Minggu, 23 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Soroh Kera, Manusia dan Raksasa

Oleh: Made Adnyana Ole

11 Januari 2020, 17: 16: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Soroh Kera, Manusia dan Raksasa

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DI MASA kanak, saat nonton wayang Ramayana, saya hanya tahu empat soroh. Soroh raksasa, soroh bojog alias kera alias monyet, soroh kedis atau burung, dan soroh manusia. Jika cerita Ramayana diibaratkan terjadi pada dunia nyata di zaman modern ini, soroh apakah kita? Ya, jelas soroh manusia.

Tapi tunggu dulu, dalam cerita itu pihak yang sesungguhnya berperang adalah soroh bojog dengan soroh raksasa. Padahal soroh manusia-lah yang punya masalah. Soroh manusia berkonflik, dan soroh kera mengerahkan bala bantuan, dari kera kelas berat hingga kelas ringan, dari kera sakti hingga kera sakit-sakitan, dari kera ahli terbang hingga kera yang hanya bisa merayap di gorong-gorong. Sehingga pasukan kera yang kemudian berperang melawan raksasa. Soroh burung juga datang membantu, namun hanya beberapa adegan, lalu kalah.

Waktu kecil, saya lebih suka menonton wayang Ramayana ketimbang wayang Mahabharata. Saya suka, selain karena gamelan batel berdentam-dentam, dinamik dan penuh semangat, juga karena wayang Ramayana selalu lebih banyak menampilkan gaya-laku hewan, seperti kera dan burung itu, dan hanya sedikit menampilkan gaya-laku manusia. Maka, saya tahu, seorang dalang Ramayana, pastilah sedikit sekali punya koleksi soroh manusia. Yang banyak itu adalah soroh kera dan raksasa dengan segala gaya, versi dan bentuk.

Jadi, waktu kecil, saat menonton wayang Ramayana, saya selalu ngantuk jika tokoh yang keluar adalah soroh manusia. Dalam cerita itu, soroh manusia selalu digambarkan dengan amat baik, monoton, dan membosankan. Bentuk wayangnya juga begitu-begitu saja. Sebaliknya saya lebih semangat jika yang keluar soroh kera dan raksasa, apalagi soroh kera itu adalah soroh kera yang kere, atau soroh raksasa yang sok goblok tapi sok pintar. Gaya para kera dan raksasa itu selalu bervariasi, apalagi jika dalangnya amat cerdas dan penuh gagasan. Munculah kemudian kera bernyanyi selayak biduan, kera menggotong batu yang gaya lucu, atau raksasa botak dengan suara menggelegar tapi bodoh olog-olog pong.

Itulah awalnya saya mengenal kata soroh. Ketika mengenal kata soroh, yang melekat dalam ingatan saya hanya soroh kera dan raksasa. Saya biasa tertidur saat menonton wayang, namun kakek saya yang setia mengantar saya akan selalu membangunkan saya jika yang muncul di kelir adalaj soroh kera atau soroh raksasa. Saya selalu ingat kata kakek: “De, bangun, De! Soroh bojog sube pesu, soroh bojog pesu!”  Artinya, saya disuruh bangun dari tidur karena soroh kera sudah keluar di layar kelir.

Tapi kemudian saya mengenal kata soroh dalam perihal yang berbeda. Terutama saat hari-hari suci atau hari-hari baik untuk berupacara.  Kata soroh saya dengar ketika orang metanding atau membagikan banten di rumah atau di desa saat gelaran upacara agama. Saat membuat banten, saat menjajarkan banten di tempat upacara, kata soroh kerapkali keluar dari bibir para tetua. Misalnya, mengelompokkan banten sesuai dengan soroh. Jadi, banten pun ternyata punya soroh.

Teman saya, ahli lontar Sugi Lanus, pernah memberitahu saya lewat tulisannya bahwa kata soroh dalam bebantenan berarti satu kesatuan atau satu paket kelengkapan atau unsur-unsur yang terdapat dalam satu jenis atau fungsi banten sehingga memiliki makna atau tattwa tentang hukum penciptaan, pemelihaaan dan penyucian. Misalnya, jika menyebut banten pengambean satu soroh, artinya banten pengambean itu terdiri dari taledan, raka-raka jangkep (tebu, bantal, tape, pisang, jajan, buah), sampian pengambean, dua tumpeng putih, tipat pengambean, kojong perangkad, dua tulung pengambean berisi nasi, kacang, saur, maulam ayam dipanggang.

Begitu juga soroh dalam jenis bebantenan lain, seperti pejati, banten gebogan, banten soda, banten peras, banten dapetan dan sebagainya.

Jadi, untuk sementara saya mengenal kata soroh dalam dua kegiatan. Yakni saat menonton wayang Ramayana dan saat membagi-bagikan banten atau sarana upacara dalam upacara-upacara keaagamaan. Namun, ternyata, entah sejak kapan, kata soroh di Bali sangat populer untuk menyebut kelompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari satu kelompok keturunan. Dan, bagi saya, kata soroh dalam pengettian kelompok keturunan adalah pengertian yang sungguh-sungguh serius dan gawat. Kata soroh yang terucap di zaman modern ini sungguh-sungguh mengacaukan pikiran saya tentang cerita Ramayana yang menyenangkan atau pikiran saya tentang banten dalam upacara agama. Kata soroh yang dihubungkan dengan kelompok keturunan membuat saya harus belajar lagi tentang banyak hal, misalnya belajar tentang kawitan, dan itu sungguh membuat saya merasa bodoh.   

Apalagi, teman saya, Sugi Lanus, dalam satu tulisannya menyebut definisi kawitan itu beragam. Ada yang mengatakan leluhur yang pertama kali datang ke Bali atau lahir di Bali. Pendapat lainnya menyebutkan kawitan adalah yang berakar dari kata “wit” yang berarti asal mula, sehingga kawitan manusia dipahami sebagai Brahman atau Sang Hyang Widi Wasa.

Intinya kawitan adalah asal-usul atau asal-mula. Untuk mengetahui asal-usul tentu kita harus memahami unsur-unsur dasar yang berlaku dan diyakini oleh masyarakat Bali. Seperti garis sentana kepurusaan, nama-nama tunggak wareng (garis keturunan dalam 8 tingkat kelahiran), sejarah keluarga yang berhubungan dengan hak dan kewajiban leluhur di masa lalu dan saat ini, sejarah bali, tatanan masyarakat, agama di Bali dan lain sebagainya.

Jadi kata soroh di sini sesungguhnya bukan perbedaan derajat sosial, tetapi soroh adalah perbedaan kewajiban atau tugas hidup seseorang akibat adanya perbedaan panugrahan (anugerah) dari Sang Pencipta Ida Sang Hyang Widi. Anugerah Tuhan itu adalah taksu, keragaman soroh di Bali sebenarnya adalah keragaman taksu kehidupan yang dibawa seseorang sejak lahir.

Nah, saya sungguh-sungguh bingung. Apalagi beberapa hari ini kata soroh muncul juga dalam perdebatan sejumlah tokoh di media massa maupun di media sosial. Ada yang menuntut minta maaf atas ucapan seorang tokoh, ada juga yang membela diri dengan banyak alasan dan ulasan. Saya tak bisa membela siapa-siapa karena saya sendiri tak tahu soroh saya.

Seseorang pernah bertanya, “Kamu soroh apa?” Saya jawab: “Saya soroh mamalia!” Orang itu bertanya lagi: “Berarti sorohmu sama dengan kera, karena kera juga soroh mamalia!” Saya jawab: “Saya soroh mamalia yang berdiri dengan dua kaki. Itulah yang membedakan saya dengan kera!” (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia