Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Kolom
ESAI IMLEK

Tak Sekadar Berbagi Angpao

Oleh: Liem Surya Adinata*

24 Januari 2020, 06: 28: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Sekadar Berbagi Angpao

Liem Surya Adinata (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

HARI Raya Imlek 2571 telah tiba, perayaannya senantiasa ditunggu-tunggu oleh keturunan Tionghoa. Berbagai pernak pernik Imlek pun telah dipasang memenuhi sudut kota. Mulai dari lampion dan berbagai gantungan yang berwarna merah dan emas. Suasananya khas dan begitu meriah.

Pada jaman dulu perayaan Imlek identik dengan kegembiraan menyambut musim semi dari musim dingin di Tiongkok. Kini, dalam menyambut hari raya Imlek umumnya ditingkat rumah tangga, umat melakukan beberapa kegiatan. Seperti membersihkan cetya atau tempat suci dan abu leluhur yang ada dirumah masing-masing. Abu leluhur yang dimaksudkan bukan abu jenasah tetapi abu sisa pembakaran dupa. Abu leluhur ini juga sebagai simbolisasi umat dalam menghormati leluhurnya.

Selain persiapan ditingkat rumah tangga, umat juga melakukan persiapan menyambut hari raya Imlek di Kongco Bio atau Vihara. Di Tabanan sendiri hal itu dilakukan di Kongco Bio atau Vihara Dharma Cattra yang berlokasi di Jalan Melati nomer 18, Tabanan. Adapun bentuk persiapannya berupa kerja bhakti, bersih-bersih dan menghias Dharmasala, Bhaktisala dan Pagoda Kwam In. Termasuk pula memperindah halamannya dengan memasang ratusan lampion.

Sebagaimana halnya warga lokal (Hindu) Tabanan yang memiliki tradisi ngejot, menjelang hari raya Imlek umat juga melakukan tradisi ngejot. Umumnya dalam budaya ngejot sebelum hari raya Imlek ini berupa makanan yakni aneka kue, lauk dan buah-buahan. 

Untuk di Tabanan persembahyangan hari raya Imlek sendiri berlangsung sehari sebelum Imlek. Persembahyangan dimulai di Cetya dan leluhur. Umat yang ada di kota Tabanan kemudian melanjutkan persembahyangan di Kongco Bio atau Vihara Dharma Cattra. Adapun umat yang diperkirakan hadir mencapai ribuan orang. Kemudian pada setiap perayaan Imlek ada beberapa sarana yang wajib ada. Seperti kue keranjang sebagai simbol penyambutan tamu, manisan segi delapan sebagai anugerah yang terus mengalir dan siumi atau mie panjang sebagai simbol anugerah panjang usia. Selain itu juga wajib ada buah-buahan, khususnya buah jeruk Mandarin dan tebu sebagai simbolisasi kemakmuran.

Usai bersembahyang hal yang tidak boleh dilewatkan adalah bersilahturami. Mengunjungi sanak saudara kemudian berkumpul di rumah tua. Tujuannya selain mengucapkan selamat tahun baru Imlek, juga untuk mempererat tali persaudaraan dan kerukunan. Agar keluarga satu dengan lainnya saling mengenal, apalagi jika keluarga tersebut terdiri dari banyak generasi milenial.

Dan tentunya kumpul-kumpul saudara tersebut juga menjadi moment untuk berbagi angpao, tradisi yang paling ditunggu-tunggu bagi umat yang belum menikah. Sebab angpao diberikan oleh umat yang sudah menikah kepada sanak saudaranya yang belum menikah.

Tradisi berbagi angpao itu tujuannya untuk memperlancar rejeki. Hanya saja selama ini saya tak pernah memberi angpao dengan mengharapkan mendapatkan timbal balik. Namun memberi angpao dengan ikhlas untuk melestarikan tradisi dan memaknai Imlek itu sendiri. Apalagi dijaman modern seperti saat ini kumpul-kumpul dengan keluarga besar sangat sulit dilakukan ditengah terbatasnya waktu dan kesibukan para anggota keluarga. Sehingga meskipun isi angpao tidak seberapa namun bisa membuat Imlek lebih bermakna.

Lima belas hari kemudian setelah Imlek atau bertepatan dengan hari purnama, umat selanjutnya merayakan Cap Go Me dan siejid (ulang tahun Kongco). Yang mana pada hari tersebut umat melakukan sembahyang Cie Swak atau sembahyang tolak bala. 

Adapun tujuan sembahyang Cie Swak ini untuk menetralisir pengaruh negatif shio yang tahun ini merupakan tahun dengan shio tikus logam. Adapun yang ciong atau kurang beruntung di shio tikus logam ini adalah mereka yang bershio kuda, ayam, kelinci dan shio tikus.

Pada tahun tikus logam ini,  diberharap agar toleransi antar umat beragama yang sudah terjalin baik di Tabanan khususnya dan di Bali pada umumnya bisa terus dijaga. Khususnya dijaga dan dilestarikan oleh kaum milenial yang akan meneruskan hubungan yang sudah terjalin dengan baik tersebut. (*)

*) Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan, Sosial, dan Budaya Yayasan Kerthayasa Tabanan.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia