Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Cobaan Berat Jro Mangku Ganti, Sudah Siap Jika Harus Meninggal

08 Februari 2020, 20: 08: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Cobaan Berat Jro Mangku Ganti, Sudah Siap Jika Harus Meninggal

MANGKU : Jero Mangku Ni Wayan Ganti, 50, sejak tiga tahun silam ngayah jadi pemangku di Pura Taman Sidhi Sudamala. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Perjalanan hidup tak ada yang tau pasti, begitu juga Ni Wayan Ganti. Wanita yang kini berusia 50 tahun ini, sebelum jadi pemangku mendapat cobaan yang sangat berat, hingga nyaris putus asa. Bahkan ada peristiwa mengerikan yang terjadi padanya.

Setiap orang punya kisah tersendiri. Bahkan, orang lain pun tak pernah membayangkan, juga tak menyangka jika perjalanan  hidup  begitu berat. Seperti kisah Jro Mangku Ni Wayan Ganti yang jadi  pemangku Pura Taman Sidhi Sudamala di Banjar Desa, Desa Angantaka, Abiansemal, Badung. Perempuan tiga bersaudara ini menceritakan kisah hidupnya menjadi pemangku hingga membantu pamedek yang datang ke pura untuk meminta kesembuhan.


Semua itu dimulai ketika ibunya tidak bisa mempunyai anak setelah 10 tahun menikah. Waktu yang sangat  lama dan tentu membuat ibunya merasa sangat terbebani. Hingga suatu ketika, sang ibu bermimpi aneh. Dalam mimpinya itu, ada seorang seperti pemangku datang dan memintanya untuk memetik  empat bunga cempaka dan empat bunga jempiring. “Ibu saya hanya memetik masing-masing tiga saja, baik bunga cempaka maupun jempiring. Hasilnya setelah itu,  ibu saya akhirnya memiliki tiga anak, dan semuanya perempuan,” ujar Mangku Ni Wayan Ganti kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan ini.


Semenjak duduk di bangku SMP Jro Mangku Ni Wayan Ganti sering didatangi sesosok bidadari yang memintanya untuk memangku anak. Dia pun memangku anak yang diberikan itu. Mimpi itu sering berulang hingga membuat penasaran mencari artinya. “Saya penasaran, waktu itu saya juga lagi ngekos. Rupanya arti mimpi saya itu, saya akan mengemban sebuah amanat. Namun, karena masih remaja saya kurang paham amanat apa,” terang ibu tiga anak ini.


Hal gaib pun mulai dia alami, ketika dia mulai menekuni seni tari. Ketika sedang melaksanakan ujian menari di balai banjar, panitia memberikan gelungan untuk menari peserta. Namun, usai sembahyang, pemangku yang ikut dalam kegiatan memberikan sebuah gelungan yang ternyata bukan dari panitia. Gelungan itu dilihat berada di sampingnya, sehingga itu yang diberikan kepadanya. “Pemangku menceritakan ada api di atas kepala saya melayang-layang sebelum memberikan gelung itu. Saya merasa ringan  menari ketika memakai gelung itu, terasa lebih mudah menarinya,” ujar Jro Mangku Ni Wayan Ganti.


Panitia menyadari  ternyata ada gelung yang  bukan  milik mereka. Akhirnya setelah minta petunjuk secara niskala, dikatakan bahwa gelung itu pemberian dari Sang Hyang Ratu Mas Maketel. Sejak saat itu gelung disimpan di balai banjar dan diupacarai setiap tumpek wayang. Festival tari pun berjalan lancar dan meriah.


Jro Mangku Ni Wayan Ganti terus menjadi penari, bahkan hingga  menikah. “Iya baru beberapa tahun ini tidak lagi menari, setelah saya mulai fokus ngayah di Pura Taman Sidhi Sudamala,” terang wanita asal Desa Angantaka ini.


Babak baru perjalanan  hidup beratnya  dimulai setelah menikah. Ia mulai jatuh sakit, tubuhnya mudah lemas  tak bertenaga. "Untuk berjalan pun sangat susah," ungkapnya dengan nada sedih.

Semua akhirnya mencapai puncaknya ketika ia mengalami pendarahan. Semuanya dipasrahkan, bahkan merasa sudah siap bila harus mati. Keluarganya yang terus berupaya menenpuh upaya niskala akhirnya diberikan petunjuk untuk meminta kesembuhan Ni Wayan Ganti dengan sembahyang ke Pura Taman Sidhi Sudamala.


Dalam keadaan tidak bisa berjalan dan badan lemas, ia digendong melewati sungai sungai kecil. Kondisi pura  waktu itu masih tidak sebagus sekarang. Sambil berpasrah, dia dan keluarganya berdoa di depan Palinggih Ratu Niang, berharap akan bisa kembali seperti sedia kala. Usai bersembahyang, dia dan keluarganya kembali pulang.


Kondisinya belum berubah, dan suatu ketika saat berada di dapur, ternyata dari kakinya keluar lintah lintah kecil. Yang lebih aneh lagi, ketika kencing terlihat ular kecil keluar bersamaan dengan air kencingnya.

“Saya  takut dengan kejadian itu, karena tidak masuk di akal. Namun setelah itu, saya merasakan berangsur sembuh,” papar perempuan yang baru jadi pemangku selama tiga tahun tersebut. Tapi tak berlangsung lama, kondisinya kembali drop. Keluarganya lantas memohon petunjuk pada orang pintar ( Balian), yang kemudian didapatkan bahwa wanita paruh baya ini harus ngayah di Pura Taman Sidhi Sudamala.


Petunjuk niskala itu dijalankan, dan sembahyang di Pura Taman Sidhi Sudamala menyatakan akan bersedia ngayah bila diberikan kesembuhan. “Setelah sembuh, saya kemudian ngayah. Ibu saya masih jadi pemangku. Saya jadi pangayah biasa.  Karena ibu sudah tua, maka saya mawinten jadi pemangku. Orang tua saya juga tidak punya anak laki, mungkin saya memang ditakdirkan melanjutkan ngayah,” ujarnya.


Setelah ngayah, ternyata  tantangan tak berhenti juga. Sebagai pangayah (abdi) di pura yang  didatangi pamedek sakit, sering kali dirinya bingung. Jro Mangku Ni Wayan Ganti mengaku karena tidak mempelajari ilmu pengobatan. Tidak tahu sama sekali, apa yang harus dilakukan ketika orang matamba atau memohon obat datang yang kebanyakan karena non medis.

“Acap kali saya bingung,  mesti gimana ngobatinnya. Jujur saya tidak tahu,” terangnya.


Setiap ada pamedek yang sakit, Mangku Ni Wayan Ganti hanya bisa berdoa kepada Ratu Niang memohon pertolongan agar membantu menyembuhkan pamedek yang datang. Dikatakannya, hasilnya memang ada yang dirasakan pamedek ketika malukat atau dipegang. “Pernah pamedek merasa kepanasan karena saya pegang, padahal tangan saya biasa saja. Dari sana saya yakin, Ida memilih lewat saya untuk menyembuhkan pamedek yang sakit. Jadi, saya kuatkan berdoa saja pada Beliau, karena Beliau yang menyembuhkan pamedek yang datang,” beber Jro Mangku Ni Wayan Ganti.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia