Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

KEREN, Desa Pakraman Sebatu Pasang Papan Edukasi Bahaya Sampah Plastik

23 Januari 2020, 07: 31: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

KEREN, Desa Pakraman Sebatu Pasang Papan Edukasi Bahaya Sampah Plastik

PAPAN PEDULI LINGKUNGAN: Papan pengumuman di depan LPD Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, yang menjelaskan berapa lama sampah plastik terurai oleh tanah. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, papan edukasi sampah plastik dipasang di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Papan tersebut berisi penjelasan terkait lamanya waktu mengurai sampah plastik berbagai jenis, dan sengaja dipasang untuk mengedukasi masyarakat terkait bahaya sampah plastik. Hal itu diungkapkan Bendesa Adat Sebatu, Wayan Lanus, Rabu (22/1) kemarin.

Lanus menjelaskan, upaya itu diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan bahan plastik. Papan edukasi mengurai sampah tersebut terpasang di pertigaan Desa Sebatu, depan LPD Desa Sebatu. Berbahan kayu, papan itu terdiri beberapa bagian, dan langsung dengan contoh sampahnya. “Intinya dengan papan ini kami sosialisasi tentang masalah sampah. Kami ingin menyadarkan masyarakat terkait bahaya sampah, itu pointnya,” jelasnya.

Pada papan tersebut, bagian paling atas terpampang tulisan “Tahukah Anda… berapa lama sampah yang anda buang terurai?”. Selanjutnya di bagian bawah ada tujuh plang yang menjabarkan terkait waktu untuk mengurai ragam jenis sampah plastik. Masing-masing plang itu pun langsung ditempeli sampah plastik.

Seperti sampah botol plastik yang baru bisa terurai dalam kurun waktu 450 tahun. Kemudian sampah kaleng yang terurai dalam waktu 200 tahun. Sampah plastik kemasan terurai dalam waktu 100 tahun. Kemudian sampah kantong plastik terurai dalam waktu 20 tahun. Puntung rokok terurai dalam waktu 10 tahun, dan botol minuman kemasan baru bisa terurai dalam kurun waktu lima tahun. Sedangkan paling terakhir menuliskan sampah yang tidak bisa terurai, dengan contoh kemasan berbahan styrofoam.

Diakui olehnya, beberapa tahun sebelumnya, dua armada sampah desa pakraman setempat hanya bergerak seminggu sekali. “Tapi sekarang armada kami harus bergerak tiga hari sekali. Itu pun kadang ada yang sampai setiap hari harus dipungut sampahnya,” ungkapnya.

Dikatakan olehnya, seluruh sampah yang diangkut itu seluruhnya dibawa ke TPA Temesi. Kini pihaknya menghimbau masyarakat setempat untuk memilah sampah, terutama sampah organik dan non organik. “Harapan kami masyarakat ikut memilah sampah,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, PLT Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gianyar I Wayan Kujus Pawitra mengatakan, di Gianyar memang sudah tumbuh kesadaran akan bahaya sampah. Dikatakan, banyak desa yang sudah serius menangani sampah, seperti Desa Guwang, Padangtegal, Pejeng termasuk Desa Pakraman Sebatu. “Memang sudah mulai tumbuh kesadaran bersama dalam pengelolaan dan penanganan sampah. Khususnya dikalangan milenial, ibu-ibu PKK, terutama para tokoh masyarakat,” terangnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia