Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Barong Ratu Ngurah Sakti Wajib Keliling Saat Galungan dan Kuningan

15 Februari 2020, 10: 38: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Barong Ratu Ngurah Sakti Wajib Keliling Saat Galungan dan Kuningan

PEMANGKU : Pemangku Pura Ratu Ngurah Sakti, Jro Mangku I Wayan Dana. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Tapakan atau sosok yang disakralkan berupa Barong Bangkung di Pura Ratu Ngurah Sakti Desa Kekeran, Badung, punya tradisi keliling desa saat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Seperti apa prosesinya?

Pemangku Pura Ratu Ngurah Sakti, Jro Mangku I Wayan Dana, 65, mengatakan Barong yang berstana di Pura Ratu Ngurah Sakti diibaratkan patih Pura Siwa Bentuyung. Saat piodalan kedua pura yang bersamaan,  barong tersebut menjemput pratima ( benda atau patung yang disakralkan) dari Pura Siwa Bentuyung saat menuju patoyan.

Selain itu, Barong ini juga punya tradisi keliling desa ketika Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di rumahnya yang terletak di belakang Pura Ratu Ngurah Sakti di Jalan Beji, Desa Kekeran, pekan kemarin, Jro Mangku I Wayan Dana, menjelaskan bahwa
Pura Ratu Ngurah Sakti berada di tanah miliknya, namun kini sudah diserahkan untuk jadi tanah pura. Ketika hebdak memasuki pura, ada bangunan dengan pintu besi, seperti sebuah toko. Bangunan yang ada di samping Pura Ratu Ngurah Sakti ini dijadikan   tempat menyimpan gong pura.


Memasuki area utamaning mandala pura, hanya ada satu palinggih dengan batu hitam berdiri megah. Di sebelah selatan palinggih  ada  Sambyangan dengan lukisan Barong. “Disinilah Barong tapakan Ida disimpan,” ujar Jro Mangku I Wayan Dana, sembari berdoa sebelum membuka pintu Sambyangan.
Pura yang berdiri berbarengan dengan Pura Siwa Bentuyung ini, piodalannya berbarengan,  yakni Buda Kliwon Pahang. Dijelaskannya, saat Patirtan, Barong dari Pura Ratu Ngurah Sakti, menjemput pretima Pura Siwa Bentuyung menuju ke Pura Beji. “Balik dari patirtan diantar juga ke Pura Siwa Bentuyung, kemudian baru balik kembali ke Pura Ratu Ngurah Sakti,” ungkapnya. 

Layaknya seorang patih, lanjutnya,  tapakan Ida dari Pura Ratu Ngurah Sakti juga lunga (pergi) keliling desa saat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Upacara malancaran ( jalan jalan) dari tapakan Ida berupa Barong ini, berlangsung selama dua hari. Akan berkeliling desa, diiringi oleh para pamaksan pura.
Pada saat Galungan, acara malancaran akan dimulai pada pukul 12.00  di hari Rabu itu. Usai bersembahyang di pura, maka tapakan Ida dalam bentuk Barong ini mulai malancaran. Hari pertama  perjalanan akan menuju batas sebelah utara Desa Kekeran. Barong dan para pamaksan mulai berjalan kaki dan diiringi suara gamelan menambah sakral upacara itu. Perjalanan di tengah hari itu begitu semangat dilakukan para pamaksan. “Anak-anak pun mengiringi sampai selesai. Biasanya sampai di ujung desa, kami sempatkan istirahat,” ujar pria yang pernah menjadi undagi ini.


Usai istirahat, perjalanan dilanjutkan untuk balik ke pura. "Biasanya hari pertama selesai jam 18. 00 sore,” tambahnya.


Hari kedua dilaksanakan pada Kamis, tepat saat Umanis Galungan, upacara malancaran tapakan Ida lagi dengan rute menuju ke perbatasan selatan Desa Kekeran. Dimulai jam 12 siang, seperti hari pertama.
Jika perjalanan malancaran hari pertama di Galungan menghabiskan waktu sekitar enam jam. Berbeda dengan di hari kedua ini, bisa sampai jam 9 malam. Perbatasan selatan Desa Kekeran dari Pura Ratu Ngurah Sakti lebih jauh dari  perbatasan di sebelah utara. “Walau perbatasan di sebelah Selatan lebih jauh, tetapi pamaksan tetap semangat. Anak-anak juga ramai yang ikut,” beber Jro Mangku I Wayan Dana sumringah.


Berbanding terbalik dengan malancaran saat Galungan. Ketika Kuningan, tapakan Ida dari pura yang diempon 24 Kepala Keluarga (KK) ini, melaksanakan prosesi hari pertama melancaran di hari panampahan Kunngan. “Iya kami memulai hari Jumat atau pas nampah dan hari kedua pas Kuningan, usai sembahyang,” terang Jro Mangku I Wayan Dana.

Tradisi ini selalu dilaksanakan oleh pamaksan Pura Rau Ngurah Sakti. “Kami tidak pernah menghentikan tradisi upacara malancaran ini, pamaksan pun selalu semangat melaksanakannya,” ujarnya.
Soal sejak kapan  tradisi malancaran dilaksanakan, Jro Mangku I Wayan Dana tidak mengetahui secara pasti.


“Saya  tidak tau sejak kapan tradisi upacara malancaran ini dilaksanakan, tetapi kami akan selalu semangat melaksanakannya,” tambahnya lagi.

Tradisi ini dianggap penting karena diyakini, tapakan Barong yang dianggap sebagai patih, mengecek keamanan Desa Kekeran secara sekala dan niskala. Karena itu pula, malancaran dilakukan sampai ke perbatasan desa. Seperti pura kebanyakan saat piodalan, di pura yang hanya memiliki satu palinggih ini, petistiwa magis kerap terjadi. "Tetap saja saat piodalan hal magis seperti karauhan (kesurupan) terjadi pada pamedek dengan aksi menusukkan keris ke tubuh. Tidak hanya itu, pura ini juga sering menjadi tujuan umat untuk memohon perlindungan juga kesembuhan dari sakit, terutama akibat non medis," pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia