Senin, 24 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ketika Kembar Buncing “Dibuang”, Raja Kaba Kaba Ganti dengan Upacara

12 Februari 2020, 16: 36: 28 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ketika Kembar Buncing “Dibuang”, Raja Kaba Kaba Ganti dengan Upacara

PANGLINGSIR : Panglingsir Puri Gede Saren Mayasan Kaba Kaba, Anak Agung Ngurah Gede Surya Buana. (AGUS SUECA/BALI EXPRESS)

Share this      

Pada masa lalu, jika mempunyai anak kembar laki dan perempuan yang dinamai Manak Salah, dianggap sial dan membawa bencana. Bahkan orang tua dan anaknya harus jalani sanksi 'dibuang' dari pemukiman desa. Namun, di Kaba Kaba, Tabanan, aturan itu tidak berlaku.  Bagaimana kisahnya?
PUNYA anak kembar adalah kebahagian berlipat ganda bagi pasangan suami istri. Apalagi jika jenis kelaminnya laki dan perempuan, maka makin lengkap kebahagiaan itu. Melahirkan anak kembar tentu sangat membahagiakan, namun sebaliknya akan kurang menyenangkan bila terjadi pada masa lalu, karena ada aturan khusus soal Manak Salah, yakni orang yang melahirkan anak kembar laki dan perempuan (Kembar Buncing). Bila hal itu terjadi, maka pasangan suami istri dan anaknya harus diasingkan ke luar desa atau  bisa juga di hutan. Tradisi ini pun berlaku di Kerajaan Kaba Kaba pada masa lampau. Tradisi Manak Salah di wilayah ini berlaku sejak zaman dahulu hingga pra masa modern saat ini. Panglingsir Puri Gede Saren Mayasan Kaba Kaba, Anak Agung Ngurah Gede Surya Buana, 66,  menjelasakan, bahwa tradisi Manak Salah sudah ada di Kaba Kaba sejak dahulu. Jauh sebelum era Belanda datang menjajah.
Awal masa berdirinya Kerajaan Kaba Kaba, jika orang melahirkan anak kembar laki dan perempuan (Kembar Buncing), orang tua dan anaknya harus pergi ke luar wilayah kerajaan. Waktu itu, diakui pensiunan dosen di Institut Senin Indonesia (ISI) Denpasar tersebut, Kerajaan Kaba Kaba wilayah kekuasaanya di Barat sampai ke Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Seseh di selatan, dan Tukad (Sungai) Yeh Sungi di Timur dan Kota Tabanan di Utara. “Yang punya anak Kembar Buncing harus keluar dari wilayah kerajaan. Masalah apakah pasangan suami istri dan anaknya sampai ke luar wilayah kerajaan, tidak diketahui pasti. Namun yang jelas, mereka tidak kelihatan lagi di wilayah Desa Kaba Kaba sekarang ini,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan ini.
Dikatakannya, entah karena alasan apa, tradisi Manak Salah dengan mengusir ke luar dari Kaba Kaba kemudian diubah oleh Raja Kaba Kaba keempat.
Raja melihat perlu adanya perubahan tradisi ini, dan mencari jalan terbaik yang bisa diterima masyarakat. Mengingat anggapan warga desa akan leteh atau kotor kalau ada kelahiran Kembar  Buncing di desa masih kuat kala itu.
Raja kemudian membuat cara untuk mengatasi permasalahan itu dengan mengadakan upacara Caru Labuh Gentuh setiap ada peristiwa kelahiran Kembar Buncing. “Jadi, dengan caru Labuh Gentuh ini, maka bencana yang dianggap akan datang ke desa kalau ada Kembar Buncing tidak akan terjadi,” ujar Anak Agung Ngurah Gede Surya Buana.
Upacara Labuh Gentuh dilakukan ketika si anak laki dan perempuan sudah kepus pungsed (lepas sisa tali pusarnya). Dalam upacara ini, orang tua dan si anak kembar akan mengikuti upacara di dekat perempatan Pura Desa Kaba Kaba. “Hanya orang tua dan si anak yang dianggap cuntaka, sedang kakek neneknya tidak termasuk. Upacara pacaruan akan dipimpin oleh pemangku desa,” terangnya. “Pelaksanaan di dekat Pura Desa ini karena dalam keyakinan kami, setiap upacara yang berkaitan dengan manusia, maka harus dilaksanakan di Pura Desa. Seperti meninggal setelah semua proses selesai, maka keluarga almarhum membawa banten ke Pura Desa untuk memberitahukan yang berstana bahwa almarhum sudah meninggal dan proses pangabenan sudah kelar,” tambahnya.
Urusan Caru Labuh Gentuh, lanjutnya, menjadi tanggungan oleh keluarga si anak. Namun, dalam beberapa kondisi, Raja Kaba Kaba memberi kebijaksanaan pada warga, jika berasal dari keluarga kurang mampu, maka desa yang akan menanggung biaya banten pacaruan tersebut.
Semenjak itu tidak pernah ada sama sekali orang tua yang punya anak Kembar Buncing untuk diminta keluar pergi dari desa. “Tapi usai upacara  Labuh Gentuh anaknya dipisah. Satu anak diasuh orang tua kandung dan satu lagi diadopsikan ke orang lain.
Biasanya satu diberikan kepada sanak keluarga, agar mereka tetap saling berhubungan. Kan tidak tega juga mengadopsikan anak pada orang yang tidak dikenal. Dasar pemisahan ini sendiri, konon katanya agar mereka tidak saling suka atau jatuh cinta,” sambungnya.
Tradisi Manak Salah dengan melakukan upacara Labuh Gentuh ini terus berlangsung ratusan tahun sesudah itu, setelah era Raja Keempat Kaba Kaba. Perubahan  terjadi setelah Belanda mulai berkuasa di Bali dan lambat laun tidak dilaksanakan lagi pada masa modern sekarang ini.

Ketika Kembar Buncing “Dibuang”, Raja Kaba Kaba Ganti dengan Upacara

PURA DESA : Setiap upacara yang berkaitan dengan manusia, sebagian besar dilaksanakan di Pura Desa. (AGUS SUECA/BALI EXPRESS)

(bx/sue/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia