Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Kelam Politik di Bebetin, Buleleng

Demi PNI, Bapa Dasi Diburu, Rumah Dibakar; Darah Marhaen tetap Marhaen

21 Januari 2020, 21: 36: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Demi PNI, Bapa Dasi Diburu, Rumah Dibakar; Darah Marhaen tetap Marhaen

CUCU BAPA DASI: Ketut Lanang Sukawati Perbawa saat menunjukkan rumah yang dulu pernah dibakar massa saat era Penggolkaran di Desa Bebetin, Sawan, Buleleng, yang diperkirakan berlangsung pada tahun 1976 silam. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki cerita kelam dalam dunia politik Indonesia. Seorang tokoh PNI, Ketut Redana alias Bapa Dasi adalah salah satu korban kekejaman politik awal Orde Baru. Rumah  dan warungnya dibakar. Dia pun hidup dari pemberian orang. 

I PUTU MARDIKA, Sawan

BIBIRNYA bergetar. Matanya berkaca-kaca. Lalu diam beberapa saat sambil mengangkat gelas minuman di atas meja. Tangannya juga tampak bergetar saat mengirimkan minuman ke mulutnya.

“Bapa Dasi adalah Wayah (kakek) saya,” kata Dr. Sukawati Lanang P Perbawa dengan suara parau saat ditanya soal nama Ketut Redana alias Bapa Dasi.

Lanang Perbawa tak sanggup melanjutkan kisah kelam leluhurnya. “Mending (minta cerita) dengan saksi langsung saja,” pinta Lanang sambil mengarahkan koran ini untuk meminta kesaksian panglingsirnya yang masih hidup hingga kini.

Saksi mata peristiwa kelam tahun 1976 tersebut adalah pasangan suami istri (Pasutri) Made Mewa, 79 bersama istrinya Luh Asih, 75.

Menurut Luh Asih, mendiang Ketut Redana yang biasa koordinasi dengan Pak Item, tokoh PNI Buleleng, di Banyumala (sekarang dekat Pompa Bensin) memang menjadi tokoh Marhaen yang disegani di Desa Bebetin maupun wilayah Sawan. Karena menjadi tokoh dan yang paling sulit “Digolkarkan” membuat ia menjadi orang yang paling diburu di Bebetin oleh sejumlah kaki tangan penguasa kala itu.

Karena merasa jiwanya terancam, Luh Asih menyebut jika mendiang Redana beberapa kali bersembunyi untuk menghindari kejaran dari kelompok yang hendak menggolkarkannya.

Hanya saja mendiang Redana selalu berhasil berkelit. Hingga membuat kelompok yang mengejarnya frustasi.Karena sudah buntu, akhirnya rumah dan warung milik mendiang Ketut Redana dibakar oleh massa pada malam hari.

“Waktu bakare umahne (Almarhum Redana, Red) terus sing ngelah apa. Kalingan perabot, baju, kamen telah puun, sampe sing ngelah penganggo terus ade ane ngejotin kamen, baju. (Saat rumahnya dibakar, Redana tidak punya apa. Jangankan perabot rumah tangga, pakaian hangus semua. Sehingga banyak yang memberikan bantuan pakaian),” ujar Luh Asih.

Kisah serupa juga diceritakan Made Mewa. Suami Luh Asih ini menilai jika mendiang Ketut Redana merupakan sosok yang gigih dalam memperjuangkan prinsipnya secara konsisten. Kendati mendapatkan ancaman pengepungan dari berbagai lini, namun mendiang masih tetap berjuang sebagai seorang marhaen tulen.

“Terus diburu tapi berhasil dihindari. Namun Bapa Dasi terus berjuang. Sampai rumahnya dibakar, warungnya dibakar, tapi tetap PNI. Kadang sembunyi di kandang sapi sama saya tidur. Tapi setelah dicari dia menghilang,” ujar Mewa.

Cerita juga datang dari keponakan mendiang Bapa Dasi, yang kini sudah tak muda lagi. Dia adalah Nengah Karbin. Lelaki sepuh yang kini usianya mengijak 76 tahun ini sudah memiliki satu orang anak saat peristiwa penggolkaran yang memburu pamannya kala itu.

Pekak Karbin bercerita, saat peristiwa terjadi, dirinya sudah berusia sekitar 30-an tahun. Ia pun tahun persis jika sang paman memang dikejar-kejar oleh sekelompok massa dari luar desa. Namun saat rumah dan warung sang paman dibakar pada malam hari, dirinya tidak tahu persis prosesnya.

“Keesokan paginya rumah sudah hangus semua. Karena memang tidak ada berani memadamkan apinya. Sampai api padam sendiri. Nah dulu saya cari aman saja. Netral saja, karena memang suasana agak mencekam,” kenangnya.

Empat puluh  tahun lebih peristiwa itu sudah berlalu. Tapi masih membekas bagi para kerabat dan keturunan Bapa Dasi.

“Kakek saya diburu sampai 6 bulanan. Peristiwa itu sekitar tahun 1976-an,” ungkap Lanang Perbawa.

Menurutnya, dari cerita almarhum kakeknya, sejak era tahun 1965, wilayah Sawan merupakan basis dari PNI. Sehingga dianggap sulit oleh penguasa era orde baru untuk “ditaklukkan” dan beralih ke Golkar. “Dulu era orde baru memang tidak pernah Golkar itu menang 100 persen, selalu saja ada suara untuk PDI (saat itu PNI bergabung dengan empat partai lain menjadi Partai Demokrasi Indonesia, Red). Ya 10 sampai 15 suara selalu ada,” tuturnya.

Militansi sang kakek dalam membela PNI memang terinspirasi dari ajaran Bung Karno. Sang kakek sebut Lanang sangat mengagumi sosok Bung Karno. Bahkan Lanang pun sempat diminta untuk tetap memegang prinsip ajaran Bung Karno oleh sang kakek yang dinilainya sangat nasionalis.

“Kakek saya mengaku sangat banyak mendapat pelajaran dari Bung Karno, ideologi, cara memimpin serta menggali nilai-nilai Pancasila. Sehingga jaman kakek saya, rumahnya tidak pernah disemprot logo Golkar di era itu,” tuturnya.

Lalu apa yang bisa diambil dari kisah masa lalu itu? Mantan Ketua KPUD Bali Periode 2008-2013, ini menyebutkan jika ideologi itu tidak pernah mati. Spirit perjuangan dari Bung Karno tidak pernah padam.

“Orang boleh saja berubah-ubah jaman dan pemimpin baik daerah maupun nasional yang mengatasnamakan diri sebagai nasionalis, maupun pejuang bung karno. Tetapi akan terlihat dari jejak langkahnya. Sehingga ideologi dan spirit tak akan pernah mati,” imbuhnya sembari menunjukkan rumah yang pernah dibakar masa pada tahun 1976 silam.

Kendati sang kakek dan ayahnya mengalami masa kelam di era orde baru, namun Lanang berharap agar kisah itu tidak lagi menambah luka dan trauma bagi keluarga dan generasinya pada masa yang akan datang. Ia meminta keluarganya lebih bijak menyikapi peristiwa sejarah itu.

Menurutnya jika masa lalu bisa dijadikan pelajaran khususnya dalam berpolitik. “Makanya di Bebetin ini sekarang ini kehidupan demokrasinya sangat heterogen. Masyarakatnya juga sudah sangat dewasa dalam berpolitik. Buktinya ada banyak parpol di sini, dan masyarakat tetap damai, ini bisa diambil pelajarannya,” katanya.

“Makanya, saat jadi anggota KPU Bali, saya diminta tak menyentuh dunia politik. Saya harus berusaha meyakinkan nenek bahwa politik sekarang berbeda dengan dulu,” ungkapnya. (*)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia