Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali
Kisah SMPN 3 Denpasar Raih Juara (1)

Rancang Rompi Anti Peluru III Berbahan Pelepah Pisang

14 Februari 2020, 21: 51: 49 WIB | editor : Nyoman Suarna

Rancang Rompi Anti Peluru III Berbahan Pelepah Pisang

PRESTASI: Siswa SMPN 3 Denpasar menorehkan prestasi luar biasa. Mampu menemukan formula murah dan ramah lingkungan untuk membuat rompi anti peluru. (ISTIMEWA)

Share this      

Rompi Anti Peluru Seri III yang berhasil menyabet medali emas di Thailand, merupakan pengembangan dari Rompi Anti Peluru seri I dan II. Sebelum diadu dalam International Thailand Intventor’s Day (TID) 2020 di Thailand, Rompi Anti Peluru ini juga dilombakan di Jepang.

KETIKA lomba di Jepang, tim Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang dipimpin Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya ini hanya mampu meraih medali silver medal. Kemudian Rompi Anti Peluru Seri I ini dikembangkan lagi ke seri II. Untuk seri II, rompi ini pun menyabet bronze medal di Malaysia. Namun pada pengembangan seri III, baru mampu menyabet gold medal di International Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangkok, Thailand.

Selain meraih medali emas, Rompi Anti Peluru seri III ini juga menyabet Special Award. Material yang digunakan dalam pembuatan rompi ini adalah lapisan selosa dari kain katun, serabut kelapa dan pelepah pisang serta daun ketapang dan jayapadi yang mengandung karbon dan silika.

Ada perbedaan tersendiri dari Rompi Anti Peluru seri I, II, dan III. Untuk yang seri I dibuat belum mengandung lapisan selosa. Setelah di uji dengan revolver 38, ternyata berhasil dan tidak tembus. Hanya saja terdapat retakan di lapisan akhir. Ini memungkinkan terjadinya tembusan dari peluru dan membahayakan nyawa manusia.

Sementara pada rompi seri II, masih dengan material yang sama, namun dibuat lebih tebal dengan menggunakan lapisan selosa dan limbah daun pisang yang kering. Setelah diuji menggunakan revolver yang sama, juga masih terdapat retakan di lapisan akhir yang mungkin bisa menembus rompi. Akhirnya rompi seri II ini pun disempurnakan lagi dan diberi nama Rompi Anti Peluru Seri III.

Pada seri III, Rompi Anti Peluru ini berhasil sempurna. Sebab dengan menggunakan material yang sama, tetapi daun pisang kering diganti dengan pelepah pisang, Sehingga lebih tebal. Peluru dari Revolver 38 tidak tembus dan tidak menimbulkan retakan.

Ditemui di sekolahnya Jumat (14/2) siang, Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya ini menceritakan ide pembuatan rompi anti peluru hingga akhirnya menjadi juara tingkat internasional. Gadis 15 tahun ini menjelaskan, maraknya kejahatan yang terjadi saat ini memaksa polisi dan TNI harus turun tangan untuk menangani kasus tersebut. Mau tidak mau mereka harus menggunakan pelindung untuk menjaga keamanan diri. “Lihat kasus-kasus belakangan ini kan banyak terjadi kejahatan, bahkan sampai ada yang ditembak, jadi terpikir buat rompi ini,” ujar Galuh.

Ditanya perbedaan mengenai rompi anti peluru itu, gadis berkacamata ini menjawab simpel. Hanya beda pada material dan ongkos. “Kalau bedanya sih, punya kami lebih ramah lingkungan. Soalnya terbuat dari limbah. Hemat biaya juga. Kalau rompi polisi itu kan bahannya menggunakan kevlar, jadi mahal. Terus kalau punya kami lebih murah. Tapi fungsinya sama kayak rompi mereka,” tuturnya.

Untuk diketahui, sistem kerja dari rompi anti peluru ini yakni memiliki dua lapisan yakni lapisan selosa dan lapisan material. Selosa ini berada di paling depan, sehingga saat peluru mengenai rompi ini, lapisan selosa akan menyebar energi dari peluru ini. Nantinya sisa energi yang tidak diserap selosa akan membentur lapisan material sehingga tidak tembus.

Produk rompi anti peluru hasil penelitian oleh siswa SMP N 3 Denpasar ini menginginkan memiliki hak paten atas karyanya. “Kalau untuk jual sih ingin juga, cuma kami maunya dipatenkan dulu biar nanti kalau ada yang menawarkan, bisa kami buat. Kami kan sekarang masih siswa, jadi belum paham juga yang begitu-begitu,” ungkapnya polos.

Gadis kelahiran 28 Desember 2004 ini pun mengaku nilai mata pelajaran di sekolahnya sempat anjlok. Pun demikian, support dari orang tua dan sekolah selalu mengalir dan tidak membuat beban bagi dirinya. “Kata guru-guru nilai saya sih turun. Karena banyak dispensasi, banyak izin juga. Belum lagi banyak gak ada di sekolah karena harus lomba berhari-hari. Tapi ya saya nikmatin aja. Sebisa mungkin saya juga akan kejar nilai saya,” ujar putri tunggal dari pasangan I Wayan Ananta Wijaya dan Ni Made Putri Dharma Suari.

Selain dari orang tua, dukungan penuh juga datang dari pihak sekolah. Kepala SMPN 3 Denpasar, I Wayan Murdana berani menjamin siswanya yang berlomba agar terus bersemangat menggali potensi yang dimiliki dan menggali minat bakat mereka. “Untuk siswa-siswa di sini saya berani jamin. Masalah nilainya saya yang menjamin. Kami berikan mereka waktu untuk fokus terhadap kegiatan yang diikuti dan tidak membiarkan mereka terbebani oleh hal lain, termasuk tugas-tugas sekolah. Kami pun memberikan dispensasi kepada mereka selama mengikuti lomba,” tegas Murdana saat diwawancari Koran Bali Express, di ruang kerjanya, Jumat (14/2).

(bx/bay/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia