Senin, 06 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Anak Panti di Kediri Diperkosa Pengasuhnya, Dipaksa Menggugurkan

12 Februari 2020, 22: 43: 11 WIB | editor : Nyoman Suarna

Anak Panti di Kediri Diperkosa Pengasuhnya, Dipaksa Menggugurkan

BEJAT: Pelaku RS diperiksa di Mapolres Tabanan, Rabu (12/2). (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Seorang pengawas salah satu panti asuhan di kawasan perumahan di Kecamatan Kediri, Tabanan dilaporkan ke polisi setelah tega menyetubuhi anak asuhnya sejak Juli 2016 hingga pertengahan Januari 2020. Parahnya lagi, korban yang dibuat sampai hamil, diminta untuk menggugurkan kandungannya.

Berdasar informasi yang dihimpun di lapangan, remaja putri berinisial CDL, 17,  pada bulan November 2014 silam datang ke Bali diantar oleh ibu kandung pelaku yang berinisial RS, 37, untuk bersekolah di Bali. Selama berada di Bali, korban tinggal di panti asuhan yang sehari-harinya diawasi oleh pelaku. Selanjutnya sekitar bulan Juli tahun 2016, saat korban sedang sendiri di panti asuhan dan situasi sepi, korban tiba-tiba dipanggil oleh pelaku ke dalam kamar untuk memijat. Ketika sedang memijat, korban dirayu untuk melakukan hubungan badan, tetapi korban menolak.

Nahas, saat akan keluar kamar, korban dipaksa dan kedua tangannya ditarik oleh pelaku kemudian tubuhnya dilempar ke kasur dan pelaku memaksa korban untuk melakukan hubungan badan. Sejak saat itu, setiap korban sedang sendiri di panti asuhan, korban selalu dipaksa untuk berhubungan badan oleh pelaku, bahkan setelah panti asuhan itu pindah lokasi, korban juga sering dipaksa berhubungan badan oleh pelaku.

Selanjutnya, sekitar April 2018, korban telat datang bulan, sehingga korban diajak oleh kakak ipar pelaku berinisial HH pergi ke dokter kandungan. Di sana, ketahuan positif hamil. Atas kondisi tersebut, korban diminta menggugurkan kandungan oleh pelaku jika masih ingin bersekolah di Bali.

Lantas, Juni 2018, pelaku menelepon seorang dokter dan mengatakan bahwa ada anaknya yang hamil dengan pacarnya dan meminta agar bisa dibantu untuk menggugurkan kandungannya. Setelah itu korban pun diajak oleh HH ke dokter di daerah Renon, Denpasar untuk mengecek kandungan dan diberikan obat untuk menggugurkan kandungannya. "Setelah minum obat korban belum juga mengalami keguguran, malah korban merasa kesakitan lalu korban kabur ke rumah temannya di wilayah Kediri, Tabanan dan menginap selama satu malam sembari menceritakan tentang apa yang dialaminya," ujar salah seorang sumber di lapangan.

Setelah itu korban pun dicari oleh HH dan diminta untuk pulang ke panti. Namun setelah kurang lebih dua minggu, korban belum juga keguguran, akhirnya korban kembali diajak ke tempat praktek dokter tersebut dan menjalani kuret.

Tak berhenti sampai di sana, penderitaan CDL kembali berlanjut. Ia malah dituduh telah merusak rumah tangga pelaku oleh HH sehingga korban selalu dimarahi. Di samping itu, ia juga masih terus dipaksa untuk melayani nafsu bejat pelaku. Hingga akhirnya korban yang sudah tidak kuat dan merasa tertekan, kemudian pada hari Kamis tanggal 30 Januari 2020, korban kabur ke rumah temannya dan menceritakan tentang apa yang dialami.

Pada hari Rabu (5/2) di sekolah korban kembali menceritakan hal tersebut kepada salah seorang gurunya yang kemudian disarankan untuk melapor ke Polres Tabanan. Korban pun memutuskan melapor ke SPKT Polres Tabanan pada hari Kamis (6/2).            

Kasubag Humas Polres Tabanan, Iptu I Made Budiarta mengatakan,  laporan kasus tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyelidikan. Pihaknya pun telah menangkap RS dan menetapkannya menjadi tersangka. Sejumlah barang bukti turut diamankan. "Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku selama ini bertugas mengawasi panti asuhan. Di sana tinggal 13 anak,"  ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (12/2).

Selain anak panti, di panti asuhan tersebut juga tinggal pelaku bersama istri, dua anak pelaku, serta adik pelaku. "Saat ini pelaku yang berstatus tersangka sudah kami tahan. Sedangkan korban dititipkan di Panti Asuhan Gayatri,” imbuhnya.

Akibat perbuatannya, pelaku RS diancam Pasal 81 Ayat (2) UU No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, jo Pasal 64 KUHP dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun, paling lama 15 tahun atau denda Rp 5 miliar.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news