Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

BNNP Bali Ungkap Sindikat Narkotika Jaringan Lapas Karangasem

20 Januari 2020, 23: 05: 37 WIB | editor : Nyoman Suarna

BNNP Bali Ungkap Sindikat Narkotika Jaringan Lapas Karangasem

BONGKAR : Sindikat narkotika jaringan Lapas Karangasem yang terdiri dari lima orang dibeberkan BNNP Bali, Senin (20/1). Sindikat ini dikendalikan seorang narapidana atas nama Rusdi (kiri). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali membongkar sindikat narkotika jaringan lembaga pemasyarakatan (lapas). Sindikat yang diungkap kali ini ada dibawah kendali Rusdi. Seorang narapidana kasus narkotika yang mendekam di Lapas Karangasem. 

Senin (20/1), sindikat yang terdiri lima orang ini dibeberkan ke awak media oleh jajaran BNNP Bali. Selain Rusdi yang jadi otak dalam sindikat ini, ada juga tersangka lainnya, di antaranya I Gede Agus Dedi Mahayana alias Dede, I Gede Darmawan alias Lenong, Retno Purwaningsih, dan Riri.

Kepala BNNP Bali Brigjen Pol Putu Gede Astawa mengungkapkan, proses penangkapan para pelaku yang tergabung dalam sindikat ini dilakukan timnya pada Sabtu lalu (11/1). Berawal dari penangkapan Dede dan Lenong yang kedapatan membawa satu paket sabu-sabu di kawasan Padangsambian. “Dua orang tersangka ini sebagai pengedar,” jelas Gede Astawa dalam keterangan persnya, Senin (20/1).

Tak berhenti sampai di situ, penyelidikan berkembang dan mengarah pada dua tersangka lainnya, yakni Retno Purwaningsih alias Retno dan Riri. Kedua perempuan tersebut berperan sebagai pemecah barang. “Mereka kami tangkap di wilayah Jalan Cempaka Permai Selatan, Padangsambian, Denpasar," imbuhnya.

Dari hasil interogasi, terhadap empat pelaku. Petugas mengantongi nama Rusdi yang rupanya berstatus sebagai narapidana di Lapas Karangasem. “Mereka dikontrol melalui alat komunikasi," tegasnya lagi.

Barang bukti dari keempat tersangka yang ditangkap lebih awal, totalnya mencapai 20 paket. Semula hanya sebelas paket yang ditemukan di tas pinggang. Setelah dilakukan pengembangan, petugas kembali menemukan barang bukti tambahan. “Dalam penggeledahan di kamar kos Riri ditemukan sembilan paket sabu," ungkap Gede Astawa.

Total berat keseluruhan barang bukti tersebut mencapai 62,49 gram. Selain itu, ditemukan juga beberapa barang bukti berupa ponsel yang dipakai untuk mengedarkan barang haram tersebut, bong atau alat isap, catatan transaksi, hingga timbangan.

Gede Astawa menambahkan, Rusdi dengan empat kaki tangannya itu rupanya sudah saling kenal. Mereka saling kontak dengan menggunakan ponsel. Dan Rusdi ternyata berhasil menyelundupkan ponsel tersebut ke dalam lapas, tempat dia menjalani masa pembinaan. “Ya mereka bisa berkomunikasi karena saling mengenal,” ujarnya.

Dalam keterangan pers itu juga terungkap bahwa Rusdi ternyata narapidana kasus narkotika. Dia divonis delapan tahun penjara. Dari vonis itu, dia baru menjalani vonisnya selama dua tahun.

Terkait ancaman hukumannya, baik Rusdi maupun empat tersangka lainnya sama-sama disangkakan melakukan permufakatan jahat dalam tindak pidana narkotika. Ancaman hukuman mereka maksimal 12 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 8 miliar, sebagaimana ketentuan Pasal 112 ayat 2 dan Pasal 132 ayat 1 dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia