Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bisnis

Buah Naga Buleleng Dilirik Cina, Setahun Produksi 700 Ton

20 Januari 2020, 20: 27: 23 WIB | editor : Nyoman Suarna

Buah Naga Buleleng Dilirik Cina, Setahun Produksi 700 Ton

DILIRIK CINA : Buah naga yang dikelola Wayan Kantra di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan mulai dilirik importir asal Cina. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Buah naga asal Buleleng mulai dilirik importir asal Cina karena mulai ada permintaan dari Tiongkok. Bahkan, secara khusus Tim dari Cina mendatangi lahan kebun buah naga kualitas ekspor seluas 14 hektar yang berlokasi di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Sabtu (18/1). Dipilihnya buan naga di Bulian ini karena dikelola secara organik.

Kedatangan importer asal Cina ke perkebuan buah naga milik Wayan Kantra, didampingi langsung Balai Karantina Pertanian Provinsi Bali dan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Mereka melakukan analisis dengan mengambil sempel buah dan sempel hama yang ada di pohon buah naga milik I Wayan Kantra.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta mengaku belum mendapatkan kepastian dari Importir Cina apakah jadi mengekspor buah naga dari Buleleng atau tidak. Namun, dari hasil peninjauan, tim Cina mengapresiasi budidaya yang menggunakan sistem organik.

“Dari segi sistem budidaya yang organic, mereka (Cina, Red) sih oke. Mudah-mudahan ini menjadi kunjungan terakhir. Kami berharap pihak karantina Cina memberikan rekomendasi terkait dengan penanganan eksportir produk buah naga yang ada di sini,” ujar Sumiarta.
Sumiarta optimis, peluang ekspor buah naga ke Cina terbuka lebar. Sebab, kebutuhan akan buah naga di Negeri Tirai Bambu ini sangat besar. Namun, pihak pemerintah Cina sangat selektif mendatangkan buah dari luar negeri.

 “Buah naga kita punya kelebihan, yakni organik, dibandingkan dengan buah naga di daerah lain di Indonesia. Memang budidayanya saat ini masih dikembangkan secara pribadi,” pungkasnya.

Sementara itu, petani buah naga I Wayan Kantra mengaku, siap memasok buah naga ke Cina. Sejauh ini, dengan lahan 14 hektar, pihaknya mampu memproduksi sedikitnya 700 ton buah naga per tahunnya.

 “Jadi seluruh proses budidayanya, organik semua. Biaya operasionalnya jauh lebih murah. Tetapi pemeliharaannya yang harus lebih telaten membersihkan gulma rumput. Kalau hama, paling semut saja. Belum pernah sampai kutu putih yang dikhawatirkan itu,” ujar Kantra.

Kendati dilirik importir Cina, Kantra berharap proses kerjasamanya bisa dibicarakan lebih jelas dan teknis. Sehingga buah naga yang diproduksinya segera diserap pasar Cina. Mengingat dalam seminggu pihaknya bisa memanen hingga lima kali. “Buah naga ini termasuk kelas super. Karena organik , jadi kelemahannya, buah menjadi lebih cepat matang. Jadi harus diatur teknik pengiriman dan harganya juga,” imbuhnya.

Sejauh ini, buah yang dihasilkan  diserap pasar lokal, khususnya di wilayah Bali hingga Lombok. Namun harga buah naga di pasaran lokal, sebut Kantra, sering tidak stabil. Sebab, ada persaingan produk buah naga non organik dari daerah lain.

“Ini yang kadang menjatuhkan. Terutama produk dari Jawa. Kalau lagi mahal, bisa laku Rp 24 ribu per kilogram. Kalau lagi jumlahnya banyak, harga anjlok bisa hanya Rp 4 ribu. Ya kami berharap harganya lebih menjanjikan kalau diekspor ke Cina,” tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia