Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Dalem Ulunsuan, Tempat Terima Tamu Niskala dari Luar Negeri

07 Februari 2020, 19: 32: 06 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pura Dalem Ulunsuan, Tempat Terima Tamu Niskala dari Luar Negeri

Pura Dalem Ulunsuan, Tempat Terima Tamu Niskala dari Luar Negeri (AGUS SUECA/BALI EXPRESS)

Share this      

Pangempon Pura Dalem Ulunsuan di Banjar Abiantimbul, Pemecutan Klod, Denpasar Barat bisa jadi  yang paling  kreatif. Demi mengurangi beban umat, sejak dua puluh tahun lalu, laba pura dibuat modern hingga lebih produktif. Bagaimana inovasi yang dilakukan?
MENYUSURI Jalan Imam Bonjol dari utara ke selatan, akan terlihat dominasi  kompleks pertokoan di sisi kiri dan kanan jalan. Kini salah satu jalan utama Kota Denpasar ini menjadi pusat perekonomian warga. Meski didominasi kompleks pertokoan, di sebuah gang di kawasan jalan tersebut terdapat sebuah pura yang masih asri. Gang bernama Ulunsuan tersebut terletak di sebelah kanan jalan, dari arah utara atau persimpangan Jalan Teuku Umar — Imam Bonjol.
Memasuki area gang tersebut, ada deretan warung di kiri gang dan sebuah tempat cukup lapang untuk parkir. Pepohonan pun tampak berdiri di timur pura yang memiliki nama sama dengan nama gangnya tersebut.

Jro Mangku Anak Agung Wirata, 71, pemangku Pura Ulunsuan, menjelaskan, pura tersebut sudah lama berdiri, namun tidak jelas tahun pastinya. Dia hanya mengingat di kori agung ada tanggal renovasi terakhir pada tahun 1950, ketika usianya masih satu tahun. Pura Dalem Ulunsuan, menurut cerita tetua, dikaitkan dengan hilangnya merana di sawah. “Berkaitan dengan Dewa Ayu katanya, untuk bidang pertanian. Namun kurang lengkap sejarahnya, saya hanya tahu sepenggal saja. Tidak berani memastikan,” ujar Jro Mangku AA Wirata.
Di  utamaning mandala pura, terlihat deretan palinggih dari selatan ke utara di sisi timur pura. Palinggih tersebut terbuat dari bahan bata merah, tanpa semen seperti umumnya. Palinggih masih terlihat kokoh dan kondisinya sangat bagus. “Walau bangunan masih berarsitekturnya tua, namun demi efesiensi, kami mengganti atap dari ijuk menjadi genteng, karena ijuk butuh perawatan khusus dan harus diganti lebih cepat ,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Pura Dalem Ulunsuan statusnya sebagai pura  prasanak dari Pura Desa lan Puseh Desa Adat Denpasar. Sebagai prasanak, dahulunya pura yang diempon tiga kepala keluarga (KK) dengan 39 KK lainnya sebagai panyiwi ini, diminta untuk menjadi penerima tamu dari dura negara (luar negeri). Sehingga di pura yang memiliki pamaksan 100 KK ini, terdapat banyak palinggih memiliki nama tempat di luar Bali, seperti Palinggih Dalem Cina, Dalem Mekah, dan Dalem Solo. “Tapi penamaan ini berkaitan bahwa yang dipuja itu jauh, kan begitu biasa orang tua zaman dahulu membuat nama palinggih. Misalnya Dalem Solo, bukan berarti kita memuja yang di Solo, Jawa Tengah. Solo itu artinya jauh, tidak bisa dipikirkan,” papar Jro Mangku Anak Agung Wirata.
“Ini berarti nama palinggih bukan merujuk ke tempat dunia nyata (sekala), tetapi ke hal niskala yang tidak terpikirkan datang dari jauh,” tambahnya.
Keistimewaan sebagai penerima tamu dari dura negara, membuat prosesi upacara piodalan yang jatuh setiap Buda Kliwon Sinta (Pagerwesi) ini, bisa sampai empat hari lamanya. Hal ini tentu berbeda dengan pura pada umumnya, yang hanya berlangsung dalam satu hari. Walaupun sampai empat hari, banten yang digunakan pada umumnya sama, namun lebih besar dan lebih banyak dari pura pada umumnya.

Ketika piodalan, lanjutnya, pratima pura ditempatkan di Palinggih Tajuk Kalantaka, tempat stana Ratu Agung Sakti. "Beliau menjadi penentu kelancaran piodalan di Pura Dalem Ulunsuan," paparnya.
Saat piodalan pun, lanjutnya, sering terjadi karauhan, terutama turunnya Ida Bhtara dari Palinggih Dalem Cina. Pamedek yang karauhan akan berbahasa lain dan tidak dimengerti. “Saya tidak berani menegaskan itu Bahasa Mandarin ya, namun kalau ada dua pamedek yang karauhan biasanya mereka berkomunikasi berdua dan nyambung,” ungkap pria pensiunan pegawai PDAM tersebut.
Pura Dalem Ulunsuan ini memiliki sebuah palinggih pregina, Ida Ratu Bagus Panji Landung yang dipercaya menganugerahkan taksu seni kepada umat yang berdoa. Biasanya pamedek membawa pajati sebagai sarana meminta anugerah taksu dari Ida Ratu Bagus Panji Landung.
Sisi unik lain yang jarang ditemukan di tempat suci lainnya, yakni  penggunaan laba pura yang efektif dan mengikuti zaman. Umumnya laba pura banyak dimanfaatkan sebagai ladang ataupun sawah. Pura Ulunsuan sedikit berbeda. Jro Mangku Anak Agung Wirata mengatakan, semenjak tahun 2000-an pangempon pura mulai berbenah. Kebetulan lokasi laba pura di area perumahan, membuat Jro Mangku Anak Agung Wirata berinisiatif untuk memanfaatkannya lebih modern.
Hal ini dilakukan oleh Jro Mangku Anak Agung Wirata, untuk menanggulangi  pembiayaan upacara dan kegiatan yang diadakan di pura. Maka, sejak dua dekade lalu, laba pura dibangun rumah toko (Ruko) dan dikontrakkan. Ruko berjumlah 14 dan rumah kontrakan sebanyak tiga buah. Hasil kontrakan ruko dan rumah tersebut, dipakai menutupi biaya pengeluaran pura saat  melakukan piodalan dan kegiatan lainnya. “Sebelumnya sangat susah mencari dana untuk pembiayaan kegiatan pura. Syukurnya niat pemanfaatan laba pura ini sangat efektif, nilainya bisa cukup untuk pembiayaan kegiatan pura ini,” ungkapnya bersemangat.
Selain itu, soal keuangan pura diatur dengan terpusat di rekening bank, sehingga tidak lagi tercecer dibawa pemangku atau lainnya. Rupanya inovasi ini semakin membuat keuangan pura menjadi teratur. Pembiayaan pun diatur agar setahun hanya keluar uang Rp 125 juta. “Ini saya buat satu tahun Rp 125 juta, nanti dihitung setiap kegiatan berapa keluarnya, sehingga tidak ada kekurangan mendadak ketika kegiatan,” paparnya.
Pemanfaatan laba pura menjadi tempat usaha ini, diakuinya, sangat bagus. Kebutuhan untuk pura yang terletak di Banjar Abiantimbul, Desa Pemecutan Klod, Denpasar Barat itu, sekarang tidak terlalu membebani umat. “Luas lahan 36 are itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan pura. Kini keuangan lancar, kami lanjutkan membangun yayasan,” ujarnya.
Pembangunan Yayasan Jaya Swara dan Sanggar Tari Serayu Taksu menjadi awal modal untuk pelestaraian seni, budaya, sosial dan adat istiadat agar tetap ajeg. Dari yayasan nantinya ada kepelatihan pemangku, serati (pembuat banten) hingga seminar. Menurut Jro Mangku Anak Agung Wirata, serati sangat penting, karena pura tidak bisa dilepaskan dari keberadaan upakara yang dibuat oleh seorang serati. “Nantinya juga diharapkan ke masalah ekonomi umat dan pendidikan, sehingga semakin bagus kualitas sumber daya manusianya. Namun, saya fokus terlebih dulu ke sosial dan budaya,” pungkasnya.
Di Pura Dalem Ulunsuan terdiri dari beberapa palinggih, mulai dari Palinggih Ibu, Palinggih Ratu Gede Panglurah, Palinggih Batur, Palinggih Ratu Gede Pangenter, Tajuk Kalantaka, Gedong Dalem Ulunsuan, Dalem Majapahit, Dalem Mekah, Dalem Cina, dan Palinggih Dewa Pregina.

(bx/sue/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia