Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bisnis

Pria Asal Busungbiu Bikin Printer 3D, Bisa Cetak Patung

04 Februari 2020, 21: 25: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pria Asal Busungbiu Bikin Printer 3D, Bisa Cetak Patung

INOVATIF: I Putu Agus Swastika menunjukkan hasil printer buatannya di Lumintang, Selasa (4/2). (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Karya inovatif dari I Putu Agus Swastika dipamerkan di Maker Space di Gedung Dharmanegara Alaya, Lumintang, Denpasar, Bali. Karya berupa Printer 3D ini dapat digunakan untuk mencetak miniatur patung serta sovenir acara.

Printer 3D ini sudah dikembangkan sejak tahun 2018 lalu dengan dana hibah dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti). Namun alat ini baru bisa dirilis tahun 2019. Teknologi Printer 3D yang dikembangkan oleh I Putu Agus Swastika ini merupakan printer 3D pertama yang ada di Bali. Printer ini mampu memproduksi benda tiga dimensi seperti patung, cetakan kue, hingga sovenir acara. Bahkan kini pria asal Desa Pucak Sari Kecamatan Busungbiu-Buleleng, ini tengah mencoba membuat ogoh-ogoh yang diproduksi menggunakan printer 3D ini.

Cara kerja printer ini terbilang mudah. Cukup dengan memasukkan design dari memory card ke dalam card reader, lalu printer ini akan membaca design yang diminta. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan produknya adalah bahan plastik ramah lingkungan berbentuk menyerupai tali yang disebut filamen.

Ditemui di ruang Maker Space, Agus Swastika mengaku mengembangkan teknologi printer ini dari internet. Ia pun menegaskan teknologi semacam ini akan sangat dibutuhkan di masa mendatang.

“Saya belajarnya dari internet. Di luar negeri seperti China, ini sudah sangat berkembang. Bahkan di China teknologi ini sudah bisa dipakai untuk mencetak rumah,” tuturnya.

Agus Swastika menambahkan, ia bersama dengan timnya kini tengah menggarap design Pura Ulun Danu Bratan menggunakan Printer 3D ciptaannya tersebut sebagai souvenir. Untuk mengerjakan patung dengan ukuran kecil dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. “Paling sebentar waktu cetak itu bisa sampai 3 jam. Dan paling lama bisa mencapai 8 jam, tergantung ukuran yang dibuat,” ungkapnya.

Selain menjual hasil karya dari printer 3D itu, ia juga menjual printer rakitannya dengan harga Rp 3,5 juta. Apabila printer dilengkapi dengan laser ia membandrol hingga Rp 4,5 juta. “Kalau ada lasenya lebih mahal dia. Karena ada tambahan alat. Biasanya buat bikin dompet kalau ada lasernya. Atau bisa juga yang lain. Dalam setahun bisa menjual 30 buah printer,” imbuhnya. Printer 3D ciptaanya yang kini bernaung di bawah PT. Start Up 3D Bali telah memiliki hak cipta. (dhi)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia