Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese
Tradisi Ngerebeg di Pedawa, Buleleng (2)

Dilakukan Krama Ngarep, Gunakan Tujuh Jenis Hewan

20 Januari 2020, 05: 49: 25 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dilakukan Krama Ngarep, Gunakan Tujuh Jenis Hewan

RITUAL: Krama Ngarep Lanang melakukan pemasangan kain pada hewan yang akan dikurbankan (NI MD. WIGRAYENI TRESNAYATI/BALI EXPRESS)

Share this      

Tradisi ngerebeg di Desa Pedawa diyakini masyarakat setempat dapat membersihkan, memberi keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan lingkungan desa. Ada sejumlah hewan yang akan dikurbankan sebagai sarana banten caru.

NI MD. WIGRAYENI TRESNAYATI, Denpasar

Tradisi ngerebeg merupakan salah satu upacara panca yadnya yang tergolong dalam bhuta yadnya, yang oleh masyarakat Desa Pedawa dipercaya bertujuan untuk membersihkan wilayah desa, serta diyakini dapat memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan lingkungan Desa Pedawa.

Pelaksanaan tradisi ngerebeg dilaksanakan oleh krama ngarep. Krama ngarep di Desa Pedawa adalah pasangan suami istri baik yang belum memiliki anak ataupun anaknya belum menikah. Krama ngarep memegang peran penting dalam pelaksanaan upacara agama dan tradisi di Desa Pedawa, salah satunya dalam tradisi ngerebeg. Hal tersebut dikarenakan masyarakat krama ngarep di Desa Pedawa terdaftar dalam struktur tata lungguh.

Tata lungguh di Desa Pedawa adalah urutan atau ririgan berdasarkan senioritas pernikahan. Krama ngarep di Desa Pedawa yang terdaftar dalam tata lungguh di bagi menjadi beberapa jenjang kedudukan, seperti: pengulu, pengetan, penyacaran, penugelan dan pemiritan.

Tradisi ngerebeg dilaksanakan setiap lima tahun bahkan sepuluh tahun sekali, yang pelaksanaannya berdasar lelintih nemu gelang atau berdasarkan kalender dan perhitungan Desa Pedawa. “Secara mendetail di desa memang tidak ada patokan khusus dalam pelaksanaan tradisi ngerebeg seperti upacara umumnya di Bali. Tetapi seperti yang sudah lewat, pelaksanaan tradisi ngerebeg menghindari pasah, biasanya bertepatan dengan sasih kapat atau sasih kapitu ataupun sasih kasanga. Tradisi ngerebeg pastinya dilaksanakan setelah upacara ngangkid atau ngaben,” ujar Ginar, salah satu tukang banten di Desa Pedawa.

“Adapun sarana yang dipergunakan dalam tradisi ngerebeg terdiri dari sarana banten pecaruan seperti di Bali umumnya dan yang uniknya menggunakan tujuh jenis hewan yang akan dikurbankan, yaitu anak sapi, kambing hitam, anjing, babi, angsa, bebek dan ayam,” ujar Wayan Sudiastika, Sekretaris di kantor Desa Pedawa.

Prosesi pertama dilakukan sebelum rangkaian tradisi ngerebeg adalah paruman atau rapat. Paruman atau rapat dilakukan di Pura Desa Pedawa oleh balian adat, tokoh-tokoh agama, tukang banten atau serati, dan beberapa perwakilan krama ngarep. Dalam paruman tersebut dibicarakan dan dihitung tentang pelaksanaan tradisi ngerebeg berdasarkan hari baik karena tradisi ini tidak sembarangan dilaksanakan. Rangkaian yang kedua dalam pelaksanaan tradisi ini adalah proses matur piuning, prosesi kedua ini bertujuan untuk penghormatan kepada sesuun atau Dewa-Dewa di Desa Pedawa, agar memberkati dan memberi kelancaran dari tradisi ngerebeg.

Lalu prosesi pembersihan kulkul. Karena kulkul memiliki peran penting dalam pelaksanaan tradisi ngerebeg, oleh masyarakat kulkul dianggap merupakan benda peninggalan leluhur dan kulkul dijadikan sebagai media komunikasi tanda bahwa pelaksanaan tradisi ngerebeg segera dimulai dan mengumpulkan krama ngarep.

“Prosesi upacara kulkul sangat sederhana, tapi karena kulkul benda kramat jadi harus dilakukan penyucian terlebih dahulu, dengan menghaturkan banten berupa daksina. Baru setelah menghaturkan banten kulkul dipukul sebanyak sebelas kali, dari kedua sisi dan saat krama ngarep mengelilingi sekitaran Pura Desa kulkul harus tetap dipukul,” ujar Wayan Sudiastika.

Setelah selesai upacara kulkul, barulah prosesi ngerebeg dilakukan. Hewan-hewan yang akan dikurbankan atau sebagai sarana banten caru terlebih dahulu harus diberikan kain putih atau kuning di bagian tubuh hewan tersebut. Lalu dipercikan air suci atau tirta dari prosesi matur piuning, setelah itu barulah diarak mengelilingi sekitaran Pura Desa Pedawa sebanyak tiga kali, masyarakat mengelilingi sekitaran Pura Desa dengan berputar dari kiri ke kanan sesuai dengan konsep  rwa bhineda, bertujuan untuk memohon keseimbangan hidup dalam berbagai aspek kehidupan di dunia.

Setelah diarak dilanjutkan dengan menyembelih hewan-hewan tersebut oleh krama ngarep lanang menggunakan pisau, parang atau sejenisnya. Setelah disembelih darah, daging, kulit dari hewan-hewan tersebut dipakai untuk sarana banten caru. Lalu balian adat melakukan natab banten dilanjutkan dengan sembahyang bersama oleh masyarakat Desa Pedawa di luar Pura Desa menghadap ke arah utara. Persembahyangan ini bertujuan berdoa kepada Sang Pencipta dan dewa-dewa atau sesuhunan desa.

Setelah selesai sembahyang, krama ngarep lanang akan meletakkan banten caru tersebut ke tempat-tempat keramat, yaitu pertigaan dan perempatan sekitaran Desa Pedawa, tujuannya agar para bhuta kala tidak masuk ke wilayah desa.

Gotong royong terwujud dalam aktivitas religius maupun aktivitas sosial masyarakat di Desa Pedawa dalam pelaksanaan tradisi ngerebeg. “Hubungan kekeluargaan, ketetanggaan krama ngarep terlihat ketika mempersiapkan sarana upakara dalam bentuk banten, dan hewan-hewan yang akan dijadikan caru. Krama ngarep melakukan persiapan dengan sistem gotong royong atau ngayah. Tidak ada denda, jadi berdasarkan ketulusan, dan kewajiban masing-masing krama. Prosesi ngerebeg sangat sederhana, mulai dari bantennya dan sarana upakara yang lain. Tapi maknanya yang sangat sakral,” ujar Nengah Lampin, yang dulu merupakan bagian krama ngarep, tapi sekarang sudah digantikan oleh anaknya. (*/aim)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia