Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Palinggih Islam untuk Mohon Pendidikan, Hindu Kesuburan, Budha Bisnis

21 Januari 2020, 18: 54: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Palinggih Islam untuk Mohon Pendidikan, Hindu Kesuburan, Budha Bisnis

PALINGGIH ISTIMEWA: (Ki-ka) Palinggih Islam, Hindu, dan Budha memiliki keistimewaan tersendiri di Pura Sekar, Tejakula, Buleleng, Bali. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

BULELENG, BALI EXPRESS - Pura Sekar di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, menyimpan banyak keunikan. Selain sebagai bukti berbaurnya tiga kepercayaan (Hindu, Islam, Budha, Red), juga diyakini sebagai tempat memohon sesuatu. Akibatnya, banyak pamedek yang naur sesangi (membayar khaul) usai memanjatkan permohonan di pura ini.

Penyarikan Pura Sekar Nyoman Kerta, 56, mengatakan, pamedek yang tangkil memiliki permohonan beragam. Mulai dari memohon kelacaran usaha, pengobatan, benda yang bertuah, kelancaran pendidikan, hingga jabatan.

“Ada empat palinggih yang memiliki keistimewaan tersendiri di pura ini,” ungkap Kerta.

Pertama adalah Palinggih Muslim. Palinggih ini diyakini sebagai tempat berstananya Ratu Gede Serabad, ahli dalam bidang sastra. Di palinggih ini diyakini sebagai  tempat memohon kelancaran bidang pendidikan. Kemudian di sebelahnya ada Palinggih Hindu yang dipercaya berstana Ratu Ayu Jong Galuh yang diyakini sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Di sini tempat fokus memohon di bidang pertanian. Kemudian di sebelahnya ada Palingggih Budha yang dipercaya berstana Ratu Bagus Mas Subandar. Di palinggih ini diyakini sebagai tempat memohon kelancaran usaha.

Terakhir, Palinggih Ratu Bagus Mas Petingan. Di sini diyakini sebagai tenpat memohon kesehatan karena dipercaya sebagai ahlinya atau dokter niskala di pura ini. Untuk yang terakhir memohon jabatan baik itu dinas maupun politik biasanya pamedek memohon di empat palinggih tersebut.  “Seperti itulah perinciannya yang diyakini di sini. Banyak yang istilah Balinya naur sesangi jika permintaan mereka sudah terwujud,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Menurut Kerta, Ratu Ayu Galuh yang berstana di pura ini, dipercaya memiliki paras cantik berambut panjang dengan pengawalnya yang juga memegang rambutnya agar tak jatuh. Diyakini pula Ida merupakan sosok wanita yang belum pernah menikah.

Ada beberapa keyakinan bagi warga sekitar terkait rambut Ida Ratu Ayu Jong Galuh. Misalkan saat tengah hari atau sandikala ada warga yang menemukan janur dirobek (busung mesetset) di jalan atau di aliran sungai kecil (telabah), itu merupakan pertanda Ida mau hadir atau melewati areal tersebut.

Sementara dipercaya kalau semisal janur tersebut terinjak atau dilangkahi maka siapa pun itu tinggal menunggu waktu karena diyakini bisa meninggal. Bahkan hal tersebut sudah pernah terjadi pada seorang. Saat itu, orang tersebut sedang mandi di aliran sungai di sekitar pura. Kemudian tanpa disadari janur mesetset lewat hingga beberapa hari kemudian orang tersebut meninggal dunia.

Selain hal tersebut ada juga pernah kejadian melihat warga melihat kapal besar yang datang dari utara kemudian bersandar di sekitaran pura. Bahkan  pernah juga sekitan 1 tahun yang lalu ada yang mengalami kejadian tepat pukul 24.00 lewat di jalan sebelah pura. Kemudian orang itu melihat candi besar yang begitu megah dengan suasana keramaian layaknya di pelabuhan. Banyak mobil juga lewat.

Ada juga kepercayaan bahwa Ida mempunyai burung titiran putih yang berada di timur pura. Jika ada yang melihat burung tersebut tidak akan ada yang berani menangkap atau menembaknya,

“Banyak sekali (peristiwa mistis). Pernah suatu ketika ada kejadian aneh, seorang pedagang menggunakan air di sumur suci pura untuk berjualan. Anehnya, air di sumur itu naik hingga membanjiri areal pura. Setelah pedagang itu memohon pengampunan ke hadapan Ida, baru airnya normal,” katanya.

(bx/dar/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia