Minggu, 23 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Buang Bayi di Bangli, Suami Divonis Delapan Tahun, Istri Tujuh Tahun

13 Januari 2020, 19: 35: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Buang Bayi di Bangli, Suami Divonis Delapan Tahun, Istri Tujuh Tahun

VONIS: I Kadek Sugita,19 (kanan), dan Ni Ketut Juniari, 21, menjalani sidang agenda pembacaan putusan di Pengadilan Negeri (PN) Bangli, Senin (13/1). (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BANGLI, BALI EXPRES -  Pasangan suami istri (pasutri) pembuang bayi, I Kadek Sugita,19, dan Ni Ketut Juniari, 21, menjalani sidang agenda pembacaan putusan di Pengadilan Negeri (PN) Bangli, Senin (13/1). Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Anak Agung Putra Wiratjaya. Dalam amar putusannya, majelis hakim menjatuhkan delapan tahun penjara untuk Sugita. Putusan itu sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) pada sidang sebelumnya. Sedangkan Juniari divonis tujuh tahun atau lebih ringan satu tahun dari tuntutan JPU.

Kedua terdakwa divonis sesuai pasal 80 ayat (3) jo pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Juniari menjalani sidang lebih dulu. Atas putusan itu, wanita yang tengah hamil ini menyatakan menerima. Itu setelah dia konsultasi dengan penasehat hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Women Crisis Center Ni Ketut Madani Tirtawati dan I Made Kariada yang mendampinginya. Berbeda dengan JPU Ni Kadek Janawati menyatakan pikir-pikir.

Sementara atas putusan Sugita, JPU langsung menyatakan menerima. Begitu pula dengan Sugita juga tanpa pikir panjang, langsung menerima. “Karena perbuatan saudara (terdakwa Sugita) dengan istri berbeda, makanya pidanya juga beda,” tegas Putra Wiratjaya.  

Putra Wiratjaya menyampaikan perbuatan kedua terdakwa membuang bayinya sendiri merupakan tindakan yang tidak berprikemanusian dan tidak bermoral. Sebagai orangtua seharusnya merawat bayi laki-laki itu. Perbuatan terdakwa dinilai telah merusak keseimbangan alam sebagaimana konsep Tri Hita Karana yang dipercaya masyarakat Hindu di Bali. “Dan perbuatan terdakwa tersebut telah membuat Banjar Lumbuan (TKP pembuangan bayi) menjadi leteh, resah, kotor dan cuntaka. Meskipun terhadap hal tersebut telah dibersihkan melalui pelaksanaan upacara pecaruan dan seterusnya,” lanjut Putra Wiratjaya.

Seperti diketahui bayi yang dibuang itu adalah hasil buah cinta Sugita dengan Juniari.  Saat itu mereka belum menikah. Keduanya sepakat menikah setelah kasusnya bergulir di PN Bangli. Bayi laki-laki tersebut dibuang di sebuah rumah kosong di wilayah Banjar Lumbuan, Desa Sulahan, Kecamatan Susut pada Rabu 24 Juli 2019 sekitar pukul 07.00. Bayi yang sudah dalam keadaan meninggal dunia pertama kali ditemukan oleh warga Lumbuan Ni Wayan Kartini. Polisi berhasil mengungkap pelaku yang ternyata orangtua bayi, sepekan kemudian.

Dalam sidang terungkap bahwa saat dalam kandungan, bayi itu sempat berusaha digugurkan dengan cara Juniari minum minuman beralkohol dan bersoda. Namun cara itu tidak berhasil. Perut Juniari terus membesar, hingga ada kesepakatan di antara keduanya, jika bayi itu lahir akan dibawa ke panti asuhan. Hanya saja, setelah lahir bayinya malah dibuang.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia