Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Features

Tebing di Aliran Tukad Pakerisan Diukir, Bertema Maya Denawa

12 Januari 2020, 19: 11: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tebing di Aliran Tukad Pakerisan Diukir, Bertema Maya Denawa

UKIRAN : Ukiran sepanjang di 150 meter tebing aliran Tukad Pakerisan, Banjar Manukaya Anyar, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Minggu (12/1). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Dalam membangkitkan potensi wisata di masing-masing desa berbagai hal dapat dilakukan dan dikembangkan. Tentunya dengan mengedepankan ciri khas yang ada di setiap desa. Seperti di Banjar Manukaya Anyar, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, sepanjang 150 meter tebing areal hulu Tukad Pakerisan yang berbahan paras diukir mengambil cerita alam dan Maya Denawa.

Penggagas dibentuknya ukiran tersebut, I Wayan Wigunata,35,  menjelaskan rencananya tebing yang diukir sepanjang 500 meter. Namun yang selesai baru 150 meter, itu dilakukan sebagai mempercantik pemandangan jalur tracking dan jalur ATV yang akan dibuatnya. “ Saya buat ini di lingkungan Manuakya Anyar agar desa ini bangkit pada sektor pariwisata. Saya lihat potensi itu ada di sini,” jelasnya, Minggu (12/1).

Dalam kesempatan tersebut, ide membangkitkan desanya sendiri sudah ada sejak enam tahun yang lalu. Sehingga ia baru mulai bisa melakukan pembuatan ukiran di tebing itu sejak delapan bulan lalu dengan melibatkan sekitar enam tukang ukir lokal di desanya. “Ini sejenis relief, yang baru selesai sepanjang 150 meter dan rencana 500 meter yang lokasinya tepat di sepanjang hulu dari aliran Tukad Pakerisan,” bebernya.

Tinggi ukiran tebing tersebut, Lole nama panggilan akrabnya menyampaikan sekitar 10 meter. Prosesnya pun ia harus mengeruk tanah tebing tersebut menggunakan alat berat terlebih dahulu, supaya batu padas yang dapat diukir dapat ditemukan. Selain ukiran yang menceritakan berbagai kehidupan binatang di alam, dan bertema Maya Denawa ia mengaku akan membuat goa yang panjangnya mencapai 150 meter untuk jalur ATV nantinya.

Lole mengatakan dalam proses pembuatannya, ia sempat mengalami beberapa kendala. Bahkan dirinya mengaku kendala tersebut berupa sekala dan niskala. “Kendala sekala ya ada beberapa lahan warga yang tidak mau dikontrak, saya cari lagi lahan yang lain. Yang penting lahannya masih ada di kawasan Manukaya Anyar supaya tidak menimbulkan masalah nanti kalau sampai ke luar desa. Sedangkan gangguan niskala, sempat alat berat nyala sendiri paginya,  saat mau dipakai rusak, pokoknya suasana di aliran sungai ini sempat tidak nyaman saat pengukir bekerja,” ungkapnya.

Mengantisipasinya, Lole pun sempat menghaturkan beberapa pejati agar penunggu yang ada di sana tidak mengganggu dalam proses pembuatan ukiran tersebut. “Nanti bulan Februari ditargetkan akan selesai ukirannya, dan nama wahananya Gosek Adventure. Selain dapat menggali potensi desa, juga akan berpengaruh terhadap perekonomian warga sekitar. Mulai dari tenaga kerja hingga warung-warung yang ada lebih laku jadinya,” tandasnya.

Ia menambahkan, dirinya sendiri tidak berlatarbelakang pariwisata sejak kecil. Bahkan Lole pun sempat kuliah di salah satu universitas di Denpasar mengambil jurusan ekonomi namun tidak sampai tamat. Setelah itu ia mulai membuat kerajinan tangan, dan Gosek Adventure yang tengah dibuatnya saat ini.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia