Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Tak Ingin Peternak Merugi, Harga Babi di Marga Disepakati

12 Februari 2020, 20: 02: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tak Ingin Peternak Merugi, Harga Babi di Marga Disepakati

MAKAN GULING : Kecamatan Marga menyosialisasikan daging babi aman dikonsumsi, dengan makan babi guling, Rabu (12/2). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Kecamatan Marga menyosialisasikan bahwa daging babi aman untuk dikonsumsi, Rabu (12/2). Dengan sosialisasi tersebut, diharapkan harga daging babi di tingkat peternak tidak turun drastic, apalagi menjelang hari raya Galungan dan Kuningan.

Acara yang digelar di ruang rapat Camat Marga itu dihadiri oleh Camat Marga, anggota DPRD Tabanan asal Marga, I Putu Eka Putra Nurcahyadi, 32 orang peternak babi di Kecamatan Marga, serta komponen adat dan dinas. Pada kesempatan tersebut dilakukan makan bersama babi guling untuk mempromosikan bahwa babi aman untuk dikonsumsi.  

Camat Marga, I Gusti Agung Alit Adiatmika menyampaikan bahwa sejatinya acara tersebut digelar mendadak lantaran hari raya Galungan sudah semakin dekat sedangkan dari pantauannya harga babi hidup di tingkat peternak saat ini sangat anjlok pasca terjadinya kasus kematian babi di sejumlah daerah di Tabanan termasuk di Marga. "Mungkin sudah Rp 10 ribu per kilogram. Takutnya saat Galungam harganya semakin turun sehingga peternak rugi. Jadi kami gelar acara ini untuk mendongkrak harga daging babi," paparnya.

Atas kondisi tersebut, pihaknya pun menetapkan harga daging babi di Kecamatam Marga yakni sebesar Rp 26 ribu per kilogramnya. Di samping itu, pihaknya juga ingin agar wabah penyakit yang merebak bisa diantisipasi. "Dari segi ekonomi, kami lihat peternak kecil jangan sampai habis modal habis barang. Kami bantu minimal agar tidak terlalu rugi sehingga kami tetapkan harga," lanjutnya.

Apalagi isu yang beredar di masyarakat membuat masyarakat takut mengkonsumsi daging babi karena tak ingin tertular penyakit. Padahal, menurut informasi dari bidang Peternakan, penyakit tersebut tidak akan menular ke manusia. "Ini kan kasihan peternaknya. Kalau tidak ada yang mau beli, harganya pasti turun, padahal virus ini hanya untuk babi,  tidak menular ke manusia. Jadi jangan takut, orang Bali yang ciri khasnya makan daging babi," sambung Adiatmika.

Ditambahkannya, saat ini ada peternak di Kecamatan Marga yang memang bekerjasama dengan perusahaan, dan 200 ekor babi yang dipelihara mandiri. Hingga Rabu (12/2), pihaknya masih menerima laporan dari masyarakat, bahwa ada ternak babi yang mati. "Kasus kematian terakhir di atas 100, tapi masih terus bertambah," tandasnya.

Sementara itu anggota DPRD Tabanan I Putu Eka Putra Nurcahyadi mengatakan, dengan acara tersebut, pihaknya berharap komponen terkait bisa menyepakati harga daging babi agar senantiasa terjaga. Di samping itu agar masyarakat mengetahui bahwa daging babi tidak berbahaya. "Kami juga berharap agar lebih sigap sebelum penyakit ini semakin merebak dan kerugian yang dialami masyarakat semakin meluas," tegasnya.

Ia juga berharap pemerintah bisa mengatasi persoalan limbah atau bangkai babi yang ditemukan dibuang ke sungai. Menurutnya, hal itu perlu ditegaskan secara hukum dan ditegaskan mengenai konsep penguburannya. "Jangan sampai bangkai babi dibuang ke sungai yang dapat membuat wabah lebih luas sehingga nantinya peternak di Tabanan tidak merugi," lanjutnya.

Pada kesempatan itu juga dibagikan desinfektan kepada peternak. Hanya saja, menurut Nurcahyadi, pengadaan desinfektan semestinya dilakukan oleh Pemda tanpa menunggu bantuan dari Pusat agar para peternak bisa melakukan langkah antisipasi lebih maksimal.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia