Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese
Sejarah Desa Tumbak Bayuh

Desa Tumbak Bayuh Ada Setelah Pasukan Wong Samar Kalah Perang

14 Februari 2020, 11: 11: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Desa Tumbak Bayuh Ada Setelah Pasukan Wong Samar Kalah Perang

ADAT : Bendesa Adat Tumbak Bayuh, Ida Bagus Gede Widnyana. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Di Desa Tumbak Bayuh, Kecamatan, Mengwi, Badung, Bali, dahulu  konon ada banyak makhluk halus yang tinggal, sehingga Raja Mengwi kala itu menugaskan dua orang untuk menerabas wilayah hutan angker tersebut. Bagimana kisah Tumbak Bayuh akhirnya bisa ditinggali manusia?

Mendengar nama Tumbak Bayuh tentulah tidak asing bagi warga Badung pada umumnya. Desa yang terletak di Kecamatan Mengwi ini, masih nampak keasriannya dengan hijau sawah menghampar di jalan masuk menuju desa tersebut. Ditemui di kediamannnya, Bendesa Adat Tumbak Bayuh, Ida Bagus Gede Widnyana, 40, menjelaskan bahwa keberadaan Desa Tumbak Bayuh mulai ada ketika Raja Mengwi berkuasa di Bali.


“Dahulu katanya desa ini adalah hutan. Hutannya pun bukan sembarang hutan, tetapi tempat tinggal tonyo (wong samar, setan, dan sejenisnya). Tonyonya konon banyak yang berujud badak.
Akibatnya sampai tahun 1600-an itu tidak ada pemukiman di desa ini,” ujar Ida Bagus Gede Widnyana
kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Selanjutnya datang kala itu menghadap Raja Mengwi, dua saudara kandung, yakni  Dalem Petilik dan Dalem Babadan. Mereka datang dari pengembaraan di Buleleng. Di Mengwi mereka kemudian tinggal, dan  mereka ditugaskan untuk mengekspansi wilayah hutan di selatan, secara sekala maupun niskala. Jika berhasil, mereka bisa memimpin wilayah baru itu.


Sesuai arahan dari Raja Mengwi kala itu, Dalem Babadan dan Dalem Petilik bersama pengikutnya mulai berangkat ke selatan. Hutan yang berada di selatan Buduk ini memang sunyi sepi dan sangat angker.
Dalem Petilik dan Dalem Babadan selanjutnya mempersipkan peralatan tempur berupa tombak. Namun, perang pertama dengan pasukan tonya ternyata kalah. “Tombaknya baya, dan dari sanalah nama desa ini dikenal jadi Tumbak Bayuh,” terang Bendesa Adat yang baru menjabat empat tahun ini.


Akhirnya diputuskan oleh keduanya untuk nunas ica (memohon kekuatan) kepada Yang Kuasa. Dari hasil nunas ica, didapat senjata berupa keris. Senjata itu kemudian digunakan untuk melawan pasukan tonyo. Pengikut Dalem Petilik dan Dalem Babadan pun membuat kembali tombak dengan menebang bambu di hutan. “Perang kedua kemudian berlanjut dan akhirnya pasukan tonyo tersebut kalah. Raja Mengwi pun memenuhi janjinya  memberikan wilayah dari Pantai Batu Bolong sampai Seseh dan ke utara sampai Tangeb sebagai wilayah yang dipimpin kedua saudara itu, di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi,” beber Ida Bagus Gede Widnyana sambil menunjuk arah perbatasan itu.


Tempat pemujaan pun mulai dibangun berbarengan masuknya orang yang ingin bermukim di wilayah baru itu. Dalem Babadan dan Dalem Petilik pun dengan tangan terbuka menyambut mereka. Dua tempat pemujaan yang dibangun di awal adanya Tumbak Bayuh adalah Pura Purwa dan Pura Petilesan. “Selain dua pura itu, banyak juga pura kuno di Desa Tumbak Bayuh, mulai dari Pura Sanak Batur, Pura Batu Jineng, Pura Dalem Purnama, Pura Gunung Sari, Pura Batu Ngaus, Pura Maspait, dan Pura Mastulan,” ucap Ida Bagus Gede Widnyana.


Menurut Bendesa Adat Tumbak Bayuh ini, tujuh banjar yang ada di Desa Tumbak Bayuh
juga punya keistimewaan dari asal muasal namanya. Dimulai dari Banjar Gunung Pande yang berfilosofi gunung yang berarti amerta, dan pande bermakna  membuat perlengkapan untuk menjalani kehidupan. “Makanya, di Banjar Gunung Pande dibangun Pura Purwa sebagai tempat memohon kemakmuran. Sawah pertama juga konon dibuat di Banjar Gunung Pande,” jelasnya.


Selanjutnya ada Banjar Datengan, yang merupakan banjar pertama, sehingga ada Pura Petilesan dan juga sebagai batas dengan wilayah Kaba-Kaba. Lalu ada Banjar Jeroan, sebagai tempat awal mategtegan (istirahat sejenak) usai berperang, dan akhirnya mendirikan rumah untuk tempat tinggal. Kemudian dibuat jalan perempatan, dari sana pula akhirnya  jadi Banjar Pempatan. “Selanjutnya dibangun setra (pemakaman). Nah di Timur setra ini ada pemukiman dibangun, yang akhirnya dikenal jadi Banjar Dangin Sema,” ungkapnya.


Sedangkan Banjar Kelepakan berasal dari badak yang dikuliti (dikelupek) kulitnya, dan terakhir ada Banjar Tiying Tutul, dimana dahulunya di kawasan itu ada bambu yang digunakan untuk tombak untuk perang melawan tonyo.


Pria yang punya hobi memancing ini menjelaskan, perbatasan Desa Adat Tumbak Bayuh di utara adalah Desa Buduk dan Cepaka, sebelah timur ada Buduk dan Canggu, di   selatan Pererenan, dan di sebelah barat adalah Munggu dan Cepaka.


“Dahulu jadi satu desa dinas dengan Buduk, kemudian tahun 1999 pisah menjadi desa dinas tersendiri,” ungkap Ida Bagus Gede Widnyana .


Desa Tumbak Bayuh diakuinya  punya tradisi unik, yakni Siat Tipat Gandu. Tradisi  ini biasa dilaksanakan saat Tumpek Kandang bertepatan dengan piodalan Palinggih Pan Balang Tamak yang ada  di Pura Desa Lan Puseh. "Siat Tipat Gandu ini  bermakna pertemuan dua unsur berbeda yang menghasilkan hal baru, seperti purusa dan pradana. Doanya sendiri ditujukan pada Sang Hyang Tya sebagai Rare Angon dan Ida yang malinggih di Palinggih Pan Balang Tamak,” ujarnya.


Ida Bagus Gede Widnyana menambahkan,  pesertanya dahulu anak-anak sekolah dasar, kemudian diubah menjadi truna truni. Tak hanya itu, siat pun tak lagi menggunakan tipat, kini hanya dengan gandu saja, karena  dianggap sudah mewakilkan pertemuan purusa dan pradana.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia