Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Korona Bikin Oleng Pariwisata Bali, Satu Semester Kehilangan Rp 11,5 T

14 Februari 2020, 23: 34: 38 WIB | editor : Nyoman Suarna

Korona Bikin Oleng Pariwisata Bali, Satu Semester Kehilangan Rp 11,5 T

OLENG : Virus korona bikin oleng pariwisata Bali. Sejumlah objek terlihat lebih sepi dari biasanya. (DOK.JAWA POS)

Share this      

Memasuki awal 2020, industri pariwisata Bali dibikin oleng oleh wabah korona. Wabah virus yang disebut-sebut reinkarnasi dari virus SARS itu membuat arus kedatangan kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali terhenti.

PADAHAL dalam beberapa tahun terakhir, para pelancong dari Negeri Tirai Bambu itu tercatat sebagai wisatawan terbesar kedua setelah Australia dalam hal tingkat kunjungan. Terakhir, pada 2019 lalu, jumlahnya mencapai 1.185.519 dari total 6,3 juta kunjungan wisatawan seluruh dunia ke Bali.

Di sisi lain, Pemerintah Pusat juga sepertinya tidak ingin ambil risiko dengan wabah virus yang mengakibatkan Pneumonia ini. Kebijakan tegas pun diambil melalui Kementerian Perhubungan. Menutup sementara akses penerbangan dari dan ke Tiongkok terhitung mulai 5 Februari 2020 lalu.

Sejak itu, praktis arus kedatangan atau kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali nihil. Itu pun sampai dengan waktu yang tidak bisa dipastikan. Tapi suka tidak suka, kebijakan itupun harus diikuti.

Dan yang membuat terpukul, wabah itu melanda di saat perayaan Imlek pada tahun ini. Momen itu semestinya menjadi masa-masanya high season di Bali. Saat turis Tiongkok biasanya datang ke Bali untuk plesiran. Bahkan sesuai data dari Bali Liang, situasi ini memicu terjadinya pembatalan kunjungan sekitar 15 ribu wisatawan.

Tentu situasi ini membuat pemerintah daerah, lebih-lebih praktisi pariwisata, mesti cari cara untuk meredam dampak Korona bagi indutri wisata di Bali. Berbagai strategi bermunculan. Mulai dari pengalihan pasar ke negara lain. Pengalihan slot penerbangan yang semula ke Tiongkok. Menggarap pasar domestik. Dan berapa cara lainnya agar survive. Bertahan.

Hingga kini belum ada data pasti mengenai seberapa jauh dampak kerugian akibat Korona bagi Bali. Namun bila mengacu pada data tahunan, potensi Pajak Hotel dan Restoran (PHR) dari Bali dalam satu tahunnya berkisar Rp 10 triliun dengan kisaran jumlah kunjungan wisatawan sebesar 6,3 juta sampai 6,5 juta. Itu artinya, dari sisi pendapatan atau income, nilainya mencapai Rp 100 triliun per tahun. Karena PHR nilainya sepuluh persen dari pendapatan.

“Lalu bagaimana dengan potensi PHR dari wisatawan Tiongkok? Kalau kisarannya selama ini 23 persen, berarti Rp 23 triliun. Itu kalau dampak korona ini berlangsung selama satu tahun. Kalau satu semester, berarti separonya, Rp 11,5 triliun pendapatan hilang. Kalau tiga bulan, sekitar Rp 5 triliunan,” jelas pengamat pariwisata, Bagus Sudibya, Jumat (14/2).

Jika dari potensi pendapatan ini 10 persen adalah PHR, itu artinya PHR bisa terpangkas sekitar Rp 1,1 triliun jika korona berdampak selama enam bulan. “Namun kalau benar bisa dalam waktu 3 bulan, itu artinya sekitar Rp 550 miliar, kehilangan PHR,” sambungnya.

Bahkan menurut dia, estimasi yang dia paparkan itu masih perlu diberikan catatan lagi. Dalam artian, itu pun kalau estimasi tersebut didasarkan pada kekosongan wisatawan Tiongkok saja. Belum termasuk wisatawan dari negara lainnya. Khususnya negara-negara tetangga. Macam Singapura, Thailand, maupun Malaysia yang secara nasional memberikan kontribusi besar dalam jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia.

“Jangan lupa lho, Malaysia kontributor terbesar untuk kunjungan wisatawan secara nasional. Kalau ke Bali (urutannya) di bawah. Tapi persoalan ini (Korona) saya rasa sudah menjadi masalah pariwisata nasional,” tegas mantan Ketua BTB (Bali Tourism Board) ini.

Menurutnya, secara karakteristik wisata yang disajikan, kekosongan tamu Tiongkok ke Bali ini akan sangat dirasakan pada wilayah Kuta. Sebab, karakteristik wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali rata-rata melakukan aktivitas berbelanja atau shoping, liburan ke pantai atau beach holiday, serta kuliner. “Wilayah yang direpresentasikan untuk aktivitas itu adalah Kuta. Selain yang suka night life atau surfing yang dilakukan wisatawan Australia,” jelasnya.

Karakteristik ini, sambungnya, sudah terbentuk begitu saja. Dilihat dari karakter wisatawannya maupun daya tarik wisata atau DTW yang tersedia pada satu wilayah. Namun, dengan kondisi seperti sekarang, bukan berarti pusat wisata lainnya tidak merasakannya.

“Kalau ditanya ke Sanur, mungkin kecil hunian (wisatawan Tiongkok) karena lebih didominasi Eropa. Begitu juga Ubud. Tapi dalam keseharian, daerah-daerah ini kena juga. Karena ada juga wisatawan Tiongkok yang datang sekadar kuliner ke wilayah lain. Atau mencari pengalaman wisata yang lain,” jelasnya.

Disinggung kemungkinan dampak yang terjadi terhadap masyarakat yang menggantungkan hidup dari pariwisata, terlebih kekhawatiran banyaknya karyawan yang dirumahkan, Bagus Sudibya setiap orang saat ini mengkhawatirkan itu. Meskipun dirinya sejauh ini belum mendengar kabar adanya perusahaan akomodasi wisata yang sudah mengambil kebijakan seperti itu.

“Saya kira semua orang punya kekhawatiran yang sama. Sekarang yang paling penting adalah apa yang harus dilakukan. Sehingga karyawan jangan sampai dirumahkan. Jangan sampai tidak dibayarkan gajinya. Sekarang yang paling penting menjawab kekhawatiran itu dengan action dan jangan berlama-lama,” tegasnya.

Maksudnya jangan berlama-lama? Menurutnya, dengan situasi seperti sekarang, wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali pasti dalam posisi nol. Sehingga boleh dikatakan, saat ini recovery harus sudah mulai dilakukan. Jangan menunggu waktu lagi.

“Recovery itu tidak seperti makan cabe. Makan sekarang, pedas sekarang. Perlu waktu. Jadi buatlah proposal yang jelas. Dengan kajian akademis yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga bisa diajukan ke Pemerintah Pusat. Apalagi Pemerintah Pusat sudah ada komitmen yang jelas,” ujarnya menggarisbawahi.

Di sisi lain, sambungnya, kebijakan Pemerintah Pusat yang menutup sementara akses penerbangan dari dan ke Tiongkok juga harus diapresiasi. Menurutnya, meskipun itu pahit bagi pariwisata di Bali, kebijakan itu pastinya sudah melalui pertimbangan yang berimbang.

“Artinya tidak dilihat dari satu sisi. Katakanlah, sampai sekarang ini, Indonesia nyaris satu-satunya negara yang belum terpapar korona. Sampai sejauh ini ya. Boleh saja diasumsikan, itu karena adanya kebijakan yang tegas dari Pemerintah Pusat,” ujarnya.

Toh, sambung dia, kebijakan seperti ini bukan sekali dilakukan. Bahkan negara lainnya pun melakukan hal yang sama. Seperti Jepang yang baru-baru ini memutuskan untuk mengkarantina kapal pesiar Diamond Cruise.

“Tentu di dalam ini, mungkin banyak yang merasa kecewa. Tapi ada hal yang lebih besar yang harus dijaga yaitu jangka panjangnya. Bali tidak sekali waktu mengalami situasi seperti ini, meskipun dalam bentuk yang beda. Bom Bali I, Bom Bali II, SARS, MERS, sampai Erupsi Gunung Agung,” tukasnya.

Seperti beberapa skenario yang sudah mengemuka dalam beberapa waktu terakhir, Bagus Sudibya juga menyebutkan pengalihan pasar memang menjadi salah satu solusi yang mesti dilakukan untuk mengatasi kekosongan wisatawan Tiongkok. Ini bisa dilakukan dengan mengkomparasi data kunjungan wisatawan dari negara lainnya.

“Datanya harus valid. Jadi harus diidentifikasi lebih dulu. Australia yang paling dekat. Kemudian Eropa, lalu Amerika. Dan mungkin India. Dari data tersebut, mana yang penerbangannya belum terlayani, inilah kesempatan bagi Kementerian Perhubungan untuk memberikan slot penerbangan baru ke negara yang potensial tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, mengakui akibat dari penghentian penerbangan dari/ke Tiongkok ini Pulau Bali berpotensi kehilangan pendapatan hingga Rp 1 triliun lebih per bulan. "Sejak 5 Februari lalu,  lebih dari 40 ribu pemesanan kamar hotel dibatalkan," jelasnya Jumat (14/2/2020).

Potensi kehilangan pendapatan ini,  dilanjutkan Gus Agung, berdasarkan pehitungan jumlah uang yang dibelanjakan oleh turis Tiongkok yang rata-rata menginap di Bali selama 3,5 hari. Rata-rata Turis Tiongkok yang datang ke Bali membelanjakan uangnya sebesar USD 1.100 atau sebesar Rp 15 juta per orang. "Setiap hari turis Tiongkok yang datang mencapai 3.000-3.500, dan ini dikalikan Rp 15 juta maka potensial loss bisnis mencapai Rp 5 triliun lebih dalam 3 bulan ke depan," paparnya. 

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyebutkan, pada 2019 turis Tiongkok mencapai 1.185.519 orang, atau persentasenya 18,2 persen atau terbesar kedua setelah Australia pada 2019. "Sejak merebaknya virus korona ini, tercatat 22 ribu wisman Tiongkok batal ke Bali,” sebutnya.

Adapun wilayah yang berdampak cukup signifikan adalah Kuta yang penurunan aktuvitas wisatanya mencapai 80 persen.  Hal ini dikatakannya karena kawasan Kuta selama ini memang diisi oleh wisatawan Tiongkok.  

Sedangkan kawasan Ubud,  penurunannya sekitar 5 persen,  Sanur hanya 10 persen, i karena kedua kawasan tersebut, tidak menargetkan wisatawan Tiingkok sebagai pasar utamanya.    

Menparekraf, Wishnutama Kusubandio, mengatakan untuk kondisi ini,  pihaknya mengaku sudah menyusun beberapa agenda. Salah satunya adalah solusi jangka pendek, dengan promosi yang menargetkan pasar wisata baru. "Selain itu, industri pariwisata tidak hanya fokus pada meningkatan angka,  nmun juga pada kualitas dari wisatawan, karena banyak pasar potensial yang belum tergarap, seperti India,  Eropa dan Timur Tengah," urainya. 

Terkait terdampaknya aktivitas ekonomi akibat tidak adanya kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali,  pelaku industri wisata di Tanjung Benoa sejak awal bulan lalu memang sudah ada yang menerapkan penjadwalan ulang pada pekerjanya.  

Wayan Sidhi,  pemilik usaha watersport di Tanjung Benoa yang memang dari awal menggarap pasar wisatawan Tiingkok mengakui oihaknya memang sudah meliburkan sebagian karyawannya akibat adanya pembatalan dari travel agent. "Untuk oekerja kami memang sudah terapkan sistem libur bergilir, ini karena adany pembatalan order dari pihak travel agent," ungkapnya. 

Terkait gaji, Sidhi mengatakan pihaknya tetap memberikan gaji kepada karyawan yang diliburkan,  tapi mereka tidak mendapatkan tips dan uang makan,  sehingga diakuinya penghasilan para karyawannya memang berkurang.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia