Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Istana Misterius di Pura Pendem yang Dibangun Pedagang China

15 Januari 2020, 08: 30: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Istana Misterius di Pura Pendem yang Dibangun Pedagang China

UNIK : Jero Mangku Kadek Sugiarta jadi pangayah di Pura Pendem, yang banyak menyimpan keunikan. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

KINTAMANI, BALI EXPRESS - Desa Siakin di Kecamatan Kintamani, Bangli, memiliki satu tempat suci yang dibangun dari hasil gabungan budaya Hindu dan China bernama Pura Pendem. Kenapa pura yang
piodalannya yang  jatuh sehari setelah hari raya Kuningan ini dibangun?

Pura Pendem yang memiliki berbagai macam keunikan ini,   memiliki lima palinggih yang dipercaya bisa mengabulkan  permintaan, termasuk  memohon kesembuhan.

Di belakang kelima palinggih tersebut, terdapat lahan kosong yang ditumbuhi sebuah pohon besar yang dipercaya sebagai istana dari seluruh Ida Bhatara yang berstana di pura tersebut.

Kawasan ini terbilang misterius. Jadi, sebelum masuk pura, pamedek harus bersembahyang di palinggih yang berada di luar pura untuk  memohon izin, agar tak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Pemangku Pura Pendem, Jro Mangku Kadek Sugiarta, menjelaskan, sejarah awal adanya Pura Pendem karena adanya perjanjian antara seorang pedagang China yang menjual madat ( barang yang lebih keras daripada tembakau ). Dalam perjalanan menjual madat,  pedagang tersebut bertemu dengan  wanita yang belum pernah menikah bernama Ida Ratu Dee Tue, yang kebetulan tempat bertemunya itu sekarang menjadi jaba Pura Pendem.


Dalam pertemuan tersebut, Ida Ratu Dee Tue berjanji membantu pedagang China tersebut agar dagangannya laris. Namun ada syarat yang harus dipenuhi bila dagangan  sudah laris. " Syarat yang harus dipenuhi adalah membuat tempat pemujaan," paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.


Mendengar permintaan tetsebut, pedagang China langsung menyanggupinya.  Dan, sejak itu bisnis pedagang China berjalan lancar.


Pedagang tersebut akhirnya memenuhi janjinya untuk kemudian membuatkan Palinggih Ida Ratu Dee Tua dan Pelinggih Konco yang sampai saat ini dipuja oleh masyarakat Desa Siakin. “Berawal dari kisah pedagang China yang bertemu dengan Ida sasuhunan di sini, kemudian ada perjanjian sampai akhirnya ada dua palinggih yang menjadi saksi awal berdiri pura ini,” jelasnya.


Seiring berjalannya waktu, ada pemugaran di Pura Pendem yang akhirnya palinggih  bertambah menjadi lima.  Ada  Palinggih Budha yang berada paling kanan dan di sebelahnya terdapat tempat tirta yang bernama Telaga Suci yang dipakai untuk malukat, juga memohon tirta. Bila memohon obat atau kesembuhan, umat akan sembahyang di Palinggih Budha. Sedangkan  memohon kelancaran usaha dilakukan di Palinggih Cina atau Konco. Kemudian ada Palinggih Ida Bhatara Dee Tue yang merupakan palinggih dari Ida Sasuhunan yang ada di Pura Pendem.  Palinggih ketiga adalah Palinggih Ida Anak Lingsir, selanjutnya  Palinggih China yang menjadi satu dengan dibawahnya terdapat Palinggih Dewa Bumi.


" Di Palinggih Dewa Bumi pamedek bisa memohon kelancaran usaha dan permohonan lainnya karena dipercaya Ida yang berstana sangat pemurah, bila yang datang dengan niat tulus dan ikhlas," bebernya.
Palinggih kelima adalah Palinggih Dewi Kwan Im yang  dipercaya sebagai dewi  mahapemurah dan begitu mengasihi umat yang memujanya.


Selain kelima palinggih tersebut, di belakangnya ada sebuah areal kosong yang dipercaya sebagai sebuah istana alam lain yang menjadi tempat dari seluruh sasuhunan.


Di kawasan lahan kosong ini, tak seorang pun boleh memasukinya karena sangat disakralkan. Pernah suatu ketika ada salah seorang pemuda yang ngayah mencari kelengkapan untuk penjor ke areal kosong tersebut. Apa yang terjadi? Orang tersebut langsung kesurupan dan berucap sekaligus mengingatkan krama agar tidak ada yang menuju tempat tersebut sekalipun ada piodalan. " Begitulah kepercayaan warga di sini hingga kini," ujar Jero Mangku Kadek Sugiarta.


Aturan yang lain yang juga harus dipatuhi, sebelum masuk ke areal pura, pamedek harus bersembahyang untuk memohon izin di palinggih yang berada di bawah pohon besar di dekat  pintu masuk Pura Pendem. Palinggih tersebut diyakini sebagai penjaga niskala yang menjaga pura.
Jika ada pemedek yang memiliki kepekaan khusus, lanjutnya, akan melihat beberapa penjaga di pura, diantaranya macan, wanita berparas cantik. Juga laki-laki yang memiliki badan kurus tinggi agak bungkuk, yang dipercaya menjadi raja di Istana yang berada di belakang dari kelima palinggih.

“Sebelum masuk pura harus sembahyang dulu di Palinggih Ratu Gede untuk memohon izin masuk," tegasnya.


Dikatakannya, kalau orang yang tidak tau dan langsung masuk, jika orang tersebut peka, maka nantinya akan dituntun untuk ke palinggih awal untuk memohon izin. "Jika peka, maka seluruh yang ada di sini kemungkinan akan bisa dilihat,” tutupnya.

(bx/dar/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia