Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Cara Sederhana Rayakan Tumpek Wariga

24 Januari 2020, 20: 06: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Cara Sederhana Rayakan Tumpek Wariga

SYUKUR : Membiasakan doa sebelum makan dan bersyukur, juga implementasi nyata memaknai Tumpek Wariga. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Tumpek Wariga yang juga dikenal dengan nama Tumpek Bubuh adalah hari penting umat  Hindu Bali, sebagai bentuk penghormatan untuk alam. Tradisi ini identik dilakukan  petani dengan mabanten di kebun. Lalu, bagaimana dengan umat yang bukan petani memaknai momen ini?

Tumpek Wariga jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga atau tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Umat Hindu akan menghaturkan banten kepada tumbuh-tumbuhan  di kebun ataupun sawah.  Persembahan kepada tumbuhan ini bukanlah sebagai bentuk pemujaan umat Hindu kepada tumbuhan, namun lebih ke dalam rasa menghargai.

Dijelaskan Dekan Fakultas Agama Hindu, Seni dan Budaya Universitas Negeri Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Drs I Putu Sarjana MSi,  Tumpek Wariga adalah pemujaan kepada Dewa Sangkara. Tumpek Wariga yang identik dengan tumbuh-tumbuhan menjadi bagian tidak terpisahkan dari sarana pemujaan kepada Tuhan. Hal ini dituangkan di Bhagawad Gita Bab 9 sloka 2 : Patram puspam phalam toyam, ye me bhaktya prayacchati, tad aham bhkaty-upahrtam, asnami prayatatmanah.

“Patram, puspam dah phalam, yakni daun, bunga dan buah adalah sarana sembahyang, dimana ketiganya dihasilkan dari tumbuhan. Ini sebabnya jasa tumbuhan begitu besar. Sudah menghasilkan makanan untuk manusia, sembahyang pun menggunakan bagian dari tumbuhan. Tidak salah, maka momen Tumpek Wariga adalah hari rasa syukur kita pada tumbuhan,” terang Putu Sarjana kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ).

Ucapan saat ritual ' Nini Nini, buin selae dina Galungan. Mabuah apang nged nged nged, lanjutnya, memiliki arti nenek nenek, 25 hari lagi Galungan, berbuahlah yang banyak.

Dikatakan Putu Sarjana, mantra atau ucapan sederhana ini, membuktikan bahwa leluhur umat Hindu begitu bagus karena langsung dalam praktik keagamaan, tanpa banyak teori. “Dahulu belum mengenal Tri Sandya, leluhur kita lebih ke mempraktikkan ke praktik sembahyangnya. Jadi, selalu ada momen khusus dalam mengucap syukur. Semisal tumpek ada enam, tiap tumpek punya makna khusus. Seperti Wariga ini. Inilah kehebatan leluhur. Walau teori agama tidak pintar, tetapi praktik mereka sangat bagus. Tidak banyak bicara dalam menghargai lingkungan,” ungkap pria yang berasal dari Buleleng tersebut.


Tergerusnya keberadaan petani, membuat selama ini pelaksanaan hari raya Tumpek Wariga akhirnya lebih condong hanya dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai petani. Kondisi ini muncul, lanjutnya, karena orang kota atau perantau tidak punya tanaman atau lahan, sehingga sebagian menganggap tumpek ini dirayakan oleh petani saja.  “Iya, harus realistis karena orang kota pekarangannya sempit, jarang bisa menanam tanaman di rumah,” ujar pria yang sudah menjadi dekan dua tahun ini.
Tumpek Wariga mengajak manusia Hindu menghargai alam dan lingkungan." Pemujaan kepada Dewa Sangkara, Dewa tumbuh-tumbuhan megajak kita untuk merawat lingkungan, menjaga pohon yang menghasilkan oksigen dan memberi kesejukan," paparnya.


Ia menyarankan bagi umat yang tidak mempunyai pohon atau tanaman, memaknai Tumpek Wariga bisa memilih jalan lebih sederhana. Walaupun sederhana, namun maknanya tetaplah sama.


Cara sederhana, mulai dengan melakukan banten saiban usai memasak secara rutin, kemudian setiap makan selalu ingat berdoa. “ Biasakan doa sebelum makan,  sebagai bentuk wujud syukur kepada Tuhan karena masih ada makanan untuk dimakan. Cara ini juga secara langsung kita menghargai tumbuhan yang menghasilkan makanan itu,” papar Putu Sarjana.


Selain itu, biasakan makan sesuai kebutuhan, hindari banyak sisa sehingga akhirnya terbuang sia-sia. Tak disangkalnya kebiasaan buruk tersebut karena seseorang berpikir ada cukup uang dan tinggal beli.
Tumpek Wariga, sebagai momen bagus untuk mengingat ini, mengingat perjuangan petani juga.

 “Ada uang, namun tidak ada beras dan bahan pokok lainnya yang dipanen kan sama saja. Tidak bisa makan juga,” ungkapnya.


Tidak hanya menghargai makanan.  Juga menyarankan  umat yang tidak bekerja sebagai petani, namun punya pohon mangga atau lainnya di pekarangan rumah, bisa juga mempersembahkan  banten di pohon tersebut.  Hal itu menurutnya bagus, bahkan pengalamannya, pohon menjadi lebih rajin berbuah. “Buktikan saja, pasti berkah hasilnya,” ucapnya.


Terakhir adalah soal pantangan dalam Tumpek Wariga.  Pantangan ini, lanjutnya, tidak mengikat, namun hanya sebuah saran. " Sebaiknya tidak dilakukan umat ketika Tumpek Wariga adalah menebang pohon, hingga memetik buah maupun bunga. Paling baik dijadikan momentum untuk menanam pohon di Tumpek Wariga. Hal ini sangat bagus sekali. Kita bisa menyeimbangkan dan menyerasikan alam dengan diri kita melalui aksi nyata merawat lingkungan,” pungkas Putu Sarjana.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia