Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (25)

Proyek Tol Bali Mandara Bikin Ngeri, Setelah Biasa malah Menikmati

12 Januari 2020, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Proyek Tol Bali Mandara Bikin Ngeri, Setelah Biasa malah Menikmati

PENULANGAN: Pekerjaan penulangan pada proyek Tol Bali Mandara. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Banyak pengalaman yang dirasakan para pekerja di proyek tol yang berada di atas perairan dangkal di kawasan Benoa - Bandara - Nusa Dua ini. Baik dalam bekerja maupun saat mengisi waktu senggang.

Untuk mengisi waktu senggang, beberapa pekerja memilih kegiatan yang membuat fresh. Ada yang memilih jalan-jalan dan menikmati Bali. Apalagi sebagian besar para pekerja ini baru pertama kali datang ke Bali. Seperti Memet Sarmadei, salah satu pekerja asal Purwakarta, Jawa Barat yang mengaku baru pertama kali datang di Bali.

Salah satu pekerja yang menggarap tiang beton setinggi 6 m dari posisi ujung tiang pancang pada bagian interchange di Paket 3 (Bandara Ngurah Rai), ini mengaku kegerahan saat baru datang ke Bali.

“Suhu di sini (Bali) panas,” ujar Memet, Jumat (1/2/2013). Dia menyatakan jika banyak rekan-rekannya yang kesemsem dengan Bali karena baru pertama kali bekerja di Pulau Seribu Pura ini. “Ada yang menyempatkan ke pantai Kuta. Tapi karena waktu kerja padat, jadi kalau mau ke tempat wisata mencuri waktu,” ungkap pria tamatan STM di Bandung itu.

Dia menjelaskan dari sekitar 45 orang pekerja untuk menggarap balok trider setinggi enam meter itu, ada beberapa rekannya yang baru tahu Bali dan ingin sekali tahu Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran ataupun Tanah Lot di Tabanan. “Kalau naik taksi, kami dari Benoa (mes pekerja) ke Kuta bayarnya Rp 50 ribu, jadi kalau berempat, bayarnya Rp 15 ribuan,” ungkapnya.

Dia pun mengaku baru mendengar ada bus Trans Sarbagita. “Nanti mau coba naik bus Sarbagita untuk naik ke GWK-nya,” terangnya dengan logat Sunda yang kental.

Di samping mengisi waktu luang untuk menikmati kawasan dan suasana Bali, mereka juga menyelinginya dengan memancing. Sang mandor , Ujang, sengaja membeli alat pancing untuk digunakan para pekerjanya yang suntuk atau yang kebagian tugas jaga malam di proyek. “Kebanyakan yang jaga malam yang pegang pancingnya, karena malam banyak ikan,” ujarnya.

Dia menerangkan jika umpan yang digunakan adalah udang kecil yang dibeli di pasar dengan harga Rp 2000 per kresek kecil. “Kalau pakai udang buatan, harganya Rp 75 ribu, tapi tidak perlu beli umpan basah lagi,” katanya. Ketika ikan yang mereka pancing dapat, maka akan ditampung dulu. Lalu jika pagi menjelang, ikan hasil tangkapan akan langsung disantap dengan cara dibakar dengan sisa kayu diproyek. “Biasanya yang banyak dapat ikan kakap,” terang pria yang mengaku bekerja dengan kontrak satu bulan bersama rekan pekerja lainnya itu.

Sementara itu, Nurdin, 41, salah satu operator alat berat di paket 3, mengaku gembira bisa kerja di proyek ini. Selain bisa menikmati Bali, dia mengaku mendapat pengalaman baru. Karena jalan tol yang dibangun di atas laut, baru ada di Bali. “Kalau bangun gedung, bangun jalan, saya sudah biasa mengerjakannya,” ujar Nurdin ditemui di sela-sela dia bekerja.

Pria asal Tegal Jawa Timur tersebut mengaku mengerjakan tol di atas laut memang baru pertama kali. “Tantangannya ini karena kerja di atas laut, kalau pas hujan atau pas airnya pasang, itu ya, awalnya mengerikan, tapi kalau sudah biasa, jadi terbiasa,” ungkap Nurdin yang sudah berada di proyek sejak Maret 2012.

Menurutnya untuk irama kerja, dia mengaku sudah biasa kerja lembur hingga malam hari. Namun yang membuat dia merasa baru adalah bekerja tengah malam di atas laut. “Semuanya serba pengalaman baru,” ujarnya dengan logat medok Tegal.

Di sela-sela kerjanya itu, Nurdin mengaku kerap ingat dengan keluarganya di rumah. “Saya selama 7 bulan kerja di luar rumah, tidak pernah pulang,” ujarnya. Hiburan yang dia lakukan selama berada di Bali terutama Kuta.  Selain bepergian jalan-jalan keliling Kuta, juga pergi ke tempat perbelanjaan untuk melepas lelah.

“Caranya hanya seperti itu. Kalau tidak ada kerja, paling-paling ya jalan-jalan sama teman-teman. Tapi lebih sering istirahatnya, karena habis kerja badan lelah sekali. Dan kita harus pikirkan kerjaan besok banyak, jadi waktu jalan-jalan sedikit,” ungkapnya.

Lalu untuk masalah komunikasi dengan keluarganya. Dia lebih sering telepon dengan HP-nya. “Keluarga sudah mengerti kalau beginilah cara saya kerja,” ujar pria dua anak itu. Yang jelas, rutinitas bulanan adalah menyetor uang bulanan selama hasil kerja berlangsung.

“Saya satu bulan dapat gaji (upah) sekitar Rp 2,5 juta. Kalau lembur bisa sampai Rp 3 juta, tergantung lemburnya berapa lama seharinya,” ungkapnya. Dari uang hasil dia mendapatkan upah itulah, dia pun kemudian menyisihkan uang bulananya untuk disetor kepada keluarganya di Tegal. “Itu sudah kewajiban, nyetor uang untuk keluarga. Jangan sampai lupa keluarga walaupun sibuk kerja,” ujarnya.

Yang paling penting, ketika bekerja dan lama meninggalkan keluarga adalah menjaga kepercayaan dengan keluarga terutama sang istri tercinta. “Asalkan kita jujur saja, jangan sampai macam-macam dirantauan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Usai menggarap pemancangan tiang di paket 3, mandor proyeknya pun tidak langsung mengizinkan dia pulang kampung untuk menemui keluarganya. “Habis kerja di sini (Bali), saya tidak pulang. Masih kerjakan proyek lagi di Cilacap,” jelasnya.

Dia bersama puluhan rekannya pun menggarap proyek pembangunan Pertamina di Cilacap. “Libur saya cuma pada saat Lebaran saja,” jelasnya menutup perbincangan.  (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia