Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Paska Kasus Pemerkosaan, Sederet Masalah Panti Asuhan Penuai Terkuak

14 Februari 2020, 20: 27: 28 WIB | editor : Nyoman Suarna

Paska Kasus Pemerkosaan, Sederet Masalah Panti Asuhan Penuai Terkuak

SEPI: Suasana di depan panti asuhan yayasan Penuai Indonesia, Jumat (14/2). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Meletupnya kasus pencabulan yang dilakukan oleh mantan Ketua Panti Asuhan Penuai Indonesia Tabanan, Reimal Sipahelut, kini memunculkan persoalan lain, yakni adanya pengelolaan panti yang tidak baik. Bahkan sejumlah pengurus yang memilih keluar sudah mencium gelagat tidak baik dari pengelolaan panti oleh pelaku pemerkosaan terhadap anak asuh di panti tersebut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, seorang pria yang sebelumnya kerap mengantar jemput anak-anak di panti asuhan itu, Dadik Priyo Mulyono, mengakui jika dirinya  kerap kali menemui sejumlah hal janggal terkait pola asuh penghuni panti.

Di antaranya, pada pertengahan tahun 2019 lalu, saat Dadik dan sang istri hendak menjalankan aktivitas rutin di panti yakni doa fajar atau doa bersama yang digelar setiap pukul 04.00 pagi. Saat itu dia melihat salah satu anak asuh perempuan berinisial E tidur di luar kamar, hanya beralaskan tikar. Anehnya, anak itu tidur di asrama laki-laki. E tinggal di panti tersebut bersama ayahnya. "Waktu saya tanya, dia bilang dihukum,” ungkapnya Jumat (14/2).

Ia pun mengakui bahwa para pengurus panti dalam menerapkan pola asuh, memang cenderung keras. Bahkan ketika ada satu anak melakukan kesalahan, maka hukumannya akan berlaku kepada yang lain juga. 

Kecurigaan Dadik terhadap anak panti berinisial E yang kini bersekolah di salah satu SMA di Tabanan itu semakin tinggi, karena beberapa hari setelah kejadian hukuman yang diterima E, istri Dadik mendengar E muntah-muntah di kamar mandi. Saat ditanya penyebabnya, E memilih untuk diam. "Jadi kami pikir anak ini hanya mengalami sakit biasa dan meminta temannya itu untuk memberikan obat," lanjutnya.

Dan kini, ditambahkannya, yang membuat dirinya resah adalah keberadaan E dan sang ayah yang tidak diketahui saat ini. "Katanya sejak dua hari ini E dan bapaknya menghilang. Saya semakin curiga sampai membuat saya tidak bisa tidur karena memikirkannya,” imbuhnya.

Kata Dadik, semakin hari banyak kejanggalan yang ditemuinya dalam pengelolaan panti. Misalnya saja di struktur gereja, ia dijadikan sebagai tim penjangkau untuk penyembuhan orang yang ketergantungan narkoba, hanya saja tidak pernah difungsikan. Anehnya lagi, kartu rehab yang seharusnya diberikan untuk orang yang sakit akibat narkoba, justru diberikan ke orang-orang yang tidak pernah berurusan dengan narkoba. “Di sana ada dana operasionalnya. Sebenarnya dari situ saya sudah merasa ada yang tidak beres. Sehingga saya minta ke pak Reimal agar nama saya dihapus dari struktur itu," paparnya.

Tak hanya itu saja, pria asal Banyuwangi ini menyebutkan bahwa donasi yang diberikan kepada donatur dan juga kucuran dana dari Dinas Sosial jarang dirasakan oleh penghuni panti. “Ada teman saya yang menyumbang. Masing-masing anak panti dijatah Rp 1 juta untuk yang sekolah. Namun, oleh pak Rei, anak-anak yang ada di luar panti juga dimasukkan. Bahkan beberapa anak-anak yang tidak sekolah juga dimasukkan. Tapi ketika orang tua yang dimasukkan namanya itu menuntut haknya, alasanya uang tersebut untuk operasional,” bebernya.

Ia menambahkan, selama ini pengelolaan panti asuhan Penuai Indonesia ini dikelola oleh keluarga dekat dari pelaku. Mulai dari istri pelaku, adiknya, hingga kakak iparnya berinisial HH tersebut. Bahkan kakak kandung Reimal, juga menjadi Ketua Panti Asuhan Penuai Indonesia Cabang Jembrana. Karena berbagai permasalahan yang dianggap Dadik dan sang istri sudah keterlaluan, ia pun memutuskan untuk keluar dari panti tersebut pada Agustus 2019 lalu.

"Menurut saya, yang terpenting adalah masalah anak-anak ini bisa terselesaikan semuanya. Kami siap mendampingi anak-anak panti yang menjadi korban. Kalau keterangan kami bisa membantu proses hukum ini, kami siap. Karena saya sudah mengganggap anak-anak di panti itu sebagai anak saya sendiri,” tandas Dadik.

Ruth Yulianingsih, mantan staf Panti Asuhan Penuai Indonesia Tabanan ini juga menuturkanm bahwa dirinya sempat difungsikan sebagai tukang masak di panti. Menurutnya, anak-anak panti hanya diberikan makanan sayur hasil kebun hidroponik yang ada di belakang panti. Bahkan terkadang tidak diberikan sama sekali. 

Atas kondisi itu, ia beberapa kali mengkritik soal menu makanan untuk anak asuh, namun selalu tidak digubris oleh pengurus panti lainnya. “Kadang rasanya juga hambar karena direbus saja, sampai saya kadang beliin tempe diam-diam supaya anak-anak bisa makan enak. Padahal dana untuk makan itu ada,” bebernya.

Herannya lagi, saat ada kunjungan dari Dinas Sosial Kabupaten maupun Provinsi, Ruth tidak diperbolehkan ikut. Karena dalam laporan kepada pihak Dinas Sosial soal makanan, tercatat dan disampaikan bahwa anak-anak hampir setiap hari disediakan daging ayam, babi dan lainnya. Padahal faktanya, selama Ruth menjadi tukang masak, hampir tidak pernah ada daging. Hal itulah yang membuat Ruth memutuskan untuk keluar dari panti tersebut. "Sebenarnya donasi berupa sembako untuk anak-anak itu banyak, tetapi ditimbun. Sembako ini bukan diberikan kepada anak penghuni panti, tetapi diberikan ke anak lain, biar terlihat pak Rei ini yang memberikan,” lanjutnya.

Parahnya lagi, pengakuan sang anak yang sempat menjadi penghuni panti, ketika ada sumbangan untuk anak panti berupa uang, maka akan dipotong oleh pengurus panti. "Misalnya ada sumbangan yang diberikan langsung oleh donatur kepada anak panti. Setelah donatur pulang, salah satu pengurus inti panti asuhan tersebut akan memotong separuhnya dengan alasan uang itu dititipkan. Namun tidak pernah dikembalikan atau diberikan dalam bentuk sesuatu yang dirasakan langsung oleh anak-anak panti ini. Sejak saat itu saya keluar bareng Pak Dadik. Saya di sana hanya sebulan, sejak Januari 2019 sampai Februari 2019. Tapi keluar resminya bulan Agustus 2019,” jelasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia