I DEWA GEDE PALGUNA secara resmi purnatugas sebagai salah satu hakim Mahkamah Konstitusi, Selasa 7 Januari 2020. Salah satu putra terbaik Bali ini dua periode menjadi hakim di Mahkamah Konstitusi. Periode pertama 2003-2008. Kemudian periode kedua 2015-2020. Saat mengakhiri masa tugasnya, Dewa Palguna membuat sambutan yang sangat menyentuh dan sarat makna. Secara khusus dia mengucapkan terimakasih kepada office boys dan office  girls di kantornya. Berikuti kata-kata perpisahan I Dewa Gede Palguna secara lengkap.

FAREWELL SPEECH

I D.G.Palguna

“Let your life lightly dance on the edges of time like dew on the tip of a leaf”

(Biarkan hidupmu menari-nari ringan di tepian waktu bagaikan embun di ujung sehelai daun).

Rabindranath Tagore.

Yang Mulia Ketua Mahkamah Konstitusi, undangan, dan hadirin yang saya hormati; saya kutip ucapan Rabindranath Tagore, sastrawan besar India.Karena, ujaran indah pujangga non-Eropa pertama yang menerima penghargaan Nobel Sastra (1913)itu terasa ibarat cermin dalam merenungkan perjalanan hidup ini.Saya tak pernah membayangkan – bahkan dalam imajinasi yang paling liar sekalipun – bahwa saya akan berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat sebagai hakim konstitusi, apalagi sampai dua periode. Tetapi itulah yang terjadi tanpa saya pernah merencanakannya. Saya biarkan hidup mengalir begitu saja di setiap tepian waktu, kendatipun tidak menari-nari ringan seperti kata Tagore. Dalam aliran itu, pelajaran yang saya dapatkan adalah bahwa, dalam suka maupun duka, setiap detik waktu membisikkan makna dan kearifannya sendiri dalam menuntun hidup saya, meski tak selalu saya sadari.Ketika (dengan kondisi ekonomi terengah-engah) saya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 sebagai sarjana hukum, cita-cita saya sangat sederhana: menjadi dosen, ya hanya menjadi guru. Dan ituterjadi. Maka, ke sanalah saya akan kembali, ke habitat asal yang saya cintai: kampus. Bukan semata-mata karena “perintah” tak langsung Penjelasan Pasal 19 Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi, tetapi karena panggilan hati. Keberadaan saya di Mahkamah yang mulia ini, juga di MPR dahulu sebagai Utusan Daerah, senantiasa saya pahami dan perlakukan sebagai “pinjaman” dari kampus saya tercinta, Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Hadirin yang saya hormati; saya di lahir dan dibesarkan di sebuah kampung yang bernama Banjar Selatnyuhan, di Kabupaten Bangli – satu-satunya kabupaten di Bali yang bukan hanya tak punya laut tetapi juga salah satu kabupaten miskin, jika bukan yang paling miskin. Namun, semiskin-miskinnya, kami dianugerahi “kekayaan” berupa kearifan dalam menyikapi hidup dan sekaligus sebagai bekal hidup– sesuatu yang saya yakini juga merupakan kekayaan yang dimiliki daerah-daerah lain di negeri tercinta ini. Sebagaimana halnya setiap orang Bali, salah satu bekal hidup penting yang diberikan oleh orang tua kami, sebuah keluarga petani yang sangat bersahaja, adalah petuah pendek sederhana yang kerap ditembangkansebagai nyanyian pengantar tidur. Begini bunyinya:

Edá ngaden awak bisá

Depang anake ngadanin

Geninane buká nyampat

Anak sai tumbuh luhu

Ilang luhu ‘buke katah

Yadin ririh

Liyu enu pelajahin.

Kalau diterjemahkan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira artinya adalah sebagai berikut:

Jangan pernah mendaku dirimu bisa

Biarlah orang-orang yang menilai

(sebab) Ibarat pekerjaan menyapu

Sampah akan selalu tumbuh

Sampah hilang ada banyak debu

(maka) Meskipun engkau pintar

Masih banyak hal yang mesti engkau pelajari.

Betapapun saya berusaha untuk senantiasa setia kepada petuah itu, saya yakin kalau saya pernah melewati batas-batas yang digariskan oleh petuah itu. Karena itu, dalam kesempatan ini, saya hanya akan menyampaikan dua hal. Pertama, permohonan maaf. Kedua, ucapan terima kasih. Permohonan maaf saya tujukan kepada semua pihak yang bersentuhan dengan saya selama melaksanakan tugas di Mahkamah ini, mulai dari segenap pegawai (baik yang tetap maupun tidak tetap), segenap pejabat struktural dan fungsional di lingkungan Mahkamah Konstitusi, serta rekan-rekan sejawat Y.M, para Hakim Konstitusi, Bapak Wakil Ketua serta Bapak Ketua Mahkamah Konstitusi. Dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan, maafkanlah segala kesalahan dan kekhilafan saya, dalam ujaran maupun tingkah laku. Segala kesalahan dan kekhilafan itu pasti tidak saya sengaja. Jika kesalahan dan kekhilafan itu berkenaan dengan pelaksanaan tugas dan kewajiban saya sebagai hakim konstitusi, dan jika ini cukup membantu memudahkan pemberian maaf yang saya pintakan, maka dalam kesempatan ini saya tegaskan: dalam memberikan pendapat hukum terhadap setiap perkara, sejauh batas ingatan dan penilaian saya, tak pernah sekali pun saya memberikannya tanpa perasaan tulus – termasuk ketika pendapat hukum yang saya berikan itu mungkin tidak berterima di sebagian kalangan masyarakat, para cerdik pandai, dan/atau lembaga negara. Saya sepenuhnya bertanggung  jawab atas seluruh pendapat hukum yang saya berikan, baik pendapat hukum yang kemudian diterima sebagai putusan Mahkamah ini maupun pendapat hukum yang kemudian tak terhindarkan menjadikan saya berbeda pendapat dengan para sejawat sehingga saya harus menyatakan pendapat saya yang berbeda (dissenting opinions). Ini penting saya tekankan karena independensi, imparsialitas, dan akuntabilitas Mahkamah ini hanya akan terjaga (dan benar-benar terlihat terjaga) jika tiap-tiap hakim meyakininya dan dengan sekuat tenaga berusaha mewujudkannya dengan cara memberikan pendapat hukum yang tulus, lisan maupun tertulis. Neil Gorsuch, Hakim Agung Amerika Serikat, ketika ditanya oleh anggota Kongress dalam proses konfirmasinya sebagai calon hakim agung perihal bagaimana ia akan menjaga dirinya untuk tidak terpengaruh oleh politik dan pengaruh luar lain dalam membuat putusan, ia menjawab, “I have one client: it is the law.” Jika pertanyaan yang serupa diajukan kepada saya maka saya akan menjawab, “I have one master: it is the Konstitution, Undang-Undang Dasar 1945.” Jawaban itulah yang saya tuangkan ke dalam setiap pendapat hukum saya, lisan maupun tertulis, terhadap setiap perkara.

Kedua, ucapan terima kasih. Seperti halnya permohonan maaf saya, ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada segenap pegawai (baik yang tetap maupun tidak tetap), segenap pejabat struktural dan fungsional di lingkungan Mahkamah Konstitusi, serta rekan-rekan sejawat, Y.M, para Hakim Konstitusi, Bapak Wakil Ketua serta Bapak Ketua Mahkamah Konstitusi. Namun, tanpa mengurangi ketulusan ucapan terima kasih saya kepada pihak-pihak tadi, dikarenakan alasan yang lebih bersifat personal dan emosional, perkenankan secara khusus yang menyebut beberapa pihak. Pertama, para OB’s maupun OG’s – office boys dan office girls,yang setiap hari melayani saya: Jenjen, Entang, dan Alfin – sempat pula ada Puji; sekretaris saya: Iman Sujudi, ST, M.A.P., M.Si dan Hersinta Setiarini, S.H, M.H yang lima tahun membantu saya serta mantan sekretaris saya kandidat doktor Andi Hakim; serta “trio kompak” yang tak pernah satu kali pun mengeluh selama wara-wiri melayani saya: Hasyim (pengemudi saya), Hendrik (BM saya), dan Iptu I Made Sukarma, S.H., M.H. (ajudan saya) – mereka ini, bukan hanya kompalk dan tidak pernah mengeluh tetapi juga tidak pernah berselisih di antara mereka bertiga – hal yang sangat meringankan saya sebab seandainya mereka berselisih, saya pasti kesulitan menjumlahkannya.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada anak-anak saya: Nanda, Krishna, dan Ari. Terima kasih karena hingga saat ini kalian telah menjadi diri kalian sendiri, saling menyayangi dan tidak pernah menuntut macam-macam. Terakhir, saya sungguh berutang terima kasih kepada istri saya yang telah hampir 26 tahun menjadi teman hidup yang tabah namun jarang sekali saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Karena alasan keluarga,dalam lima tahun keberadaan saya di sini ia tak sampai 6 kali bisa memunculkan dirinya di Mahkamah Konstitusi sehingga, jika tak saya temani, sebagian besar pegawai Mahkamah Konstitusi sungguh-sungguh menghadapi kesulitan untuk mengidentifikasinya. Tanpa dia, hidup saya pasti akan sangat sangat berbeda.

Sementara itu, kepada Saudara saya, Hakim Konstitusi yang baru, Dr. Daniel Yusmick, saya, sebagai generasi yang lahir dari era kejayaan heavy metal, mengucapkan salam Guns n Roses, “Welcome to the Jungle.” Saya hanya “meminjam” judulnya saja dari lagu milik grup band asal Los Angeles ini. Sebab pesan dalam lirik lagu itu sangat berbeda dari salam yang hendak saya sampaikan Y.M. Hakim Konstitusi Dr. Daniel Yusmik. Dengan mengutip judul lagu itu, saya hendak mengatakan selamat datang ke Mahkamah yang menjadi tempat berlabuhnya belantara persoalan undang-undang ini – mulai dari persoalan politik yang gawat-gawat hingga persoalan ternak dan tumbuh-tumbuhan. Semua ada di sini, di Mahkamah Konstitusi. Sehingga, jika tak kuat, kita bisa tersesat di dalamnya. Oleh karena Yang Mulia lebih muda dari saya dan kita sama-sama bertolak dari kampus maka saya berani “memberitahu” satu hal penting ini: percayalah, tidak mudah untuk berpikir dan bersikap merdeka. Saya ingat film The Rainmaker yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan John Grisham – sarjana hukum yang sukses mentransformasikan keahliannya di bidang hukum ke dalam karya sastra, khususnya novel. Ada satu narasi dalam film itu yang mengatakan kurang-lebih seperti ini, “Di dunia hukum, ada satu batas yang tak boleh anda lewati. Jika anda terlalu sering melewatinya, batas itu akan selamanya hilang dan anda hanya akan menjadi bahan olok-olok.” Saya yakin, setiap lawyer atau hakim, setidaknya sekali dalam hidupnya, pernah berdiri dekat sekali dengan batas terlarang itu. Doa saya cuma satu: semoga anda tidak melewatinya.

Yang Mulia Bapak Ketua Mahkamah Konstitusi serta hadirin yang terhormat, perkenankan saya menutup salam perpisahan ini dengan sebuah puisi – meskipun saya ragu jika ia layak menyandang predikat puisi. Ia saya tulis di tengah malam di bulan Oktober 2004 dalam kerinduan yang tiba-tiba datang menyeruak untuk orang-orang yang saya sayangi, terutama almarhum kedua orang tua saya. Puisi ini saya beri judul “Guruku.” Sekadar catatan tambahan, “Guru” dalam filosofi hidup orang Bali mengandung empat pengertian. Kami menyebutnya Catur Guru – yang wajib kami hormati. Pertama, guru rupaká, dia adalah orang tua yang secara biologis menjadikan kita ada. Kedua, guru pengajian, di adalah guru kita di sekolah (formal maupun informal). Ketiga, guru wisesá, dia adalah pemerintah atau para pemimpin kita. Keempat, guruswadyaya, Ia tiada lain adalah Tuhan Yang Mahakuasa.

GURUKU (2)

Guru

Setiap rinduku padamu menggunung

Tak kujumpa alasan tak mengutuk diri

Sebab mata yang kau beri

tak membuatku awas

Sebab tangan yang kau beri

tak membuatku terampil

Sebab kaki yang kau beri

tak membuatku tegar

Sebab telinga yang kau beri

tak membuatku periksa

Bahkan

Jiwa yang kau beri

tak membuatku hidup

Maka

Bila saatnya aku datang

Kuingin engkau menyambutku

Seperti saat engkau ada

Tapi tak pernah kupahami

Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Sekian.

Terima kasih.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia