Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Palinggih di Tengah Sungai Tak Roboh Dihantam Batu Besar dan Air Bah

13 Februari 2020, 19: 53: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Palinggih di Tengah Sungai Tak Roboh Dihantam Batu Besar dan Air Bah

MOHON KESELAMATAN: Seorang pengendara memohon keselamatan di Palinggih Padma Pesimpangan Ida Bhatara Pura Candi Gunung Agung saat melintas. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Palinggih Padma Pesimpangan Ida Bhatara Pura Candi Gunung Agung di tengah aliran sungai Taksu, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali, masih tampak kokoh. Sudah beberapa kali lahar hujan turun menghantam palinggih tersebut sejak 2004.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Karangasem 

TIDAK ada pemandangan berbeda di aliran sungai Taksu. Hanya ada bebatuan, pasir, kerikil, maupun material lain sisa-sisa banjir bandang. Bahkan sungai itu kini mengering. 

Namun pemandangan mencekam seketika muncul jika hujan di lereng Gunung Agung cukup deras. Lahar hujan akan menerjang hingga ke hulu sampai memutus akses jalan warga.

Yang menarik, satu palinggih semacam Padmasari dibalut kain putih kuning, berdiri di tengah-tengah aliran sungai. Di sebelahnya ada pohon dan satu tedung (semacam payung/perlengkapan upacara) diikat di badan palinggih.

Palinggih itu sepintas biasa saja. Namun setelah diperhatikan, keajaiban yang memang tak bisa dipecahkan secara logika tergurat jelas ketika dilihat. Ya, palinggih yang disebut Pesimpangan Ida Bhatara Pura Candi Gunung Agung itu masih berdiri kokoh. Padahal banjir bandang sudah beberapa kali menerjang. 

"Jalan raya dari Banjar Kemuning ke Banjar Nangka ini memang membentang di atas aliran sungai Taksu. Makanya tiap banjir akan memutus jalan. Masyarakat memang menyakralkan lokasi ini. Setiap pengendara lewat, ada saja yang mampir sembahyang, mohon keselamatan," jelas Sekretaris Pecalang Desa Adat Nangka, Bhuana Giri Made Junita.

Warga setempat memang mengeramatkan lokasi itu. Terbukti, sebagai linggih Ida Bhatara Pura Candi Gunung Agung, palinggih tersebut tidak pernah ambruk. Setiap hari suci atau rerahinan, warga tetap melakukan persembahan sekaligus berdoa di sana. 

Meskipun lahar hujan dengan material cukup besar menghantamnya. Bahkan air sungai seolah membelah. Tahun 2017 lalu, saat Gunung Agung mengalami erupsi, lahar hujan tanpa henti terus mengalir di Sungai Taksu. Batu besar berukuruan setengah minibus juga pernah menghantam palinggih itu. 

Warga percaya, lokasi tersebut betul-betul dijaga penghuninya secara niskala. Bukti lainnya, ada banyak batu besar berjejer rapi di sebelah palinggih. Inilah disebut warga sisa-sisa material air bah yang menghantam palinggih. "Tapi tidak hancur," imbuhnya.

Junita mengatakan, pesimpangan itu sudah ada sejak lama. Namun atas kesepakatan warga Banjar Nangka, pesimpangan yang awalnya disimbolkan berupa batu besar diganti menjadi palinggih pada 2004. Area sekitar bangunan juga ditata. "Jika malam-malam lewat sini memang ada kesan berbeda," ungkap Junita tanpa menyebut secara pasti yang dimaksud.

Cerita lain, lahar hujan pernah menumbangkan semua pohon yang tertanam di pinggir sungai. Semuanya hanyut. "Palinggih itu memang kuat. Padahal dibuat manusia. Kita percaya kekuatan alam memang ada," imbuh Perbekel Bhuana Giri I Nengah Diarsa. (*)

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia