Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Penerbangan RTT Ditutup, Gubernur Minta Genjot Wisatawan Negara Lain

03 Februari 2020, 20: 44: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Penerbangan RTT Ditutup, Gubernur Minta Genjot Wisatawan Negara Lain

PERTEMUAN : Pertemuan Gubernur Bali dengan beberapa OPD dan pihak terkait di Jaya Sabha, Senin sore (3/2), membahas kebijakan penundaan penerbangan dari dan ke RRT. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Wabah penyakit yang disebabkan virus corona membuat pemerintah Republik Indonesia akhirnya mengeluarkan kebijakan penundaan penerbangan dari dan ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kebijakan ini terhitung mulai berlaku mulai Rabu (5/2).

Suka tidak suka, keputusan itu mesti diikuti. Tidak terkecuali oleh pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, meskipun jumlah kunjungan wisatawan ke Bali selama ini didominasi dari RRT, atau urutan kedua setelah wisatawan Australia.

Terkait itu, Senin (3/2), Pemprov Bali menggelar pertemuan dipimpin langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pertemuan itu dihadiri juga oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Kepala Dinas Pariwisata Bali I Putu Astawa, dan beberapa asosiasi pariwisata.

Sayangnya, pertemuan yang berlangsung di rumah jabatan Gubernur Bali tersebut berlangsung tertutup. Namun pada intinya, pertemuan itu membahas soal penundaan sementara penerbangan dari dan ke RRT yang akan diterapkan di Bali.

Kendati demikian, dalam siaran persnya, Gubernur Koster menegaskan, kendati wabah virus corona melanda dunia, Bali masih sangat siap untuk menerima kedatangan wisatawan mancanegara, karena Bali memiliki sistem monitoring yang baik. Hal itu sudah teruji sejak kasus flu burung atau SARS pada tahun 2003.

Berdasarkan data, dari 73.073 wisatawan RRT yang datang ke Bali sejak 13 Januari 2020 lalu, sampai saat ini memang ada beberapa orang yang diduga sakit. Jumlahnya sebanyak 18 orang. Setelah dilakukan pengawasan intensif dan uji laboratorium, ternyata tidak ada yang terpapar virus tersebut.

 “Bali sangat aman dan sangat siap menerima kedatangan wisatawan dari berbagai belahan dunia. Dengan produk pariwisata yang prima, tidak ada alasan sama sekali bagi wisatawan untuk khawatir,” tegas Koster sebagaimana disebutkan dalam siaran persnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bali  I Putu Astawa, menegaskan, bagaimanapun keputusan penundaan penerbangan yang ditetapkan pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan RI, mesti ditindaklanjuti. “Ini kan keputusan nasional. Kami di daerah harus menindaklanjuti,” tegasnya.

Disinggung kemungkinan kebijakan ini akan berpengaruh terhadap ekonomi Bali, Astawa tidak menampiknya. Hanya saja, untuk menilai seberapa besar pengaruhnya, pihaknya perlu waktu untuk menghitungnya. “Yang jelas kerugian ekonomi pasti ada. Besarnya mungkin perlu waktu untuk menghitungnya,” ujarnya.

Namun sebagai gambaran awal, dia menyebutkan, pada Januari 2020 terhitung high season untuk wisatawan RRT, sehubungan dengan libur Imlek. Namun saat yang sama, wabah penyakit yang disebabkan virus corona muncul sehingga diprediksikan ada 15 ribu sampai 17 ribu wisatawan RRT dibatalkan keberangkatannya ke Bali.

 “Menurut informasi market RRT, rencananya ada 17 ribu orang datang ke Bali. Tapi nggak jadi. Itu perkiraan di bulan ini saja,” ungkapnya.

Karena itu, sambung dia, dalam pertemuan Senin (3/2) Gubernur juga menegaskan agar situasi ini disiasati dengan menggenjot pasar wisata ke negara lainnya. “Ke Australia, India, Eropa,  termasuk juga domestik atau wisatawan nusantara jangan dikesampingkan,” pungkasnya.

Terkait wabah virus corona, Dinas Kesehatan Bali bersama beberapa pihak terkait memberikan keterangan soal kesiapan dalam mengantisipasi menularnya penyakit tersebut. Salah satunya dengan memperkuat koordinasi bersama pihak terkait di pintu perbatasan negara dan wilayah.

Salah satunya melalui Bandara Internasional Ngurah Rai. Dalam pengawasan yang dilakukan dari 26 Januari sampai 1 Februari 2020, ada 716 pesawat yang diawasi. Dari jumlah itu, 118 pesawat di antaranya datang dari RRT. Sisanya, 598 pesawat dari negara lain.

Sementara untuk penumpang, jumlah yang telah dipantau sebanyak 90.836 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 8.251 orang datang dari RRT. Sisanya, 82.585 orang dari negara lain.

Itu baru penumpang saja. Belum lagi jumlah kru pesawat. Totalnya ada 5.924 orang. Dari RRT sebanyak 1.308 orang. Sementara dari negara lainnya sebanyak 4.616 orang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bali, dr Ketut Suarjaya, menjelaskan, saat ini pihaknya sudah menyiapkan tiga rumah sakit rujukan yang memiliki ruang isolasi standard. Tiga rumah sakit itu terdiri dari RSUP Sanglah, BRSUD Tabanan, dan RS Gianyar. “Rumah sakit swasta juga memenuhi standard. Jaga-jaga juga untuk bisa menampung di tempat lain,” jelasnya.

Selain itu, dia juga menjelaskan, sampai sejauh ini warga asing yang terpapar virus corona masih nihil. Sekalipun ada beberapa yang sempat diduga terpapar dan menjalani observasi di RSUP Sanglah. Saat ini, sambung dia, ada satu orang yang masih diobservasi, karena harus menunggu hasil laboratorium. Pasien tersebut berusia 12 tahun.

“Saat ini masih kami observasi. Satu lagi, pasien anak-anak, masih dalam tahap observasi di Sanglah. Sambil menunggu hasil lab. Tadinya juga ada pasien dewasa. Tapi hasil diagnosanya justru bronchitis. Tinggal satu lagi, yang anak-anak itu. Kondisinya saat ini sudah membaik. Demamnya juga sudah turun. Sesaknya sudah hilang. Tapi kami jaga-jaga saja, sambil menunggu hasil lab,” tegasnya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia