Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Es Campur Legendaris di Tabanan, Seperti Rasa yang Pernah Ada

16 Februari 2020, 20: 05: 04 WIB | editor : Nyoman Suarna

Es Campur Legendaris di Tabanan, Seperti Rasa yang Pernah Ada

LEGENDARIS : Pan Yasa berjualan es campur di Jalan Kaswari, Tabanan sejak tahun 1963 hingga kini. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

Es campur merupakan salah satu hidangan yang paling dicari saat cuaca panas. Untuk menemukan warung yang menjual es campur di seputaran Kota Tabanan juga tak sulit. Namun ada seorang kakek penjual es campur yang sudah melegenda dan memiliki banyak pelanggan setia. Seperti apa ceritanya

KAKEK itu berjualan menggunakan rombong sederhana di Jalan Kaswari, Tabanan. Atau tepatnya jalan satu arah dari arah kota menuju daerah Penebel dan sekitarnya. 

Sekilas tak ada yang spesial dari rombong tersebut. Meskipun sederhana, rombong itu terlihat bersih. Si penjual tampak serius membuat es campur untuk para pembeli yang sudah menunggu. 

Satu per satu campuran mulai dari dawet, bijik, hingga roti tawar digabungkan dalam mangkuk. Kemudian ia mengambil es batu, lantas menyerutnya menggunakan alat serut yang masih tradisional. Serutan es yang menggunung pun disiram gula dan susu. Tangannya begitu terampil, menunjukkan bahwa hal itu sudah biasa ia lakukan.

Namanya I Nyoman Paing, 69, biasa dipanggil Pan Yasa. Ia berasal dari Ababi, Karangasem, namun sudah lama tinggal di Tabanan. Kepada wartawan ia menuturkan bahwa dirinya merantau ke Tabanan sejak tahun 1951 karena ikut bibinya. Kala itu dia baru berusia 7 tahun. 

Kemudian sejak tahun 1963, tepatnya

tujuh hari sebelum Gunung Agung meletus, dia memutuskan untuk berjualan es campur demi menyambung hidup. "Dulu saya berjualan di sekitar Gedung Mario, tapi kondisi gedung tidak seperti sekarang ini. Dulu di sana merupakan terminal bus jurusan Penebel dan Senganan," ujarnya.

Semenjak terminal bus dipindahkan, ia memutuskan berjualan di Jalan Kaswari sampai saat ini. Wajar saja Pan Yasa sudah memiliki banyak pelanggan setia. Harganya pun cukup terjangkau, hanya Rp 5.000.

Menurutnya, satu hal yang selalu dijaga Pan Yasa sejak dulu hingga saat ini adalah rasa es campur yang tidak pernah berubah, sehingga hingga saat ini tetap memiliki penggemar. "Saya tidak memakai pewarna buatan. Saya juga tidak pakai pemanis buatan, yang alami-alami saja," imbuhnya sembari memperbaiki alat bantu dengar yang ia pakai.

Seperti untuk pewarna dawet, ia menggunakan don kayu sugih atau daun suji, sehingga warnanya tidak begitu mencolok seperti warna dawet dan bijik pada es campur modern kebanyakan. Namun rasanya berani bersaing. Es campur buatan Pan Yasa enak dan pas di lidah. Rasa manisnya pun tidak membuat eneg.

Sementara itu, salah seorang pelanggan setia es campur Pan Yasa, Ni Nyoman Madri, 45, mengatakan, yang membuat dia menggemari es campur tersebut adalah rasa gulanya yang tidak tergantikan. Tidak membuat eneg bahkan ada rasa sedikit kecut di sela rasa manisnya yang pas. "Biasanya kalau makan es campur agak eneg karena terlalu manis, kalau ini tidak. Manisnya pas dan segar," ujarnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia