Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Raja, Cina dan Kunci

Oleh: Made Adnyana Ole

18 Januari 2020, 12: 33: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Raja, Cina dan Kunci

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DI BALI, sosok raja, cina dan kunci, adalah saudara. Mereka berada dalam satu sekutu. Jika ingin menang dalam permainan, tiga hal itu harus bergabung dalam satu tumpuk, satu lipatan, atau satu banjar. Mereka harus diikat dalam serigat, dalam serikat yang utuh dan penuh.

Maka, di Bali, jika punya satu raja, itu tidaklah cukup. Untuk sebuah permainan yang seru, satu raja sama sekali tidak berguna. Satu raja harus dicarikan raja lain lagi, setidaknya harus ada tiga raja agar permainan jadi benar-benar sempurna. Jika mentok hanya punya satu raja, dan tak bisa lagi mendapatkan raja yang lain, maka satu raja harus dilengkapi dengan dua sekutu yang lain, yakni cina dan kunci. Jika raja-cina-kunci bergabung, meski jumlahnya hanya satu-satu, mereka bisa jadi kuat. Itulah namanya serigat alias serikat, atau union, atau persekutuan, atau sekongkol.

Eh, sebentar, sebentar dulu. Saya mau bicara apa ini? Nah, begini. Orang Bali yang gaul di meja judi, atau orang Bali yang hidup atau sekadar mampir-mampir di dunia bebotoh, baik bebotoh kelas seribuan maupun bebotoh kelas jutaan, baik bebotoh kelas bulu atau bebotoh kelas gadai tanah, pastilah tahu apa yang sedang saya bicarakan. Ya, ini saya bicara soal kartu cekian. Dalam dunia judi kartu ceki, raja ada empat, dan seorang pemain setidaknya harus punya tiga dari empat raja itu. Itu namanya soca alias permata, alias keberuntungan. 

Jadi, untuk bisa menang dalam judi ceki, satu raja di tangan bisa saja disebut modal penting untuk menang sekaligus nasib apes menuju kalah. Satu raja di tangan bisa dicarikan raja lain. Jika beruntung, dua raja bisa didapat. Tapi jika sampai permainan berakhir di tangan hanya ada satu raja, itu namanya bantug, bolot dan apes. Kalah sudahlah pasti. Karena dalam sebuah permainan judi, raja tak boleh esa, ia harus berkumpul sesama raja. Atau, satu raja tetap kuat, jika berserikat dengan cina dan kunci.

Di Bali maceki atau bermain kartu ceki adalah salah satu kegiatan menghibur yang biasa dilakukan orang pada saat  magebagan (begadang di rumah duka), atau pada waktu luang dan berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Jika orang tak kenal dengan hiburan lain, misalnya hiburan main golf, maka maceki bisa dianggap sebagai hiburan paling sederhana dan mudah dilakukan bersama teman-teman dekat.

Ceki atau cekian, di negara lain bisa disebut koa atau pei. Permainan kartu ini kegiatan yang biasa dilakukan suku kuno secara turun temurun. Dulunya bahkan sering dilakukan kaum wanita. Permainan ini berkembang di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Permainan kartu ceki konon bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno, bahkan disebut-sebut sebagai asalmula dari permaninan mahyong. Di negara lain, permaian ceki mulai dikalahkan permainan lain yang lebih modern. Tapi di Indonesia, terutama di Bali, permainan ini makin populer saja. Permainan ini dilakukan berlima mengelilingi sebuah meja dengan duduk bersila. Masuknya permainan ceki ke Bali diduga dibawa oleh para pedagang Cina.

Ketika dikenalkan di Bali, permainan ini sangat digemari terutama oleh kaum bawah yang tak memiliki cara lain untuk menghibur diri. Selain itu, permainan ceki sangat mudah dilakukan karena orang-orang Bali memang lebih sering berkumpul bersama keluarga, kerabat dan warga lain dalam berbagai kegiatan, terutama kegiatan adat.

Anak kecil suka menonton orang maceki, termasuk di masa kecil saya. Anak kecil akan selalu tertarik melihat kartu merah yang disebut dengan kartu raja. Mungkin karena warna kartu itu merah mencolok. Banyak pemain ceki rikuh jika ditonton anak-anak. Pasalanya, anak-anak suka resek jika melihat si pemain memegang kartu raja dengan warna merah mencolok itu. Jika itu terjadi, musuh akan tahu si pemain sedang memegang kartu raja. Maka, anak-anak biasanya diusir dari permainan kartu ceki, bukan karena berpengaruh terhadap mental anak-anak, melainkan karena si pemain tak suka anak-anak bertanya-tanya soal kartu raja yang sedang dipegangnya.

Raja, dalam permainan kartu ceki bukan hanya mencolok dari segi warna. Kartru itu bahkan bisa membuat seorang pemain menang besar jika berhasil memainkan raja dengan lihai sekaligus beruntung. Di sejumlah daerah, seorang pemain bisa mendapatkan uang berlipat-lipat jika bisa menang dengan menggunakan kartu raja. Teknis permainannya tak bisa saya jelaskan. Pokoknya rumit dan menyenangkan. Kalau ingin tahu, cobalah sesekali turut bermain. 

Izinkan sesekali saya bicara agak gawat. Begini. Dalam perjudian dunia nyata, misalnya perjudian di dunia politik, sosial dan ekonomi, raja bisa saja dianggap simbol dari kekuasaan, cina simbol ekonomi, dan kunci adalah simbol intelektual. Kekuasaan, ekonomi dan intelektual, harus berada dalam satu serigat. Jika ia terpisah-pisah, jalan untuk kalah akan terbuka lebar. Maka itu, kekuasaan tak boleh tunggal, ekonomi tak boleh dimonopoli, dan seorang intelektual tak bisa juga hanya asyik sendiri-sendiri. Mereka harus ada dalam satu serigat.

Raja besar boleh saja disebut dengan nama presiden, gubernur dan bupati. Jangan lupa, ada raja-raja kecil, bisa saja disebut perbekel dan bendesa adat. Di dunia modern, semua raja itu adalah raja yang sah karena dipilih secara saha. Ia bekerja bersama pelaku ekonomi dan para ahli untuk menciptakan warga yang adil dan makmur. Jika mereka bekerja sendiri-sendiri, kekalahan mungkin akan bertubi-tubi terjadi. Cita-cita adil makmur bakal kabur dan terkubur.   

Mungkin karena satu raja dianggap tak berguna, maka kini ada sejumlah orang memproklamirkan diri menjadi raja. Sudah ada presiden, gubernur atau bupati, masih juga ada orang ingin jadi raja, dianggap jadi raja, atau pasang iklan agar dianggap raja. Jika ditarik ke meja ceki, raja mungkin tetap harus diciptakan agar permainan bisa seru dan asyik. Karena, sekali lagi, setiap pemain minimal harus punya tiga raja agar terbuka peluang besar untuk menang. Maka, terciptalah raja sebanyak-banyaknya agar semua orang bisa menang. Tapi pertanyaanya, jika semua orang bisa menang, untuk apa diciptakan permainan? Jika semua orang bisa jadi bupati dengan hanya memproklamirkan diri, untuk apa ada permainan politik dan pemilu dengan biaya mahal-mahal?

Jadi, bagi pemain ceki, jangan ikut-ikutan bicara soal raja di dunia nyata. Mari bersila main ceki dengan benar. Ingat, jika kartu raja dianggap tak berguna dan hanya bikin kita kalah, baiknya kartu itu dibuang saja, atau dibanting di atas meja. Hanya di atas meja ceki kita bisa membanting raja sambil tertawa ngakak-ngakak. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia