Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Jalankan Wanaprastha Tak Lagi Menepi di Hutan

13 Februari 2020, 18: 04: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jalankan Wanaprastha Tak Lagi Menepi di Hutan

Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Wanaprastha adalah tahap ketiga dari Catur Asrama. Tahap ini identik dengan mulai menyepi dari kehidupan duniawi, dan di masa lalu katanya harus pergi ke hutan. Bagaimana pada masa modern ini menjalankan Wanaprastha?

Catur Asrama adalah empat konsep jenjang hidup manusia dalam Hindu. Konsep yang terdiri dari empat tahapan bagian, yang berurutan sistematis berdasarkan masa kehidupan manusia. Konsep ini  mengatur umat Hindu supaya menghindari pernikahan sebelum menyelesaikan tahap menuntut ilmu. Adapun empat tahap Catur Asrama adalah Brahmacari, Grahastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka.

Secara ringkas dapat dijelaskan Brahmacari adalah masa menuntut ilmu, dimana dalam kehidupan modern ini adalah masa sekolah dari taman kanak-kanak hingga jenjang universitas. Selanjutanya usai menamatkan sekolah, maka akan mencari pekerjaan sambil mencari pasangan hidup. Ketika akhirnya memutuskan menikah, maka seseorang akan masuk tahapan Grahastha, masa berumah tangga.
Tahap ketiga adalah ketika mulai menyepi dan belajar meninggalkan duniawi, yakni tahap Wanaprastha.

Tahapan Wanaprastha ini identik dianggap menyepi ke hutan. Wanaprastha juga dianggap sebagai batu lompatan menuju tahap Bhiksuka, yakni tahap melepaskan keterikatan duniawi, baik keluarga dan benda material di dunia. Tahapan ini identik dengan bertapa atau menyepi.

Di masa modern, tahap Brahmacari dan Grahastha masih bisa dijalankan dengan baik. Lantas, bagaimana dengan tahap Wanaprastha, relevankah dengan  menyepi ke hutan dan mengasingkan diri? Prof Dr  I Wayan Suka Yasa MSi, memaparkan bahwa memahami Wanaprastha di masa modern ini arti spiritnya bukanlah dengan ke hutan mengasingkan diri ataupun menyepi saja.

Pria yang juga Direktur Pasca Sarjana ini menerangkan, Wanaprastha   tidaklah merujuk ke hutan lebat diluar sana, meski  wana berarti hutan.


"Hutan dalam arti spirit Wanaprastha adalah dalam diri sendiri. Ketika mulai tahapan Wanaprastha, maka seseorang mulai melatih diri mengurangi kegiatan di keramaian dan lebih banyak melakukan introspeksi diri," papar dosen Universitas Negeri Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini.

Pria asal Tabanan ini menjelaskan, pada masa modern ini ciri-ciri orang yang sudah siap maupun sudah mulai tahapan Wanaprastha adalah anaknya sudah menikah dan hidup mandiri. Selain itu, orang tersebut lebih suka berkebun, menulis, membaca ataupun diam di rumah tinimbang pergi ke mall atau jalan-jalan. “Tidak bisa kita pastikan umurnya. Di Bali paling mudah, dimana orang tersebut ayahan adatnya diganti ke anak dan sudah memberi warisan tanah ataupun modal kepada anaknya. Jadi, dia sudah tidak mengurus urusan ngayah ke adat lagi,” papar dosen Sastra Hindu dan Tattwa ini
kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin di Denpasar.


Seseorang yang mulai melakukan Wanaprastha bisa memegang konsep Sanwacana Ye Gegen, yakni berpegang teguh pada ucapan. Pria yang juga menjadi pemangku Pura Dalem Desa Bonian, Antap, Tabanan ini, mengatakan pada tahap Wanaprastha seseorang harus mulai memiliki laku dewa dan mengurangi berbuat dosa, sekaligus introspeksi diri.

Menurut Prof Suka Yasa,  laku dewa yang bisa dijalanka tidak melakukan kegiatan negatif yang merugikan orang.  Dicontohkannya soal problem kehidupan sehari hari, bila ada sanak saudara berselisih paham, jangan memihak. Memberikan saran juga tak memaksa atau mengharuskan mesti diterima. “Jika anak menjual warisan yang kita berikan,  baru orang tua memberi peringatan, karena itu  tidak baik. Selain itu, ketika mereka terpuruk harus dibantu, jadi lebih ke hal positif,” ujarnya.

Dalam masa Wanaprastha, lanjutnya, harus menerapkan prinsip Maha Wakya atau ucapan agung di Weda. Hal ini berupa Tat Twam Asi, melakukan ajaran cinta kasih di kehidupan mengingat hidup sangat singkat dan kematian sudah dekat.


Disarankannya, belajar merefleksikan diri, menemukan Tuhan dalam diri sendiri, sebab atman dalam diri manusia adalah percikan kecil dari Ida Sang Hyang Widhi. “Merenung, mempersiapkan diri agar bisa meninggal dengan benar. Oleh sebab itu, selain mendekatkan diri dengan Tuhan, maka juga lakukan Tat Twam Asi dalam kehidupan sehari-hari,” bebernya.


Mengenai  konsep menyepi ke hutan itu, diakuinya memang bisa dilaksanakan, namun itu bisa dilakukan dahulu, sebab hutan masih lebat. Orang India bisa melakukan Wanaprastha dengan tinggal di tepian Sungai Gangga, di gua-gua dekat sungai tersebut. Ketika seseorang melakukan Wanaprastha, berarti  mulai melatih pikiran menjadi lebih fokus. Semua itu  bisa terjadi karena sudah mulai meninggalkan keramaian, sehingga terkesan identik lebih ke hutan.

“Mereka kan dari dahulu umum melakukannya di hutan. Kalau kita di Bali sekarang bisa dilaksanakan di rumah. Berkebun ataupun rajin tirta yatra juga tidak salah. Selama itu kegiatan positif dan mendekatkan diri pada Tuhan tentu sangat bagus,” tandasnya. Jika Wanaprastha sungguh-sungguh dijalankan, maka seseorang bisa masuk ke tahap keempat, yani Bhiksuka. Dijelaskannya, seseorang yang ketika Wanaprastha belajar menjauh dari keramaian, menyepi dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, maka dengan mudah bisa melepaskan ikatan duniawi. Biasanya orang pada fase ini, bahkan sudah tidak menginginkan masuk Surga maupun tertarik akan nikmatnya tinggal di Surga.


“Intinya, Wanaprastha dilakukan sesuai kemauan masing-masing. Caranya berbeda, yang terpenting adalah mulai mendekatkan diri pada Tuhan dan berpegang pada konsep Sanwacana Ye Gegen. Tidak usah harus menyepi ke hutan,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia