Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Tradisi Metata Linggih di Suwug; Tak Boleh Menolak, Ada Lawar Intaran

09 Februari 2020, 15: 57: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tradisi Metata Linggih di Suwug; Tak Boleh Menolak, Ada Lawar Intaran

MEJAYA-JAYA: Krama sekeha petangdasa saat mengikuti mejaya-jaya di Pura Desa Suwg, Kecamatan Sawan serangkaian tradisi Metata Linggih, pada Sabtu (8/2) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Tradisi Metata Linggih di Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng kembali digelar pada Sabtu (8/2) lalu. Upacara ini dilaksanakan setiap Purnama Sasih Kaulu di Pura Desa dan diikuti oleh 40 pasang krama atau sekeha petang dasa. Konon tradisi inipun sebagai simbol napak tilas sejarah akan perjuangan para leluhur Desa Suwug saat mendirikan desa yang juga berjumlah 40 orang. Seperti apa?

I PUTU MARDIKA, Singaraja

CUACA mendung tak menyurutkan niat krama Desa Adat Suwug untuk berkumpul di areal Pura Desa Suwug, Sabtu pagi. Sejumlah krama lanang terlihat sibuk mebat (memasak, Red) di wantilan areal Jaba Pura. Ada yang memasak lawar, membuat bumbu hingga menanak nasi. Hidangan itu dipersiapkan untuk krama yang mengikuti prosesi metata linggih.

Di sisi lain, sebanyak 40 pasang suami istri tengah mengikuti ritual mejaya-jaya di areal Jaba Pura. Mereka kompak mengenakan kain berwarna putih kuning. Mejaya-jaya ini merupakan salah prosesi yang wajib dilewati bagi krama yang mendapat giliran sebagai sekeha petang dasa tahun ini.

Kelian Desa Pakraman Suwug, Jro Wayan Mudita menjelaskan, upacara metata linggih merupakan tradisi tahunan yang wajib dilaksanakan. Sebanyak 40 warga yang disebut krama petang dasa wajib ngayah selama satu tahun untuk mengawal bhaga parahyangan, bhaga pawongan dan bhaga palemahan di Desa Suwug.

Metata sebut Jro Mudita bisa dimaknai sebagai etika, aturan, norma. Sedangkan linggih itu dapat dimaknai sebagai duduk atau tempat. “Jadi metata linggih itu aturan krama dalam mejalankan kehidupan di desa pakraman,” ujar Mudita.

Lanjutnya, dipilihnya sasih kawulu sebagai momentum pelaksanaan tradisi metata linggih bukanlah tanpa alasan. Secara filosofis Sasih Kawulu sebut Jro Mudita dimaknai sebagai ulu atau hulu.

“Nah ulu ini berarti awal. Artinya krama petangdasa sebelumnya mengakhiri tugasnya sedangkan krama petangdasa yang baru akan memulai tugasnya. Jadi bisa diartikan serah terima tugas dari yang lama ke yang baru. Nyambung terus,” imbuhnya.

Lalu mengapa jumlahnya harus 40 orang? dijelaskan Jro Mudita, konon jika para pendahulu di Desa Suwug hanya berjumlah 40 orang krama saja dari empat banjar. Yakni dari Banjar Kajanan, Banjar Kelodan, Banjar Sabi dan Banjar Lebah. Keempatpuluh warga itulah yang ngayah di desa sebagai saye petang dasa.

Lambat laun jumlah krama di Desa Suwug kian bertambah. Bahkan kini jumlah krama yang wajib urunan mencapai 1.423 KK. Sehingga krama yang metata linggih pun akhirnya dilakukan secara bergilir. Namun teknisnya dituntaskan setiap banjar. Setelah seluruh krama di satu banjar mendapat giliran menjadi krama petang dasa, maka barulah giliran dipindah ke banjar lain.

“Misalnya satu banjar penduduknya ada 120 KK. Jadi selama 3 tahun krama yang di banjar itulah yang akan mendapat giliran sebagai sekeha petangdasa. Setelah tuntas, barulah bergeser ke Banjar lain. Nanti Kelian Banjar Adat yang paling paham siapa saja warga yang akan mendapat giliran menjadi sekeha petangdasa,” ungkap pria yang baru sebulan menjabat sebagai kelian desa pakraman ini.

Krama juga tak boleh menolak menjadi sekeha petangdasa jika sudah mendapat giliran. kendatipun krama tersebut merantau keluar desa. Mereka wajib pulang saat tradisi metata linggih dilaksanakan apabila gilirannya telah tiba.

“Apapun jabatannya, apapun status sosialnya, ini wajib menjadi krama sekeha petang dasa. Mau tinggal di Denpasar atau Luar Neger juga wajib ikut. Mereka sadar untuk nyangra wali ini,” tegasnya.

Hanya saja, bagi krama yang janda atau duda jika mendapat giliran maka bisa digantikan oleh krama lain. Sedangkan jika ada krama yang sudah sepuh, atau lingsir maka bisa digantikan oleh anaknya yang telah menikah.

Lalu bagaimana dengan sekeha petangdasa yang lama? Pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini menyebutkan saat mengakhiri sebagai sekeha petangdasa, krama tersebut wajib membawa lawar Intaran ke Pura Desa. Lawar tersebut dihaturkan di sejumlah pelinggih di areal Jeroan pura Desa.

Dari cerita para pendahulunya, saat tradisi metata linggih, sejatinya krama selalu menyemblih seekor kerbau. Namun ketika hendak disemblih, kerbau yang diikaat di pohon intaran lari dan menghilang.

Nah, untuk mengganti kerbau tersebut dipakailah daun intaran untuk lawar. Lawar intaran dipercaya sebagai paica (anugrah) dari Tuhan, hampir setiap sangkep masyarakat desa suwug selalu nunas (meminta) lawar tersebut.

Lawar Intaran ini dianggap sebagai simbol sad (enam) rasa. seperti rasa manis, pahit, asin, masam, sepat dan pedas. Meskipun kenyataannya lawar ini didominasi oleh rasa pahit dari daun Intaran bercampur manis dari air parutan kelapa.

Selain Lawar Intaran, hidangan juga dilengkapi dengan sambal serondeng, kacang-kacanagn, ikan teri goreng, telor asin, garam, sambal pangi, juga lekesan dan kwangen (sarana upacara) yang diatur melingkari nasi.

Di antara nasi, juga dilengkapi dengan unti yang berbahan dasar parutan kelapa bercampur gula merah yang rasanya manis. Dalam satu porsi hidangan, orang bisa merasakan beragam rasa: manis, pahit, hingga sepet.

“Oleh krama lawar ini dimaknai bilamana saat menjalani tegak medesa pasti merasakan pahit manisnya kehidupan. Dan itu harus dijalani. Demi kebersaamaan,” pungkasnya.

Sementara itu Bendesa Adat Suwug selaku Bhaga Parahyangan Jro Gede Artana menjelaskan dudonan pelaksanaan metata linggih dibagi menjadi beberapa tahapan. Mulai dari pemilihan krama yang akan mengikuti metata linggih, selanjutnya mekalah-kalahan, nganyudang reged, mebakti dan mejaya-jaya.

“Prosesinya dilaksanakan di dua tempat. Yakni di Pura Desa dan Pura Beji. Seluruh Banten disedikan oleh Desa Pakraman. Misalnya banten suci ageng, banten pengulapan pengambean, dan banten bangun urip yang terbuat dari daging babi. Yang muput itu pemangku pengempon dan dibantu oleh pemangku desa,” singkatnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia