Sabtu, 11 Jul 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Daun Sirih Ampuh sebagai Obat Luar dan Dalam, Waspadai Efek Negatifnya

28 Januari 2020, 14: 34: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Daun Sirih Ampuh sebagai Obat Luar dan Dalam, Waspadai Efek Negatifnya

FORMULA: Ir Nyoman Prastika tunjukkan sirih dan formula yang bias dibuat untuk pengobatan. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam pemanfaatannya, bagian sirih yang lumrah digunakan adalah daun. Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Ir. I Nyoman Prastika, M. Si saat ditemui Bali Express di ruangannya, Selasa (27/9/2016) lalu, mengatakan bahwa di dalam lontar Taru Pramana sirih disebut base atau sedah dan memiliki berbagai manfaat. Berdasarkan hal tersebut, sirih bisa digunakan sebagai obat luar dan dalam.

Sebagai obat luar, sirih bisa digunakan untuk menyadarkan orang yang pingsan, mimisan, gatal-gatal, dan mengurangi susu ibu. Dalam hal ini, sirih bisa digunakan secara langsung dengan diremas, ditumbuk, atau dijus sehingga menjadi hancur. Tanaman obat yang diolah dengan cara ini biasa disebut boreh oleh masyarakat Bali. Khusus untuk mimisan, biasanya hanya diremas agar tidak terlalu hancur dan ditempelkan pada lubang hidung untuk menghentikan pendarahan.

Selanjutnya sirih juga bisa digunakan sebagai obat dalam seperti batuk, sariawan, keputihan, maag, sakit jantung, iritasi pada mata, dan diabetes. Untuk obat dalam biasanya daun sirih diseduh atau direbus. Bahkan, lebih modern kini telah tersedia dalam bentuk serbuk dan tablet. Khusus untuk iritasi mata, di Bali ada kebiasaan unik dalam pengobatan menggunakan sarana daun sirih. Biasanya dipilih sirih yang bertemu uratnya, kemudian dipotong pada ujungnya. Sirih tersebut kemudian digunakan untuk menampung tetesan air susu ibu. Nah, air susu ibu yang ada di atas daun sirih tersebut kemudian diteteskan perlahan pada mata yang sakit.

Sedangkan untuk pencegahan, Prastika mengatakan daun sirih bisa dikonsumsi setiap hari dengan cara diambil sehelai daun sirih dan diseduh dalam gelas kaca. “Misalnya malam diseduh, minum pagi hari. Bisa dua kali sehari. Enam jam dianggap semua zat larut dalam air,” ujarnya. “Efektif untuk menghilangkan bau mulut dan perlahan menghentikan kebiasaan merokok. Alergi juga bisa hilang,” imbuhnya.

Di samping bermanfaat, Prastika juga memperingatkan efek negatif daun sirih. “Karena sirih mencegah diare, jika kebanyakan dikonsumsi, maka akan menyebabkan susah buang air besar,” ujarnya. Oleh karena itu, jika senang mengonsumsi sirih hendaknya diimbangi dengan makanan yang banyak mengadung serat seperti buah-buahan dan sayur.

Mengenai tata cara persebusan, Prastika mengatakan yang perlu diperhatikan jumlah helai daun sirih. “Umumnya di Bali menggunakan jumlah ganjil. Minimal tiga, kalau satu terlalu sedikit,” ujarnya. Diusahakan pula agar urat daun sirih tersebut bertemu. Dalam perebusan, ia menyarankan agar menggunakan panci berbahan teflon agar tidak bereaksi dengan zat-zat yang terkandung dalam tanaman. “Paling bagus gunakan panci tanah atau payuk,” jelasnya. Setelah itu, dalam perebusan usahakan air yang dari satu menjadi setengah karena dengan pengurangan air menjadi setengah tersebut, dianggap segala zat yang terkandung dalam daun sirih sudah larut dalam air. “Misalnya dari dua gelas menjadi satu gelas,” ujarnya.

Mengenai pencampuran dengan bahan lain, Prastika mengatakan perlu dipahami fitofarmaka (kandungan obat) dalam tanaman atau bahan lainnya. “Kalau khasiatnya sejuk untuk menambah khasiatnya dicampur dengan tanaman lain yang juga berkhasiat sejuk. Kalau ditambah dengan tanaman berkhasiat panas, maka khasiatnya bisa turun,” jelasnya.

Selanjutnya, pria yang juga berprofesi sebagai pamangku tersebut, mengatakan,apabila ingin lebih mujarab, perlu mantra dalam penggunaan obat. “Sederhananya mulai dan akhiri dengan mantra “Om” serta gunakan bahasa yang mudah dimengerti untuk mohon kesembuhan kepada Tuhan melalui sarana yang kita gunakan,” ujarnya. Dengan adanya doa, maka keyakinan seseorang dikatakan akan lebih mantap. Sementara itu, di UNHI sendiri Prastika mengatakan sudah memanfaatkan sirih sebagai obat. “Ada bentuk cair, padat, bubuk, dan kapsul,” ujarnya. Obat-obat tersebut biasanya diberikan kepada orang yang membutuhkan saat kegiatan pengabdian masyarakat.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news