Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Sekar Desa Tejakula, Buleleng

Pemujaan Bhatara Tiongkok, Saat Kesurupan Gunakan Bahasa China

11 Februari 2020, 21: 56: 13 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pemujaan Bhatara Tiongkok, Saat Kesurupan Gunakan Bahasa China

PAKAIAN : Pakaian lengkap khas orang Tiongkok yang disakralkan di Pura Sekar. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

Pura Sekar Desa Tejakula merupakan tempat untuk memohon kelancaran usaha karena pura ini dipercaya sebagai stana Bhatara Ratu Bagus Mas Subandar atau Bhatara Tiongkok. Hal itu didasari atas peninggalan sejarah berupa pakaian, cangklong (alat isap rokok) serta perlengkapan lainnya. Bagaimana kisahnya?   

NUANSA budaya khas Tiongkok begitu terasa di Pura Sekar yang ada di Desa/Kecamatan Tejakula, Buleleng. Di dalam pura terdapat satu palinggih utama bernama Palinggih Budha. Pelinggih ini dipercaya sebagai stana Ida Bhatara Ratu Bagus Mas Subandar atau Ida Bhatara Tiongkok.

Pemujaan Bhatara Tiongkok, Saat Kesurupan Gunakan Bahasa China

CANGKLONG : Alat isap rokok orang Tiongkok zaman dulu yang disucikan di Pura Sekar, Desa Tejakula. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya beberapa benda berupa pakaian lengkap seperti budaya Tiongkok. Hiasan yang digunakan terlihat berbeda dari palinggih lainnya, dimana ada tambahan lampion dengan warna merah.

Pemedek yang tangkil kerap kerasukan Ida Bhatara yang dipercaya dipercaya memberikan kelancaran usaha.

Menurut pemangku Pura Sekar, Jero Mangku Sekar, 54, salah satu palinggih yang kental dengan nuasa Tiongkok dapat dilihat dari persembahan yang dihaturkan saat piodalan. Persembahan yang dihaturkan di hadapan palinggih tersebut biasanya berupa teh pahit, anggur, dan berbagai macam minuman lainnya, permen, bunga segar, lilin, parfum, kue yang beranekaragam, lampion khas Tiongkok berwarna merah,

“Memang persembahan yang dihaturkan di Palinggih Ida Ratu Bagus Mas Subandar berbeda dan sangat kental dengan nuansa persembahyangan Tiongkok,” jelasnya.

Pada saat puncak piodalan, diberikan persembahan berupa tarian Barongsai. Selain hal tersebut, juga ada bukti berupa pakaian khas orang Tiongkok yang masih disimpan dengan baik oleh krama. Di antaranya berupa topi, cerutu atau rokok, dan kursi. Benda-benda tersebut dikeluarkan pada saat piodalan. “Peninggalan berupa baju, cerutu, topi orang Tiongkok zaman dulu masih tersimpan. Selalu dikeluarkan saat piodalan,” sambungnya.

Mangku Sekar menambahkan, ada kejadian unik yang biasanya terjadi pada saat puncak upacara piodalan di Pura Sekar. Saat puncak upacara, biasanya salah satu krama mengalami kerasukan dan mempraktekkan tingkah laku layaknya orang Tiongkok.

Bahkan semua kata-kata yang dikeluarkan menggunakan bahasa China. Saat kerasukan, yang bersangkutan akan menyanyi, menari, duduk di kursi, sambil merokok dan melakukan segala hal layaknya orang Tiongkok, dengan menggunakan pakaian lengkap yang sudah disediakan.

“Bahasa Tiongkoknya sangat fasih. Ia menari, kemudian merokok, pakaian yang disiapkan juga dipakai. Ini diyakini sebagai Ida Ratu Bagus Mas Subandar,” kata Mangku Sekar.

Hal tersebut dipercaya erat kaitannya dengan Ida Bhatara Ratu Bagus Mas Subandar yang berstana di Palinggih Budha yang merupakan bagian dari palinggih utama di Pura Sekar. Kejadian tersebut pernah terjadi ketika tidak ada piodalan. Saat itu, seorang pamedek yang datang untuk sembahyang dari luar desa pernah mengalami kerasukan. Namun segala perlengkapan tidak disediakan karena disucikan. “Pamedek dari luar desa biasanya tidak dikasi mengenakan pakaian tersebut karena sangat disucikan,” tutupnya.

(bx/dar/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia