Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Sekar Tejakula, Jejak Sejarah Tiga Agama dalam Satu Wadah

20 Januari 2020, 22: 44: 13 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pura Sekar Tejakula, Jejak Sejarah Tiga Agama dalam Satu Wadah

TIGA AGAMA: Salah satu palinggih di Pura Sekar, Desa Tejakula, yang mencerminkan keharmonisan beragama di Bali. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

BULELENG, BALI EXPRESS - Desa Tejakula, Buleleng ternyata memiliki sebuah pura yang menjadi potret hubungan harmonis antarumat beragama di Bali. Pura tersebut dikenal dengan nama Pura Sekar.

Pura Sekar letaknya dekat dengan jalur utama Singaraja – Amlapura. Belum banyak yang tahu keberadaan pura tersebut. Kecuali masyarakat Desa Tejakula. Selain itu, letak pura juga berada kurang lebih 100 meter dari bibir pantai. Setelah memasuki areal pura, akan tampak beberapa palinggih yang di sampingnya berisi palinggih kecil. Yang menarik sekaligus unik, ada tiga palinggih utama. Palinggih-palinggih ini mewakili tiga agama, yaitu Islam, Hindu, Budha.

Penyarikan Pura Sekar, Nyoman Kerta, 56, kepada Bali Express menuturkan bahwa Pura Sekar merupakan pura yang paling unik di Kecamatan Tejakula. Alasannya, karena keberadaan tiga palinggih tadi.

Pertama, palinggih Islam yang berada paling barat, dipercaya berstana Ratu Gede Serabad. Kemudian di sebelahnya ada palinggih Hindu yang dipercaya berstana Ratu Ayu Jong Galuh. Dan di sebelahnya lagi Palingggih Budha yang dipercaya berstana Ratu Bagus Mas Subandar.

Khusus untuk Palinggih Islam, ketika ada upacara di pura, tidak pernah menggunakan daging babi untuk persembahan, melainkan hanya telur. Namun ketika piodalan besar, jika memakai kambing dan sapi, maka akan dipersembahkan di palinggih tersebut. “Pura ini menjadi salah satu yang terunik di Tejakula. Hal tersebut terlihat dari tiga palinggih yang mencirikan keragaman agama yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Menurut Kerta, mengutif cerita para panglingsir di Tejakula, keberadaan Pura Sekar bermula dari pelabuhan besar yang dulunya berada di pantai yang berdekatan dengan lokasi pura saat ini. Pelabuhan tersebut menjadi sentral perdagangan karena banyak kapal-kapal bersandar di sana. Hal ini membuat adanya interaksi antara pedagang, awak kapal serta masyarakat Tejakula pada saat melakukan jual beli.

Konon ada sebuah perahu yang membawa beras dan padi hendak bersandar di pelabuhan karena mengalami kebocoran. Semua awak kapal konon memeluk agama yang berbeda-beda seperti Islam, Hindu, dan Budha. Setelah kejadian tersebut, para awak kapal diketahui melakukan yoga semadi. Namun entah kenapa tidak ditemukan lagi jejak para awak kapal tersebut. Sehingga masyarakat yakin bahwa semua itu bukan manusia biasa. Berdasarkan kejadian tersebut, kemudian di tempat ini didirikan Pura Sekar yang sampai sekarang masih dikeramatkan oleh masyarakat Tejakula. “Seperti itulah kurang lebih cerita atau mitos yang saya dapat dari para panglingsir di sini,” imbuhnya.

Lebih jauh Kerta menuturkan, padi  yang ada di dalam perahu tersebut disebarkan oleh masyarakat di seputaran pura. Padi itu pun tumbuh sehingga daerah sekitar sini menjadi subur dan indah sehingga wilayah ini menjadi gemah ripah atau sering disebut bunga gumi ring Tejakula.

“Karena padi tersebut disebarkan di seputar pura, sehingga daerah sekitar menjadi subur dan indah atau sering dikatakan bunga gumi ring Tejakula. Dari sana diasosiasikan menjadi Pura Sekar. Selain itu, sesuhunan di sini begitu baik. Apapun permintaan, bisa terwujud. Sebaliknya, kalau udah ada kesalahan atau kejahilan, bisa sakit trus meninggal dan itu sudah banyak terbukti,” tutup Kerta.

(bx/dar/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia