Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Syukuri Sakit Agar Karma Buruk Berkurang

16 Januari 2020, 09: 16: 44 WIB | editor : I Putu Suyatra

Syukuri Sakit Agar Karma Buruk Berkurang

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Sakit membuat seseorang berada dalam  kondisi dan posisi kurang menyenangkan.Sadar maupun tidak sadar, kerap si sakit mengeluh. Padahal, sakit adalah bagian dari proses sebab akibat yang mestinya juga disyukuri.

Sakit pasti dialami manusia selama hidupnya.  Semua itu bisa terjadi karena manusia salah dalam menjalani pola hidupnya, sehingga memengaruhi kondisi tubuh, bahkan pikiran. Bahkan, ketika dalam kondisi sehat pun bisa  tertular secara tidak sengaja ketika berada dekat orang yang sakit ataupun di lingkungan yang kotor.


Menurut Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi,  sakit merupakan sebuah sebab akibat, dimana seseorang menjadi sakit dipastikan ada penyebabnya.Tak ditampik pria berumur 60 tahun ini, sebagai manusia yang punya keterikatan akan dunia ini, jika sedang sakit pasti sering mengeluh. Apalagi jika sakit yang diderita mulai mengganggu aktivitas keseharian.

Dikatakannya, mengeluh akan membuat lebih banyak pikian negatif dan membuat seseorang lebih lama untuk sembuh. “Ketika kita sakit, sebaiknya datangkan pikiran positif, agar cepat sembuh,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin. Pria yang juga Direktur Pascasarjana  Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar  ini memaparkan, sakit yang dialami seseorang adalah sebuah pembayaran dosa. "Selama hidup manusia juga akan membayar dosa, baik di kehidupan masa lalu maupun masa sekarang. Sakit bisa menjadi pembayaran dosa atau karma buruk, kalau orang tersebut bisa berpikir positif. Sebaliknya, jika  mengeluh dan berpikir negatif, malah kita berbuat dosa,” terangnya.

Pikiran negatif manusia bisa timbul ketika sedang sakit, lanjutnya, sebab manusia tidak menyadari bahwa dia sedang membayar karma buruknya saat itu. Manusia pun, lanjutnya, kadang lupa sesuatu terjadi karena ada sebab dan akibat. Hal ini terjadi pula, karena sebagian manusia kurang biasa memandang sesuatu secara positif dan bersyukur. "Sakit adalah  peringatan bagi seorang manusia agar  selalu waspada. Waspada untuk bisa menjaga pola hidup agar tidak sakit. Sebab selama ini sering seseorang sudah tahu sakitnya bisa kambuh, namun melanggarnya karena tidak menjaga gaya hidup," paparnya. Dicontohkannya, seorang penderita asam lambung, setelah makan malah langsung berbaring sehingga asam lambungnya naik. “Nah, itu salah satu contohnya, ada sebab dan akibat yang bisa dirasakan dalam waktu cepat,” ucap  pria yang juga pemangku ini.

Dijelaskannya, menderita sakit menjadi pelajaran. Pelajaran dimana seseorang bisa merenungi agar ia bisa belajar bersyukur dan bisa memilah dan waspada, sehingga kedepannya tidak terjadi masalah  yang sama. "Sebagai manusia harus berpikir bahwa dirinya bisa sakit karena kesalahan dirinya sendiri, bukan kesalahan orang lain. Hal ini akan menjadi proses belajar yang benar, sehingga orang tersebut makin lebih baik dalam menjalani hidup,” ungkap dosen asal Tabanan itu.

Ditambahkan Prof Suka Yasa,   agar bisa dan terbiasa bersyukur jika sedang dalam masalah ataupun lagi sakit, sebaiknya dimulai ketika sedang di tahap Brahmacari. Tidak sampai di situ, lanjutnya, proses belajar bersyukur tersebut dilanjutkan juga di masa Grehasta. " Harus belajar seumur hidup untuk bersyukur, maka akan menjadi kebiasaan. Bahkan, saya sendiri walau sudah berumur segini juga tetap masih belajar bersyukur,” tegasnya.


Ketika sudah bersyukur dalam keadaan sakit dan karma buruk berkurang, lanjutnya, maka  manusia bisa memeroleh kelahiran surga atau surga cyuta. Dimana orang tersebut diantarnya  bisa lahir dengan wajah yang rupawan, dari keluarga mampu, cerdas. Kelahiran Surga Cyuta, lanjutnya, bisa terjadi karena karma buruk yang jumlahnya lebih sedikit. “Karma buruk bisa makin sedikit, bila  salah satunya ketika kita sakit dan hadapi masalah, kita bersyukur. Coba kita tida bersyukur dan malah berpikir negatif, apalagi  menyalahkan Tuhan. Karma buruk kita akan tambah banyak dan bisa terkena kelahiran Neraka Cyuta,” bebernya.


Ditegaskannya,  bersyukur mengurangi karma buruk dan jika ditambah dengan berbuat kebaikan, maka karma baik bertambah.


Menurutnya, seseorang akan menjalani akibat amal yang paling sedikit yang dirinya lakukan selama hidup. Jika dia berbuat baik lebih sedikit dari berbuat buruk, maka orang tersebut akan masuk Surga terlebih dahulu, kemudian baru Neraka, begitu pula sebaliknya. “Hasilnya, mana yang ia jalani belakangan, maka itu yang akan menuntunnya ketika lahir. Jadi, kalau masuk Neraka belakangan, maka dia akan alami kelahiran Neraka Cyuta, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.


Dicontohkannya dari kisah Pandawa, dimana Pandawa sempat masuk Neraka sebentar sebelum masuk Surga. Begitupun dengan Korawa, mereka masuk Surga dulu, kemudian baru Neraka.
Diingatkannya bahwa kelahiran berulang bukan tujuan hidup, sehingga saat lahir menjadi manusia. Seseorang harus berusaha mengikis karma buruknya sampa habis. Hidup di dunia lalu masuk Neraka dan Surga, kemudian lahir kembali adalah proses yang harus diakhiri. “Tujuan hidup kita dalam Hindu adalah moksha, jadi harus fokus ke sana,” pungkasnya. 

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia