Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Features

Durian “Ki Raja” asal Madenan Diburu Artis hingga Pangdam IX/Udayana

12 Januari 2020, 19: 30: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Durian “Ki Raja” asal Madenan Diburu Artis hingga Pangdam IX/Udayana

DURIAN KI RAJA: Pangdam IX/Udayana, Mayor Jenderal TNI Benny Susianto turun langsung ke Desa Madenan untuk berburu “Ki Raja” di tanah asalnya, Sabtu (11/1). (ISTIMEWA)

Share this      

Kontes durian yang digelar Pemkab Buleleng di akhir tahun 2019 nampaknya menjadi etalase bagi durian lokal untuk diburu pecinta buah dari berbagai kalangan. Mulai dari artis, hingga pejabat sipil dan militer di Bali penasaran dengan rasa khas buah durian lokal Buleleng. Salah satu durian pemenang yang diburu banyak orang yaitu “Ki Raja”, sang Runner Up dari Desa Madenan, Kecamatan Tejakula. Seperti Apa?

I PUTU MARDIKA, Buleleng

Durian “Ki Raja” asal Madenan Diburu Artis hingga Pangdam IX/Udayana

I JALUR: Durian asal Bestala, ini menjadi juara dalam kontes durian di Buleleng akhir 2019 lalu. (istimewa)

BEGITU mendengar “Ki Raja” menjadi runer up sebagai durian lokal dalam kontes yang digelar Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, Panglima Kodam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Benny Susianto turun langsung ke Desa Madenan untuk berburu “Ki Raja” di tanah asalnya, Sabtu (11/1).

Menurutnya, kedatangannya bersama petinggi Kodam IX/Udayana ke Desa Madenan bukan saja ingin merasakan citarasa durian lokal Buleleng, tetapi juga bagian dari langkahnya untuk mendukung upaya Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam mengembangkan ikon durian lokal Buleleng.

“Kami Kodam IX/Udayana pasti akan mendukung. Dengan perangkat-perangkat kami yang ada di daerah, mungkin kami juga akan berpartisipasi. Kehadiran saya di sini juga dalam konteks itu (mendukung upaya Bupati Buleleng). Siapa tahu kehadiran Pangdam IX/Udayana ini menjadi sarana promosi,” ungkap Benny Susianto setelah mencicipi citarasa Durian “Ki Raja”.

Dikatakan, bila durian “Ki Raja” ini dikembangkan secara serius, buah ini bisa saja menjadi komoditas ekspor nantinya. Tidak saja itu, pengembangan durian lokal asli Buleleng ini juga bisa menjadi tujuan wisata baru di Bali. Jenderal bintang dua ini menyebut, kehadiran durian “Ki Raja” ini bisa menjadi salah satu ikon pariwisata ke depannya, bukan saja untuk Buleleng tetapi juga bagi daerah Bali.

“Ki Raja ini memiliki keistimewaan, durian ini tanpa biji. Bukan sekedar itu, rasanya pun tidak kalah dengan durian yang selama ini kita kenal, seperti Musang King. Dan ini menurut saya perlu dikembangkan sebagai daya tarik tersendiri guna meningkatkan wisata agro,” kata Benny.

Menurut Jenderal kelahiran Jakarta ini, durian “Ki Raja” saat ini sudah sangat viral di dunia maya.  Oleh karena itu, dirinya mengajak masyarakat sekitar agar mengambil momentum yang baik ini untuk semakin mengembangkan durian lokal khas Buleleng, khususnya jenis “Ki Raja”. Saat ini, kata Benny, sudah semakin banyak masyarakat yang tertarik dengan kehadiran durian “Ki Raja “ ini.

“Masyarakat harus mau mengembangkan ini, lakukan pembibitan yang baik. Pemerintah Daerah juga harus respons dengan baik pula. Support masyarakat di sini untuk mengembangkan Durian ini,” harap Jenderal lulusan Akmil tahun 1987 ini.

Di sisi lain, Made Sudiadnyana selaku petani durian yang menanam Ki Raja menjelaskan, sebenarnya yang memiliki durian ini pertama kalinya adalah I Kaki Raja dengan satu pohon yang masih tersisa.

Selanjutnya, pada tahun 1990 karena ada pemasangan jalur Listrik dari PLN, membuat pohon durian langsung ditebang. Beruntung sebelum durian itu ditebang oleh pemiliknya, ada masyarakat yang menyambung untuk mendapatkan bibit dari durian tersebut. Setelah berhasil, lalu disebar ke masyarakat.

Namun, tidak ada masyarakat yang menanam. Sebab dari segi ekonomis buah durian tidak begitu menguntungkan. Mereka lebih memilih menanam cengkih, karena dianggap jauh lebih menguntungkan.“Bibit durian I Kaki Raja ditanam dan diperbanyak oleh keluaraga saya. Dan masih tersisa saat ini hanya 12 pohon di Desa Madenan,” ungkapnya.

Begitu Ki Raja menyabet juara II dalam kontes durian lokal, sehingga membuat artis Gus Teja datang ke Madenan untuk menikmati durian Ki Raja yang non biji itu. Karena masih tersisa 12 pohon, durian Ki Raja baru mampu memproduksi perharinya sebanyak 25 buah durian di saat musim panen seperti sekarang ini. 

Sedangkan dalam satu pohon durian Ki Raja mampu menghasilkan 100 pohon durian. “Sekarang sudah masuk pasar Swalayan dengan harga perkilogram Rp 30 sampai Rp 35 ribu,” pungkasnya.

Lain “Ki Raja” lain pula “I Jalur”, durian lokal asal Desa Bestala, Kecamatan Seririt yang menjadi jawara di ajang kontes durian itu. Buah durian, I Jalur tumbuh subur di Banjar Dinas Sari, Desa Munduk Bestala yang dirawat oleh Made Mangku Yasa.

Sejatinya, Yasa sebenarnya bukan pemilik lahan. Tetapi dirinya mengontrak sekitar empat pohon durian yang sudah berumur besar. Salah satunya I Jalur. Tanah tersebut milik pamannya bernama Pan Rawi. Yasa mengungkapkan, I Jalur memiliki cita rasa yang sangat khas.“Rasanya legit, nyangket, dagingnya tebal, alkoholnya juga tidak banyak,” ujar Mangku saat ditemui di Munduk Bestala, Minggu (12/1) siang.

Selain memiliki “I Jalur”, Yasa juga memiliki beberapa durian lokal yang sudah diberi nama. Seperti I Tegeh, Serinanti dan I Sere. Pemberian nama terhadap pohon durian dilakukan oleh para pendahulunya dengan maksud agar tidak nepen (jatuh menimpa orang, Red) saat mencari durian di bawah pohon.

“Kalau I Tegeh itu juga varietas nasional. Dulu pernah juara kontes durian tingkat nasional di Jakarta dan sekarang sudah masuk dalam registrasi sebagai varietas durian induk Bestala,” Imbuhnya.

Dijelaskan Mangku Yasa, usia I Jalur sudah mencapai 50 tahun. Pohon dengan tinggi menjulang ini sudah berbuah sejak usia 10 tahun. Menurutnya, usia 50 tahun untuk pohon durian lokal bisa digolongkan muda. Sebab, rata-rata pohon durian di Bestala berusia ratusan tahun.

Karena memiliki citarasa yang enak, buah durian bernama “I Jalur” ini dibanderol sesuai ukurannya.“Saya jualnya di kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu per biji, tergantung ukuran. biasanya ada pengepul yang ambil ke rumah-rumah.” jelasnya.

Saat ini kendala yang dihadapi adalah curah hujan yang tinggi. Sehingga kerap pohon durian diserang hama seperti tupai. Saat ini, dirinya lebih sering mengontrakkan pohon duriannya kepada tengkulak. "Satu pohon per musim bisa dikontrak Rp 4 juta. kadang buahnya tembus 200 an biji per pohon,” tutupnya.

Di sisi lain, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana menjelaskan viralnya Ki Raja dan I Jalur berkat kontes durian yang digelar Pemkab Buleleng untuk mencari buah durian dengan kualitas terbaik, yang akan dikembangkan menjadi ikon buah durian lokal Buleleng. Durian pemenang akan dikembangkan melalui pembibitan secara massal dan bibitnya akan dibagikan secara cuma-cuma kepada petani.

“Bagaimana nantinya durian itu (pemenang) bisa menjadi maskot dari durian Kabupaten Buleleng. Nanti bibitnya kita kembangkan dan berikan kepada petani secara gratis,” ungkap Bupati Suradnyana kala itu.

Pada pelaksanaan kontes durian beberapa waktu lalu, tampil sebagai juara I yaitu “I Jalur” dari Desa Munduk Besatala, Kecamatan Seririt. Sedangkan durian asal Desa Madenan, “Ki Raja” berhasil menjadi Runner Up, dan “I Panji” dari Desa Panji, Kecamatan Sukasada, menduduki peringkat ketiga. Saat ini, Pemkab Buleleng melalui Dinas Pertanian tengah bersiap untuk melakukan pembibitan dari durian pemenang tersebut.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia