Sabtu, 04 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Virus Korona yang Ditakuti Dunia; Gejala Awal Batuk, Flu, hingga Demam

30 Januari 2020, 17: 36: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Virus Korona yang Ditakuti Dunia; Gejala Awal Batuk, Flu, hingga Demam

KORONA: Dr. dr. Ida Sri Iswari. SpMk. Mkes, Kepala Instalansi Laboratorium Terpadu RSUP Sanglah saat diwawancarai kemarin. (NI MD. WIGRAYENI TRESNAYATI/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Virus korona tengah menjadi isu hangat dunia internasional beberapa waktu terakhir. Sejumlah negara membatasi penerbangan dari dan ke Tiongkok, terutama Kota Wuhan, tempat yang diyakini awal mula tersebarnya virus mematikan ini. Lantas, seperti apa sebenarnya virus korona?

Virus korona dapat menyebabkan beragam penyakit mulai dari flu, batuk, demam hingga kematian. Virus korona menyebar seperti virus influenza pada umumnya, menyebar melalui udara. Upaya pencegahan dapat dilakukan adalah dengan mencuci tangan menggunakan air dan sabun serta menggunakan masker saat bepergian.

Virus korona atau 2019-nCov telah menyebar luas ke berbagai negara. Secara global ada 16 negara yang sudah mengkonfirmasi positif terhadap virus ini. Korona disebut mirip Server Acute Respiratory Syndrome (SARS). Pemerintah Tiongkok dikabarkan telah membangun dua rumah sakit di Wuhan, khusus untuk pasien yang terjangkit virus, yaitu Huoshenshan Hospital dan Leishenshan Hospital.

Dr. dr. Ida Sri Iswari. SpMk. Mkes, Kepala Instalasi Laboratorium Terpadu RSUP Sanglah, menjelaskan bahwa 2019-nCov adalah virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Virus ini bisa menular melalui manusia ke manusia. Menurut Ida Sri Iswari, virus ini dapat menyebar melalui udara atau air ludah, proses penyebaran virus ini melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk ke dalam tubuh. Virus ini masuk melalui saluran nafas atas (hidung dan mulut), lalu ke tenggorokan hingga menyebabkan pasien mengalami sesak nafas atau kegagalan pernafasan. “Itulah mengapa virus ini berat karena bukan lagi hanya menyebabkan flu atau influenza tapi juga menyebabkan pneumonia,” kata Ida Sri Iswari, Rabu (29/1).

Ida Sri Iswari menjelaskan virus korona atau 2019-nCov memiliki gejala yang sama dengan infeksi virus pernafasan lainnya. Ida Sri Iswari mengatakan gejala ringan yaitu flu disertai batuk. Kemudian jika memberat akan menyebabkan demam dan infeksi radang tenggorokan. Kendati demikian, penelitian terhadap virus ini masih terus dilakukan untuk mengetahui secara pasti asal dari virus ini. “Gejala-gejala dari virus corona ini flu, batuk, demam tinggi, lalu menyerang saluran pernafasan. Belum diketahui virus ini termasuk virus murni atau dari hewan yang dicurigai seperti kelelawar, ular, musang. Atau bisa juga virus bebas yang masuk ke tubuh hewan lalu menular ke manusia. Itu yang masih dilakukan penelitian,” ujar Ida Sri Iswari.

Menurut dokter Ida Sri Iswari, virus ini hidup di daerah yang cuacanya lembap dan dingin. “Virus ini hidup di daerah dingin, cuacanya lembap. Virus ini bisa mati dengan suhu 52 sampai 56 derajat celcius dan akan terbunuh apabila terkena sinar matahari. Makanya jika belum ada ruang isolasi setidaknya ruangan harus terkena sinar matahari,” imbuhnya.

Prosedur yang dilakukan terhadap pasien terduga mengidap virus corona adalah dengan menempatkannya dalam ruang isolasi. Tujuannya agar penularan ke orang lain dapat dicegah. Jika terduga masih menunjukan gejala awal maka pasien akan mendapatkan obat demam, batuk dan flu serta didukung makanan yang sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan virus. Jika gejalanya hilang dan hasilnya negatif, pasien kemudian akan dipulangkan.

Kemudian, kata Ida Sri Iswari, masyarakat diharapkan tetap waspada dan selalu menjaga kebersihan, karena virus ini belum ada antivirus dan vaksinnya. “Selalu mencuci tangan usai ke tempat umum atau menyentuh alat-alat publik karena berpotensi mengandung virus yang disentuh oleh pengidap virus corona. Tidak lupa juga, untuk menggunakan masker saat di ruang publik, karena belum ada vaksin jadi harus waspada,” kata dokter Ida Sri Iswari.

Sosialisasi tentang virus korona di masyarakat dirasa belum memadai. Bali salah satu kota besar yang mayoritas dikunjungi oleh warga negara Tiongkok baik untuk berwisata ataupun berbisnis. Salah satunya, Mega, 23, mahasiswi perguruan tinggi di Bali, mengungkapkan belum mendapatkan sosialisasi resmi dari pemerintah. “Belum ada info dari pemerintah, tidak tahu yang lainnya. Saya tahu hanya dari berita saja itu juga bacanya sekilas-kilas, tapi sih saya tidak terlalu khawatir, masih beraktivitas seperti biasa, misalnya lusa masih jalan-jalan ke pantai. Di pantai kan banyak wisatawan asing dari Tiongkok tapi saya gak terlalu parno atau jaga jarak,” ujar Mega. (yin)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news