Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Politik

Sugawa Korry: Kenaikan Cukai Rokok Mulai Berdampak ke Petani Cengkih

10 Februari 2020, 18: 20: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sugawa Korry: Kenaikan Cukai Rokok Mulai Berdampak ke Petani Cengkih

RESES: Wakil Ketua DPRD Bali, Nyoman Sugawa Korry, saat melakukan reses di Desa Umajero, Buleleng, pada 3 Februari 2020 lalu. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS -  Dampak kenaikan cukai rokok sebesar 24 persen mulai dirasakan para petani cengkih di beberapa sentra di Bali. Di saat harga rokok mengalami kenaikan, justru harga jual cengkih merosot. Harga cengkih yang diterima petani hanya di kisaran Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu perkilogram.

Bila dibiarkan tanpa solusia, situasi itu dikhawatirkan akan membuat para petani cengkih gulung tikar. Seperti diungkapkan Wakil Ketua DPRD Bali, Nyoman Sugawa Korry, Senin (10/2).

Menurutnya, situasi yang sedang terjadi di kalangan petani cengkih itu dia dapatkan saat melakukan reses. Salah satunya di Desa Umajero, Buleleng, pada awal bulan ini.

“Terpuruknya harga jual (cengkih) di tingkat petani ini jadi keluhan saat saya melakukan reses. Ini sebagai dampak langsung dari kenaikan cukai rokok sampai 24 persen,” ungkapnya.

Dengan harga jual seperti itu, sambungnya, petani cukup kerepotan menjalankan aktivitas perkebunan mereka. Bila harganya hanya tertahan pada kisaran Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu perkilogram, tanpa ada peningkatan, mereka akan sulit untuk bertahan. Sebab, ongkos pupuk secara bersamaan ikut naik.

"Belum lagi ongkos yang harus dikeluarkan untuk memetik. Ongkosnya sudah mendekati 40 persend ari harga jual yang mereka dapatkan per satu kilogramnya,” beber Wakil Ketua DPRD Bali ini.

Diakuinya, kebijakan untuk menaikkan cukai rokok sampai 24 persen akan membantu peningkatkan pendapatan negara. Estimasi pendapatan yang akan diperoleh mendekati Rp 120 triliun. Namun, di lain pihak, kebijakan ini juga diharapkan jangan sampai mengabaikan hidup para petani cengkih. Yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari penjualan hasil kebun mereka.

"Perkiraannya, dengan kenaikan cukai rokok ini, pendapatan pemerintah bisa mencapai  hampir Rp 120 trilyun. Tetapi di sisi lain, kebijakan ini jangan sampai mengabaikan nasib petani kecil. Ini tidak tepat juga," ujarnya.

Karena itu, politisi yang juga Sekretaris DPD I Golkar Bali ini meminta pemerintah untuk memberikan solusi atas koreksi cukai rokok tersebut. Khususnya yang bersentuhan dengan nasib para petani cengkih.

“Kami berharap Pemprov Bali ikut menyuarakan hal ini ke pemerintah pusat. Mempertanyakan solusi bagi nasib petani cengkih yang kena dampak dari kenaikan cukai rokok ini,” pungkasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia