Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Penjualan Endek Ikat di Denpasar Lesu, Sulit Cari Penenun Muda

17 Januari 2020, 21: 21: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

Penjualan Endek Ikat di Denpasar Lesu, Sulit Cari Penenun Muda

LESU : Para penenun yang rata – rata berusia tua, sedang mengerjalan tenun endek ikat. Penjualan lesu dan sulit ada penenun muda. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sejumlah pekerja terlihat sibuk mengerjakan tugasnya  masing-masing di lokasi pembuatan tenun ikat endek Bali di Jalan Sekar Jepun, Gatot Subroto Timur, Denpasar, Jumat (17/1). Ada yang menenun, membuat motif, mewarnai benang dan memilah benang untuk ditenun.

Etmy Kustiyah Sukarsa, pemilik usaha kerajinan tenun ikat ini menuturkan, penjualan kain tenun endek mengalami penurunan dan tidak menentu, bahkan beberapa tahun belakangan ini pesanan pun tak banyak. "Tidak tahu menurunnya karena apa, kalau dulu betul-betul banyak pesanan, sekarang agak sepi. Makanya saya dengar endek mau digalakkan dan dipakai di instansi-instansi," katanya.

Baca juga: Ongkos Angkut Elpiji 3 Kg ke Nusa Penida Naik 100 Persen

Selain sedang lesu, pembuatannya juga sangat sulit karena harus melalui banyak tahap sebelum kain itu benar-benar jadi. Bahkan untuk satu kain bisa selesai hingga dua bulan lebih. "Nenunnya sih cepat. Sehari bisa dapat satu. Tapi prosesnya mewarnai, membuat motif sangat lama. Sehingga kalau orang ngerti, pesannya tiga bulan sebelumnya," katanya.

Selain sepi pesanan, kendala lainnya adalah kesulitan mencari tenaga untuk menenun. Kebanyakan tenaga yang bekerja di sini sudah berumur dan lanjut usia. "Mungkin karena generasi muda lebih suka kerja di toko atau jadi pelayan di tempat makanan cepat saji ketimbang belajar menenun," ujar Etmi Kustiyah

Untung usaha yang telah berdiri sejak tahun 1980-an ini bekerjasama dengan Dekranasda Kota Denpasar, sehingga saat ada kunjungan dari luar daerah, ia dapat imbas kunjungan.

Ia memiliki motif tenun yang berbeda dari yang lainnya, yaitu motif sekar jepun. Namun kain itu tak diproduksi masal, karena hanya dijual di rumahnya dan disesuaikan dengan pesanan.

Dengan sepuluh orang pekerja inti, ia berharap endek ini tetap ada. Harga jualnya pun bervariasi mulai dari Rp 650 ribu hingga Rp 1,5 juta per dua setengah meter tergantung jenis kain dan motifnya.

Karena sulitnya mencari penenun baru, ia pun tidak terlalu keras menuntut pekerjanya. Yang dulunya pekerja pukul 08.00 Wita sudah ada di sana, istirahat pukul 12.00 Wita dan pulang pukul 17.00 Wita. Kini waktu lebih disesuaikan dan fleksibel karena banyak pekerja yang sudah berumur.

(bx/bay/man/JPR)

 TOP