Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Piodalan Ada Tiga Jenis, Semuanya Dipengaruhi Musim

23 Januari 2020, 15: 33: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Piodalan Ada Tiga Jenis, Semuanya Dipengaruhi Musim

Ilustrasi Piodalan (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR,  BALI EXPRESS - Bali memang banyak upacara. Salah satu yang paling sering terdengar adalah piodalan, namun tidak banyak yang tahu sejarah adanya piodalan dan maknanya.

Sebagai daerah yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura, Bali memiliki ribuan pura. Dari sekian banyak pura yang ada di Bali, dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Seperti pura Kahyangan, Pura Dang Kahyangan dan pura keluarga.

Selain menjadi tempat untuk merayakan hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan dan Perayaan Hari Raya Nyepi, pura ini juga memiliki hari rayanya sendiri yang biasanya disebut dengan Piodalan, atau dalam yang lebih lazim dikenal sebagai hari lahirnya dari Pura tersebut.

Namun secara garis besar, selain diperingati sebagai hari kelahiran, upacara piodalan juga dapat diartikan sebagai suatu upaya bagi umat Hindu untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada sang Pencipta.

Menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, selain sebagai ungkapan rasa terima kasih umat kepada Ida Sang Hyang Widhi atas segala anugrah yang diberikannya. Secara etimologi, dikatakan Ida Rsi upacara piodalan dapat diartikan sebagai hari lahir atau peringatan kelahiran sebuah pura.

“Sesuai dengan beberapa sastra seperti Kitab Bhagawad Gita, disebutkan jika sebuah Pura dianggap lahir atau ada ketika sudah dilakukan upacara ngenteg linggih,” jelasnya.

Pada saat dilakukannya upacra Ngenteg Linggih inilah Ida Bhatara diyakini sudah mulai melinggih atau berstanan di Pura atau pameranjan atau palinggih tersebut. Sehingga jika dilihat dari beberapa litertur yang ada dikatakana Ida Rsi, dapat dijelaskan jika saat dilakukan prosesi ngenteg linggih tersebut, pura diberikan kekuatan atau tenaga kehidupan atau prana oleh Ida Sang Hyang Widhi.

Sehingga setelah dilaksanakannya upacara ngenteg linggih ini, menurut Ida Rsi, pura akan memiliki fungsi sebagai pusat ritual dan spiritual bagi umat Hindu, “Sehingga saat itu, fungsi pura tida lagi sebagai kumpulan dari Bangunan palinggih, tetapi sudah menjadi stana bagi para Dewa yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi,” paparnya.

Jika melihat tata cara dan pelaksanaan piodalan di Bali, pada masa lalu, Ida Rsi menyebutkan jika dapat ditemui beberapa macam bentuk pelaksanaan piodalan. Seperti piodalan biasa, piodalan nadi serta piodalan nyepen. Dari jenis-jenis piodalan tersebut, Ida Rsi menyebutkan jika ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pelaksanaan piodalan di Bali pada masa lalu.

Adapun faktor-faktor tersebut dikatakannya tidak terlepas dari pola kehidupan masyarakat Bali pada masa lalu yang menurut Ida Rsi masih tergantung pada pola hidup agraris. Sehingga faktor-faktor pelaksanaan piodalan di Bali tidak terlepas dari pola musim, seperti musim tanam dan musim panen.

Ketika piodalan jatuh bertepatan pada musim tanam ini maka piodalan akan diselenggarakan dengan cara yang lebih sederhana. Ini karena konsentrasi masyarakat saat musim ini masih terfokus pada aktivitas menanam padi di sawah.

Namun jika piodalan jatuh pada musim panen dimana pada musim ini ketika konsentrasi masyarakat di sawah sudah selesai dan masyarakat Bali memiliki hasil panen yang melimpah, sehingga ketika piodalan jatuh pada musim ini, maka penyelenggaraan piodalan akan dibuat lebih meriah.

“Lebih-lebih jika piodalan bertepatan dengan bulan purnama, maka piodalan akan dibuat lebih meriah lagi, bahkan sampai menyelenggarakan acara hiburan,” ungkapnya.

Lantas bagaimana dengan piodalan nyepen? Ida Rsi menyebutkan pelaksanaan piodalan Nyepen atau yang juga dikenal dengan istilah ngempet piodalan pada kehidupan umat Hindu Bali di masa lalu, nyepen odalan yang berasal dari kata Nyepi/ sepi ini biasanya dilakukan oleh umat Hindu jika piodalan jatuh pada saat masyarakat menderita kekeringan atau musim paceklik.

Namun untuk masa modern seper t i saat ini , Ida Rsi menyebutkan jika hal tersebut sudah tidak terjadi lagi. Hal ini karena pola hidup manusia Bali modern saat ini sudah tidak tergantung pada pola kehidupan agraris lagi. Meski demikian, pelaksanaan ngempet odalan masih sering dilakukan jika hari piodalan jatuh bertepatan dengan adanya musibah kematian sanak keluarga dari keluarga yang menyelenggarakan piodalan tersebut.

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia