Senin, 24 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features

Warga Tionghoa Nongan; Masuk Bali 1823, Imlek Ngejot, Galungan Nampah

24 Januari 2020, 06: 08: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Warga Tionghoa Nongan; Masuk Bali 1823, Imlek Ngejot, Galungan Nampah

KELUARGA LIE: Putu Lila saat menunjukkan altar di Kongco keluarga di Dusun Bukian, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, kemarin (23/1). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Alkisah sekitar tahun 1823, pria tionghoa bernama Lie Sing Hwat datang ke Singaraja untuk sebuah misi perdagangan dunia. Dia kemudian diminta oleh Raja Karangasem, Bali untuk merapat ke wilayah Nongan sebagai penjaga perbatasan Karangasem dengan Klungkung. Keberhasilan menjaga wilayah dari gempuran musuh menjadi cikal bakal eksistensi warga Tionghoa di Desa Nongan.

 

AGUS EKA PURNA NEGARA, Karangasem

PATRIOTISME jadi modal buat Lie Sing Hwat untuk memberanikan diri menghadap Raja Karangasem, sekitar tahun 1825. Saat itu, usianya masih 23 tahun. Bersama dua keponakannya, Lie Thin So dan Lie Tjin Gong, berangkat memenuhi titah sang raja.

Konon seorang perwira China, Yap Sian Liat yang berkedudukan di Singaraja, Buleleng, sangat dekat dengan raja Karangasem. Dia lah yang meminta Lie Sing Hwat dan dua keponakannya menghadap ke Karangasem. Kemudian raja Karangasem memerintah pemuda China atau Tiongkok itu pergi ke Desa Nongan, (kini sebuah desa di Kecamatan Rendang, Karangasem).

Singkat cerita, tiga orang ini berhasil mengamankan wilayah perbatasan di Bukit Jambul. Bahkan perannya menjaga perbatasan Karangasem dan Klungkung dinilai berhasil mencegah terjadinya ekspansi pihak lawan. Masyarakat di perbatasan pun tak pernah menemui gesekan sampai saat ini.

Sejarah keberadaan Lie Sing Hwat bersama keponakannya itu juga berkaitan dengan cerita kedatangan warga Tionghoa di Dusun Lampu, Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli. Dua keponakan Lie Sing Hwat, bernama Lie Tjin Gong, mendapat tugas menjaga wilayah perbatasan Bangli dengan Gianyar dan Badung setelah berhasil di Nongan bersama sang paman. Sedangkan Lie Thin So di Kembangsari, perbatasan Bangli-Buleleng.

Kedatangan Lie Tjin Gong adalah atas permintaan raja Bangli kala itu. Sang raja terkesima dengan keberhasilan para pria Tionghoa yang berhasil mengamankan wilayah perbatasan. Terbukti, kerajaan Bangli berhasil membendung serangan Buleleng dan Badung yang ingin melakuka penetrasi di wilayah perbukitan.

Demikian legenda kesetiaan etnis China di Desa Nongan dan Dusun Lampu berdasarkan versi keturunan ketiga keluarga Lie Sing Hwat. Sepak terjang keluarga Tionghoa ini pun membuat mereka menyatu dengan warga Desa Nongan hingga sekarang.

Menurut Putu Lila, 65, ketua perkumpulan keluarga Tionghoa di Dusun Bukian, Desa Nongan, peristiwa kedatangan leluhurnya tak sekadar menjadi ihwal eksistensi warga Tionghoa di Karangasem. Namun menjadi gambaran adaptasi multikultur yang terpelihara hingga kini. Ini juga menjadikan Bali menjadi kaya budaya.

Kata Lila yang bernama asli Lie Liang, ada sekitar 50 kepala keluarga keturunan Tionghoa di Bukian. Separo dari mereka juga tinggal di Denpasar. Mereka akan berkumpul tatkala upacara agama. Misalnya Imlek 2571 yang jatuh Sabtu (25/1) mendatang. "Kami keturunan Tionghoa, tapi segala kegiatan keagamaan ala Hindu, kami juga ikut. Dari lahir sampai meninggal mengikuti tradisi Hindu," kata Putu Lila ketika Bali Express (Jawa Pos Group) menemuinya di rumahnya, Kamis (23/1). 

Dia menceritakan bagaimana kerukunan antaretnis berjalan beriringan. Misalnya saat Imlek, keluarga marga Lie akan memberikan aneka makanan maupun jajan, sama seperti warga Hindu ketika melakukan ngejot. Begitu pula sebalikanya saat Galungan atau Kuningan. "Kami juga biasa nampah (sembelih) hewan," imbuh Lila.

Dia mencontohkan, ketika ada warga Tionghoa meninggal dunia, mereka akan menjalankan sebuah ritual bernama Cekongtik. Mirip prosesi ngaben di Hindu Bali. Sesaji maupun banten juga dipergunakan. Ritual penyucian arwah juga melibatkan pemangku, ditambah ritual dan doa ala Tionghoa.

Beberapa lama berbincang, Putu Lila mengajak Bali Express melihat-lihat suasana rumahnya. Persiapan Imlek di rumah keluarga sederhana ini tidak begitu terlihat berlebihan. Mereka hanya menyiapkan pernak-pernik bercorak merah secukupnya. "Biasanya kalau Imlek yang ditunggu itu angpao. Anak-anak suka. Mereka pasti akan ingat siapa saja keluarganya, siapa kakeknya. Itu pesan pemberian angpao," ucap kakek berperawakan mungil itu.

Kemudian Lila mengajak melihat kongco yang ada di sebelah utara rumahnya. Di sana terdapat dua ruangan berisi altar. Altar pertama untuk pemujaan dewa-dewa seperti keyakinan Tionghoa. Kedua, altar pemujaan anggota keluarga yang sudah meninggal. Terdengar musik-musik suci serta pernak-pernik kertas merah.

Di depan bangunan kongco, namun masih dalam satu pelataran, terdapat merajan berukuran kurang lebih 5 kali 4 meter, berisi beberapa palinggih. Di sini keluarga Lila melakukan persembahyangan menurut Hindu. "Kami juga sangkep (rapat) di sini. Khusus keluarga Tionghoa jelang piodalan setiap purnama kalima," imbuhnya.

Biasanya, keluarga Lie akan membuat dodol untuk kebutuhan persembahyangan. Menariknya, dodol ketan khas Nongan itu lebih banyak dibuat saat Galungan dan Kuningan. Kata dia, dodol akan banyak dipakai untuk mengisi sesaji yang dihaturkan di pura-pura. Kalau Imlek, dodol tidak terlalu banyak dibutuhkan.

Yang menarik dari keluarga Lie di Dusun Bukian, setiap kegiatan adat, mereka selalu dilibatkan. Dari upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, sampai Butha Yadnya. Perkumpulan warga peranakan di Dusun Bukian mengikuti persembahyangan berpakaian adat Hindu. "Kami sudah hidup rukun. Bahkan kami memang bagian warga Desa Nongan yang tidak terpisahkan. Sudah menyatu sejak lama," pungkas Lie menegaskan. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia