Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Sepasang Kekasih di Denpasar Buka Warung Makan, Bayar Seikhlasnya

16 Februari 2020, 20: 16: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sepasang Kekasih di Denpasar Buka Warung Makan, Bayar Seikhlasnya

SEIKHLASNYA: Warung makan milik pasangan kekasih Putu Agus Herdiawan dan Ni Wulan Asmara Ayu di Jalan Cempaka, Denpasar Utara, Denpasar, Bali, ini selalu ramai meski hanya bukaJumat dan Sabtu saja. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Membangun usaha memang tidaklah mudah. Perlu rencana yang matang dan konsep yang pas. Dibutuhkan modal yang tak sedikit pula. Namun berbeda dengan pasangan kekasih Putu Agus Herdiawan dan Ni Wulan Asmara Ayu. Dengan modal nekat, mereka mencoba berjualan nasi campur dengan brand bayar seikhlasnya. Bayar dengan ikhlas? Serius?

Ya, itulah yang dilakukan pasangan kekasih ini. Dengan mengambil tempat di Jalan Cempaka, tepat di depan SMK Teknologi Wira Bhakti, Denpasar, mereka menawarkan menu masakan rumahan. Kemasannya biasa saja, seperti kemasan warung makan pada umumnya. Lauk teman nasi pun dipilih seperti ayam suir, ikan pindang, tempe manis dan mie. Agus dan Wulan berjualan dengan memanfaatkan bagian belakang mobil miliknya. Di samping mobil terdapat box tempat pembeli memasukkan uang ketika berbelanja. Nasi campur bayar seikhlasnya ini buka dari jam 9 pagi sampai habis. Mereka memilih waktu weekend, yakni setiap Jumat dan Sabtu. Dan pada hari Minggu terkadang mereka hadir di acara Car Free Day, Renon.

Sepasang Kekasih di Denpasar Buka Warung Makan, Bayar Seikhlasnya

SEIKHLASNYA: Warung makan milik pasangan kekasih Putu Agus Herdiawan dan Ni Wulan Asmara Ayu di Jalan Cempaka, Denpasar Utara, Denpasar, Bali, ini selalu ramai meski hanya bukaJumat dan Sabtu saja. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)

Awal merintis usaha itu, mereka terinspirasi dari pedagang-pedagang serupa yang menjajakan dagangannya dengan mobil. Terpikirlah oleh mereka untuk membuat usaha yang sama namun dengan konsep yang unik.

“Awalnya kami lihat di seputaran Renon  waktu Car Free Day. Kok mereka bisa berjualan seperti itu. Akhirnya kami putuskan untuk buat yang seperti itu. Tapi yang bedalah dari yang mereka lakukan biasanya. Jadi kami pikir bagaimana untuk menjalaninya dengan ikhlas. Setelah itu muncul ide lain lagi, kenapa gak jualan dengan bayar seikhlasnya aja,” tutur Wulan saat ditemui di Jalan Cempaka.

Usaha nasi campur bayar seikhlasnya yang mereka rintis itu sudah berjalan sekitar satu bulan lebih. Awal membuka usaha, mereka sempat merugi. “Awal-awal itu memang gak sebanding. Sempat marah-marah juga karena apa yang kami mau di luar ekspektasi. Tapi kembali lagi ingat ke konsep awal, kami jualan dengan ikhlas. Takut juga kemakan omongan sendiri,” sambung Wulan.

Mereka pun tak tahu sampai kapan konsep bayar seikhlasnya akan dipakai. Sebab prinsipnya adalah untuk jualan. Melayani pembeli dengan baik, tanpa memikirkan keuntungan. “Pokoknya kami ikhlasin aja. Sampai kapan? Kami tak tau. Pokoknya jalan aja. Astungkara berkah. Dan sekarang kami sudah mulai punya pelanggan. Sudah ada yang mulai katering sama kami. Ya kami terima saja untuk brand awal,” imbuh Agus.

Pelanggannya pun lebih banyak pelajar di sekitar Jalan Cempaka dan juga para pedagang beserta pelanggannya yang nongkrong di pasar. Selain rasanya yang khas masakan rumahan dan enak, harga yang tidak ditentukan itu membuat gerai mobil mereka ramai.

Namun disamping niat tulus mereka untuk ikhlas berjualan, ada saja niat jahil dari para pelanggannya. Kelakuan mereka yang membuat Agus dan Wulan tarik nafas panjang tak lantas dendam dan menyerah. Mereka tetap ikhlas. Sebab mereka yakin akan rejeki setiap insan. “Ada tuh yang begitu. Kan ikhlas, ngapain mesti bayar. Kadang bikin kesal. Cuma ya balik lagi. Ikhlas. Rejeki udah diatur Tuhan. Ada lagi yang beli 15 bungkus dengan uang Rp 15 ribu. Ada kok. Terus ada juga yang beli bayarnya pakai doa. Alasannya karena memang gak bawa uang, dompet ketinggalan tapi lapar pengen makan. Ada juga. Tapi kami tetap kasih. Membuat orang bahagia dan tidak kelaparan adalah bagian dari amal,” tutur Agus dan Wulan sembari merapikan gerainya. (dhi)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia