Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Piodalan Menggunakan Sistem Pawukon dan Sasih

23 Januari 2020, 15: 39: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Piodalan Menggunakan Sistem Pawukon dan Sasih

Ilustrasi Piodalan (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pelaksanaan upacara piodalan, menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti dapat dilakukan dengan dua sistem kalender yaitu, sistem Pawukon dan sistem Sasih. Untuk sistem wuku, pelaksanaan piodalan dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali karena sistem pawukon ini ditentukan oleh putaran hari yang terdiri dari tujuh hari dan putaran wuku yang terdiri dari 30 wuku.

“Atau dalam konsep Balinya dikenal dengan istilah wewaran, yang terdiri dari putaran hari, putaran wuku dan putaran wewaran lainnya, seperti tri Wara, ingkel dan sapta wara,” paparnya.

Selanjutnya adalah piodalan yang menggunakan sistem sasih, dalam pelaksanaan piodalan yang berpatokan pada sistem sasih ini, hari piodalan tidak akan tergantung pada perputaran wuku seperti piodalan pada sistem pawukuon. Selain itu rentang waktu dari pelaksanaan piodalan dengan sistem sasih ini tidak jatuh setiap enam bulan sekali, tetapi setiap satu tahun sekali.

Untuk proses penghitungannya pun, Ida Rsi mengungkapkan memiliki perbedaan dengan sistem pawukun, pada sistem sasih ini, perhitungan piodalan tidak tergantung pada hari, tetapi berpatokan pada sistem pengalihan. Karena dalam penghitungan sasih tersebut berpatokan pada sistem penanggal dan pengelong.

Adapun yang disebut dengan penanggal adalah hitungan tanggal 1 atau penanggal ping pisan menuju hari Purnama. Sedangkan Pangelong adalah hitungan tanggal 1 atau pengelong pisan menuju hari tilem (bulan mati).

“Digunakannya tegak odalan menurut sasih ini biasanya untuk menghindari terjadinya perubahan iklim dan cuaca, sehingga pelaksanaan piodalan bisa jatuh pada musim yang mneguntungkan,” tambahnya.

Jika menggunakan hitungan sasih ini, umat Hindu pada jaman dahulu dikatakan Ida Rsi biasanya menetapkan piodalan pada saat purnamaning sasih (purnama yang jatuh pada sasih/ bulan tertentu). Seperti pada purnamaning sasih kapat (purnama pada sasih/ bulan keempat), purnamaning sasih kelima, purnamaning sasih kedasa dan purnamaning sasih jyesta.

Penetapan ini dilakukan karena pada sasih-sasih tersebut, pola musim di Bali tidak masuk pada musim penghujan. “Sehingga pelaksanaan piodalan tidak terganggu oleh cuaca dan didukung oleh sinar bulan yang terang karena bertepatan dengan bulan purnama,” terangnya.

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia