Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Warga Dusun Kawanan Blokade Jalan, Tuntut Peternak Babi PT ABS

16 Februari 2020, 19: 19: 36 WIB | editor : Nyoman Suarna

Warga Dusun Kawanan Blokade Jalan, Tuntut Peternak Babi PT ABS

BLOKADE : Warga Dusun Kawanan berjaga di sekitar portal untuk menghalau truk yang datang membawa pakan ternak ke peternakan PT ABS, di Dusun Kawanan, Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

KUBUTAMBAHAN, BALI EXPRESS - Kisruh antara sejumlah warga Banjar Dinas Kawanan, Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng dan peternakan babi PT Anugerah Bersama Sukses (ABS), hingga kini belum mencapai titik temu. Terkini, warga memblokir jalan yang dijadikan akses perusahaan untuk mengangkut pakan ternak babi dan membuang limbah,  Minggu (16/2) pagi.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lokasi, belasan warga memasang portal menggunakan sebatang bambu. Lokasinya sekitar 150 meter, persis di sebelah timur peternakan PT ABS. Warga juga membentangkan spanduk bertuliskan “Anda Tiba di Area Sengketa Lingkungan Hidup”.

Sejumlah warga dengan berpakaian adat madya berjaga-jaga di lokasi. Mereka mendirikan tenda sebagai pos pemantauan untuk menghalau truk yang akan membawa pakan babi ke peternakan.

Aksi ini pun mendapat perhatian serius dari jajaran Polsek Kubutambahan. Bahkan, secara khusus Kapolsek Kubutambahan  AKP Made Mustiada, mendatangi lokasi untuk melakukan negosiasi dengan warga, didampingi Perbekel Bila, Ketut Citarja Yudiarta.

Koordinator aksi, Putu Padma menjelaskan, sebanyak 17 KK terdampak atas keberadaan peternakan babi PT ABS. Belasan KK tersebut memang lokasinya berada di sekitar kandang. Warga, sebut Padma, merasa keberatan dengan bau tak sedap, suara bising hingga lalat sebagai akibat dari keberadaan peternakan tersebut.

“Kami memasang portal ini bukan mengganggu kepentingan umum. Tujuan kami khusus menghambat PT ABS dengan harapan Kelian Adat dan Perbekel bisa turun, sehingga pak mekel dan kelian adat bisa mencabut rekomendasi yang telah diberikan kepada perusahaan untuk mengurus perizinan,” ujar Padma, Minggu siang.

Lanjut Padma, pihaknya bersama belasan KK mengaku sangat terganggu dengan keberadaan PT ABS. Sehingga, dengan dicabutnya rekomendasi yang telah diterbitkan oleh kelian adat dan perbekel, secara otomatis izin yang telah diurus tersebut bisa digagalkan.

“Dulu sekitar tahun 2015, saat dibangun,  perusahaan ini sempat mengadakan sosialisasi kepada kami. Dari awal membangun, kami sudah komplin, mulai dari lahan berdebu. Bahkan kami mau diberikan dana tali kasih Rp 1 juta, tapi kami tolak,” imbuhnya.

Padma menambahkan, perusahaan yang telah beroperasi sejak tahun 2017 ini sempat mengaku hanya akan memeliharan sekitar 50 ekor babi. Namun, dalam perjalanannya, investor dari perusahaan ini justru memelihara babi hingga ribuan ekor.

Lalu, apakah warga terdampak sempat meminta kompensasi? Dijelaskan Padma, selama ini pihaknya mewakili warga terdampak sempat bernegosiasi dengan pihak ABS. Pihaknya meminta agar perusahaan bisa memberikan kompensasi kepada warga Rp 400 juta selama 5 tahun.

“Hitung-hitungannya, misalnya kami mengalihkan dana per bulan untuk bayar BPJS kelas satu Rp 80 ribu, dikali untuk 17 KK. Kalau dihitung selama lima tahun bayar BPJS, maka dapat angka Rp 400 juta. Tapi kami minta agar ABS membayar di depan kepada warga terdampak. Sampai kini pihak ABS tidak siap membayar sejumlah itu. dan kami pun belum menerima sepeser pun uang dari pihak ABS,” bebernya.

Ditanya sampai kapan portal akan dipasang, Padma mengaku, tidak akan menghalangi karyawan PT ABS untuk melintas di jalan itu. Namun, Padma menegaskan, hanya menghalangi truk pengangkut pakan ternak ke dalam kandang, maupun kendaraan pengangkut limbah dari PT ABS ke Bulian untuk pupuk kebun buah naga.

“Warga memang kesal karena sebagai penyanding tidak pernah menandatangani dari pengurusan izin terdahulu. Jadi kapan berita acara pencabutan rekomendasi dikeluarkan, maka saat itu kami akan cabut portalnya,” tegasnya.

Atas aksi blokade jalan tersebut, Perbekel Bila, Ketut Citarja Yudiarta mengklaim, telah bersurat kepada Polres Buleleng untuk dapat memediasi agar suasana tetap kondusif. Pasalnya, jalan yang diblokade warganya tersebut berstatus jalan kabupaten yang digunakan masyarakat umum.

Mekel Citarja tak menampik, sehari sebelum diblokade, koordinator aksi, Putu Padma sempat menghubungi dirinya melalui pesan WhatSapp (WA). Namun pihaknya menghimbau agar warga tidak melakukan blokade.

“Saya sudah imbau agar tidak diblokade, karena kan itu jalan umum. Saya sarankan kepada mereka, kalau memang masalahnya limbah, sebaiknya  kita kawal, bagaimana pengelolaan limbah agar mengikuti SOP, itulah yang kami komunikasikan bersama-sama. agar semua berjalan baik,” akunya.

Lalu bagaimana dengan tuntutan warga untuk mencabut rekomendasinya? Dijelaskan Citarja, pihaknya mengaku akan siap melakukan mediasi. “Kapan saja bisa (mediasi, Red). Kalau memang harus saya berkoordinasi dengan bupati, ya saya siap. Kapan pun mau,” singkatnya.

Terpisah, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Manajer PT ABS, Made Widyana enggan berkomentar. Widyana meminta koran ini untuk datang menemuinya secara langsung di kantornya di areal peternakan.

“Maaf  nggih, besok saja. Karena hari ini saya libur. Tidak bisa saya jelaskan melalui telepon,” singkatnya sembari menutup telepon.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia