Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bali Under The Moon
icon featured
Bali Under The Moon

Tujuh Tahun Jadi DJ, Edi Wikarma Hindari Seks Bebas hingga Narkoba

29 Januari 2020, 12: 38: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tujuh Tahun Jadi DJ, Edi Wikarma Hindari Seks Bebas hingga Narkoba

TERBATAS : DJ Edi perfom masih terbatas, dan berharap dapat ruang khusus untuk DJ lokal. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Menjadi disc jockey (DJ) tidak lepas dari dunia malam. Bahkan, kerap diidentikkan dengan alkohol, seks bebas hingga narkoba.

Tak ingin kian merusak profesi seorang DJ, Kadek Edi Wikarma Putra pun perlahan ingin mengubah stigma negatif itu dengan lebih mengutamakan etika saat perform.

Ditemui seusai tampil di acara Live DJ Pro 2 RRI Singaraja pekan kemarin, pria asal Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan ini, mengaku sudah tujuh tahun malang melintang di dunia DJ. Berbagai pengalaman pun sudah diperoleh.

Baca juga: Marco Punx Bali Rilis Lagu Punk Ci Nawang

Namun, Edi tetap mengutamakan etika saat tampil. Ia pantang ikut 'larut' dengan menenggak alkohol saat tampil. “Berusaha menghindari alkolol, seks bebas, apalagi narkoba,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Edi menyebut menjadi seorang DJ adalah hobi. Apalagi bisa menghibur orang banyak, tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Ia melakoni hobi itu sejak  2014 silam. Kala itu dirinya kerap mendengarkan lagu-lagu DJ yang membawa suasana berbeda.

“Misalnya saat lagi tidak mood, ketika dengar lagu DJ justru  bikin semagat. Karena beatnya sangat keras. Ya lumayan buat suasana beda lah,” imbuh pria kelahiran 8 Desember 1987 silam ini.

Hobi main dengan turning table DJ itu ia pelajari secara otodidak. Belajar dari teman yang sudah berstatus profesional jadi DJ di Buleleng. Proses belajar ia lakukan dari nol. Lagunya, sebut Edi, juga agak kebarat-baratan. Sehingga genrenya lebih condong ke Electro House.

Warna musiknya selama ini banyak diinspirasi oleh DJ Carlo Atendido asal Filipina. Belajarnya pun juga ia lakukan lewat Youtube.“Belajarnya memang lumayan sulit meskipun di era digital, khususnya penyamaan beatnya. Apalagi harus gunakan feeling. Misalnya ketika satu lagu diputar, maka harus berirama, jangan sampai kacau,” bebernya lagi.

Dunia DJ di Buleleng sejauh ini, lanjut Edi, memang sudah berkembang. Hanya belum begitu diekspos. Ia mengaku  banyak DJ asal Buleleng yang berkarier di Denpasar, utamanya beach club. “Ada juga yang main  di Jogja,” jelasnya.


Agar tak menambah citra negatif seorang DJ, Edi pun menghindari mabuk-mabukan, obat terlarang dan seks bebas seusai perform. “Setelah masuk dunia DJ memang dicap hal-hal negatif, sehingga harus diutamakan menjaga etika. Di sanalah seorang DJ ada kelebihan tersendiri,” ungkap suami Ni Putu Sri Ratna Dewi ini.


Sejauh ini, Edi acap kali tampil di ajang parti kecil. Seperti birth day party hingga colour run. Namun, ia pun memiliki cita-cita untuk perform di Beach Club Denpasar. Seperti Fins maupun Omnia.


Saat ini, komunitas DJ di Buleleng mencapai 30-an orang. Edi mengaku jika kebanyakan DJ di Buleleng beharap agar pengelola hotel, vila mupun beach club di Buleleng lebih mengutamakan menggunakan DJ asal Buleleng dibandingkan DJ luar.


“Cobalah menggunakan DJ lokal terlebih dulu. Toh juga dari sisi kemampuan  tidak jauh beda. Apalagi mereka mendirikan hotel atau vila di Buleleng, ya setidaknya lebih menghargai DJ lokal lah. semoga bisa diperhatikan oleh para owner,” harapnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news