Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bisnis

Kerajinan Pelepah Pisang Sangket, Ekspor ke Maldives hingga Spanyol

09 Februari 2020, 08: 49: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kerajinan Pelepah Pisang Sangket, Ekspor ke Maldives hingga Spanyol

KERAJINAN PELEPAH PISANG: Putu Lila saat menunjukkan kerajinan berbahan pelepah pisang di rumahnya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kerajinan berbahan pelepah pisang nampaknya tak bisa dipandang sebelah mata. Kendati terlihat murah meriah karena bahannya mudah didapat sembarangan, namun kerajinan ini justru diminati bagi pasar luar negeri. Terbukti dua negara yakni Maldives dan Spanyol menjadi pasar tujuan kerajinan ini.

Di tangan Putu Lila, 46 pelepah pisang justru menjadi karya yang indah. Pria asli Sangket, sukses membukukan omzet Rp 15 Juta sebulan dari hasil kerajinan ini. Usaha ini ia jalani sejak tahun 2004 silam. itu berarti sudah 16 tahun ia berjibaku dengan pelepah pisang, dengan segala kendala dan tantangannya.

Lokasi usahanya persis di belakang Balai Banjar Desa Adat Sangket, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada. Ada sejumlah kerajinan yang dihasilkan dari pelepah pisang. mulai dari frame foto, asbak, hiasan berbentuk botol dan lukisan pasir.

Semuanya memiliki seni yang memiliki nilai jual ekspor. “Ini berawal dari hobi pak. Namun terus berkembang hingga kami sekarang sudah melakukan ekspor ke dua negara yaitu Maldives dan juga Spanyol,” ujar Putu Lila.

Awalnya, Putu Lila menjual hasil kerajinan pelepah pisang tersebut ke ­art shop di wilayah Buleleng dan juga luar Buleleng. Lambat laun, karyanya pun kian dikenal banyak orang. Termasuk menarik perhatian travel agent untuk membawa wisatawan ke tempat produksi.

Dari kedatangan wisatawan tersebut, usahanya kian dikenal. Bonusnya, pesanan dari Maldives dan juga Spanyol pun berdatangan. “Kami kirim lewat kargo. Ada teman saya yang bekerja di kargo sehingga bisa mengirim ke dua negara itu,” ungkapnya.

Sampai saat ini, dirinya hanya memanfaatkan anggota keluarganya untuk menjalankan usaha ini. Total ada enam orang pekerja yang membuat kerajinan mulai dari meilah pelepah pisang sampai pada mewarnai lukisan dengan pasir. Seluruh kerajinan ini bisa menghasilkan omzet sampai Rp 15 juta sebulan. “Untuk omzet, naik turun. Paling banyak Rp 15 Juta,” imbuh Lila.

Selama menjalankan usaha rumahan ini, Lila hanya mengalami kendala peralatan produksi. Tak pelak, seluruh proses produksi dilakukan secara manual. akibatnya, produksi pun terbatas. “Saya sangat mengharapkan bantuan peralatan mesin sehingga pekerjaan bisa dilakukan lebih cepat,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM (Disdagprinkop UKM) Buleleng, Dewa Made Sudiarta menjelaskan, kerajinan berbahan pelepah pisang memiliki peluang yang menjanjikan untuk dikembangkan.

Terlebih ketersediaan bahan baku yang melimpah dan mudah diperoleh di Buleleng. Tentu saja diharapkan menjadi lokomotif ekonomi di Bali Utara. Sejauh ini, pengenalan hasil produksi masih dilakukan melalui pameran“Kami ikut sertakan di pameran baik daerah, provinsi maupun pusat,” ucapnya.

Lanjut Sudiarta, sejauh ini jumlah pengrajin atau pelaku UKM yang terdata adalah 35.555. Dari jumlah tersebut, tercatat 50 persen bergerak di sektor produksi. Ini menunjukkan potensi yang sangat besar pada bidang UKM di Kabupaten Buleleng. “Kita harus terus mendorong dan mendukung keberadaan dari para pengrajin atau pelaku UKM ini,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia